:: YA ALLAH, KEKALKAN PERSAHABATAN DAN PERSAUDARAAN KAMI KELAK DI SURGAMU ..





Diriwayatkan, bahwa :
Apabila penghuni Syurga telah masuk kedalam Syurga, lalu Mereka tidak menemukan Sahabat Sahabat mereka yang selalu bersama mereka dahulu di Dunia.

Mereka bertanya tentang Sahabat Mereka kepada Allah subhana wa Ta'ala 
"Yaa Rabb..
Kami tidak melihat Sahabat-sahabat kami yang sewaktu di Dunia Shalat bersama kami, Puasa bersama kami dan berjuang bersama kami."

Maka اللّهُ سبحانه و تعالى berfirman:
"Pergilah ke neraka, lalu keluarkan Sahabat Sahabatmu yang di hatinya ada Iman walaupun hanya sebesar zarrah" (HR. Ibnul Mubarak dalam kitab "Az-Zuhd").

Al-Hasan Al-Bashri berkata: " (karenanya) Perbanyaklah Sahabat Sahabat Mu'minmu, yang selalu mengajak pada kebaikan, karena dengan seijin Allah, mereka memiliki Syafa'at pada hari kiamat".

Ibnul Jauzi pernah berpesan kepada Sahabat Sahabatnya sambil menangis

Jika kalian tidak menemukan aku nanti di Syurga bersama kalian , maka tolonglah tanyakan tentang aku kepada Allah Ta'ala
 

Wahai Allah , Rabb kami,
Karuniakanlah kepada kami Sahabat-Sahabat yang selalu mengajak kami untuk Tunduk Patuh & Taat Kepada Syariat-Mu..
Dan kekalkanlah kami serta rahmatilah kami kelak di surga MU.
Segala puji hanya bagi Mu , dan shalawat salam bagi junjungan kami Nabi Kekasih hati Muhammad shalallahu alaihiwasallam dan kel beserta para sahabat.


Aamiin ya Robbal alamin


:: DZIKIR SINGKAT PAHALA HEBAT





Bismillahirrahmanirrahim ..

Sahabat, kadang kita hanya mempunyai waktu istirahat sedikit seusai mengerjakan shalat sampai rasanya tidak sempat berdzikir.

Namun, Baginda Rasulullah Saw telah mengajarkan kita DZIKIR SINGKAT yang pahalanya sama dengan dzikir berjam-jam

Ini bacaannya, diulang 3 kali:

♥ SubhanAllaahi wabihamdihi, 'adada khalqihi waridha nafsihi wazinata 'arsyihi wamidaada kalimatihi ♥

"Maha Suci Allah dengan segala puji bagi-Nya, sebanyak hitungan makhluk-Nya, menurut keridhoan-Nya, menurut arsy-Nya, dan sebanyak tinta kalimat-Nya"

*****


سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقَهِ وَرِضَى نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

"Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya; sebanyak bilangan makhluk-Nya, serela diri-Nya, setimbangan 'arsy-Nya, dan sebanyak tinta (bagi) kata-kata-Nya." Tiga kali (HR Muslim dari Juwairiyah)

Dari Juwairiyah Ummul Mukminin radhiyallahu 'anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi meninggalkannya pagi-pagi untuk shalat Shubuh. Pada waktu itu Juwairiyah berada di masjid (ruangan tempat ibadah)nya. Kemudian, Nabi kembali di waktu dhuha sedangkan Juwairiyah masih duduk berdo'a. Nabi bersabda, "Engkau masih dalam keadaan seperti pada waktu aku meninggalkanmu?" Juwairiyah menjawab, "Iya." Bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Aku telah mengucapkan empat kalimat setelah meninggalkanmu –tiga kali— seandainya ditimbang dengan apa yang engkau ucapkan sejak hari ini pasti mengimbanginya. Kalimat itu adalah 'Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya; sebanyak bilangan makhluk-Nya, serela diri-Nya, setimbangan 'arsy-Nya, dan sebanyak tinta (bagi) kata-kata-Nya.'"     


Untuk mendapatkan pahala, yang penting kuatnya keinginan dan kemauan kita untuk melaksanakannya ...

Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ..

:: SUBHANALLAH, BEGITU BANYAKNYA KEUTAMAAN BERDZIKIR LAA ILAAHA ILALLAH


Bismillahirrahmanirrahim ..

1. Ibnu Abid Dunya beserta Imam Baihaqi meriwayatkan dari Abu Hurairah ra: “Malaikat maut menghampiri seorang laki-laki yang telah mati, lalu ia meneliti seluruh anggota tubuhnya, namun ia tidak menemukan amal kebajikan di dalamnya. Kemudian ia membelah hatinya, ia juga tidak menemukan amal kebajikan di dalamnya, lalu dibuka mulutnya, ditemukan lidah yang melekat pada bagian atas mulut sedang membaca “Laa ilaaha illaLlaah”, maka diampuni segala dosanya karena adanya kalimat yang ikhlas itu.” (HR. Thabrani, Baihaqi, Al-Khatib)

2. Ber-dzikir Laa ilaaha illaLlaah memperbarui iman seseorang.
Rasulullah saw bersabda, “Perbaruilah iman kalian.” Sahabat bertanya, “Bagaimana cara kami memperbarui iman, wahai Rasulullah?” “Perbanyaklah membaca Laa Ilaaha Illallah.” (HR. ahmad)

3. Ber-dzikir Laa ilaaha illaLlaah menyelamatkan dari siksa api neraka.
Rasululah saw bersabda, “Allah telah mengharamkan api neraka bagi orang yang membaca Laa ilaaha illallah semata-mata mengharap ridha Allaah.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah SWT berfirman, “Laa ilaaha illallah adalah benteng-Ku, barangsiapa masuk di dalamnya, ia selamat dari siksa-Ku.” (HR. Abu Nu'aim)

4. Dengan ber-dzikir Laa ilaaha illallaah akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan bersinar wajahnya.
Rasulullah saw bersabda, “Tiada seorang hamba membaca Laa ilaaha illaLlaah sebanyak 100 kali kecuali Allaah bangkitkan dia di hari kiamat dalam keadaan bersinar wajahnya seperti rembulan di malam bulan purnama.” (HR. Ad-Dailami)

5. Ber-dzikir Laa ilaaha illaLlaah lebih utama dari seisi langit dan bumi.
Imam Nasa’i meriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudhri ra: Nabi saw bersabda, “Nabi Musa as berdoa, “Wahai Tuhanku, ajarkanlah kepadaku tentang sesuatu untuk berdzikir kepada-Mu.” Maka Allah berfirman, “Ucapkanlah Laa ilaaha illaLlaah.” Lalu Nabi Musa berdoa lagi, “Wahai Tuhanku, setiap hamba-Mu membaca ini, saya ingin sesuatu yang istimewa untukku.” Maka Allah berfirman lagi, “Wahai Musa, andaikata tujuh petala langit dan penghuninya serta tujuh lapis bumi diletakkan di sebelah timbangan kalimat “Laa ilaaha illaLlaah”, niscaya akan lebih berat kalimat “Laa ilaaha illaLlaah”, melebihi dari semua itu.”

6. Ber-dzikir Laa ilaaha illaLlaah membuat iblis berputus asa dalam mencelakakan diri orang yang membacanya.
Nabi saw telah bersabda, “Biasakanlah membaca kalimat “Laa ilaaha illaLlaah” dan istighfar, perbanyaklah membaca keduanya. Sesungguhnya iblis telah berkata, “Aku telah membinasakan manusia dengan dosa, namun mereka membinasakan aku dengan ucapan “Laa ilaaha illaLlaah dan istighfar”, ketika dalam keadaan yang seperti itu maka aku binasakan mereka dengan hawa nafsu, dan mereka mengira bahwa dirinya telah mendapat hidayah.” (HR. Abu Ya`la)


7. Ber-dzikir Laa ilaaha illaLlaah merupakan harga Surga.
Nabi shallaLlaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
”Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘laa ilaaha illaLlaah’, maka dia akan masuk surga” (HR. Abu Dawud).

Dari Abu Dzar ra, berkata, Nabi saw bersabda, “Tidak ada seorang hambapun yang mengucapkan Laa ilaaha illaLlaah kemudian dia mati diatas keyakinan tersebut kecuali dia masuk surga.” (HR. Bukhari).

Dari Muadz bin Jabal ra, Rasulullah saw bersabda, “Kunci-kunci surga ialah ucapan syahadat, Laa ilaaha illallaah.” (HR. Ahmad).


8. Ber-dzikir Laa ilaaha illaLlaah menghindarkan diri dari siksa-Nya.
Dari Ali ra, berkata Rasulullah saw kepadaku, “Jibril as berkata, Allah Azza wa Jalla berfirman, “Sesungguhnya Akulah Allah. Tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku. Barangsiapa mendatangi-Ku dengan mengucapkan Laa ilaaha illallaah dengan ikhlas, maka ia masuk dalam lindungan-Ku. Dan barangsiapa masuk dalam lindungan-Ku, maka ia aman dari siksa-Ku.” (HR. Abu Nuaim).

Dari Ibnu Abbas ra, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, “Tertulis di pintu surga, “Sesungguhnya Akulah Allah, tiada Tuhan yang patut disembah selain-Ku. Aku tak akan menyiksa orang yang mengucapkannya.” (HR. Abu Syekh).

Rasulullah saw bersabda, “Kalimat Laa ilaaha illaLlaah tetap selalu berguna bagi orang yang mengucapkan (membacanya) dan dapat menghindarkan bala’ dan siksa dari mereka, selama mereka tidak meremehkannya.” (HR. Al Ashabani).


9. Ber-dzikir Laa ilaaha illaLlaah sebaik-baik kebaikan yang mengganti keburukan.
Dari Syamr bin Athiyyah, dari beberapa orang gurunya, dari Abu Ad Darda ra dia berkata, aku berkata, “Ya Rasulullah! Berwasiatlah kepadaku!” Rasulullah saw bersabda, “Apabila engkau melakukan suatu kejahatan, maka ikutkanlah kejahatan itu dengan amalan yang baik, karena hal itu akan menghapusnya.” Aku berkata, “Ya Rasulullah, apakah kalimat Laa ilaaha illaLlaah termasuk diantara kebaikan?” Rasulullah saw bersabda, “Kalimat itu adalah sebaik-baik kebaikan.” (HR. Ahmad).

Dari Anas ra, sabda Rasulullah saw “Tiada seorang hamba pun yang mengucapkan Laa ilaaha illallaah pada suatu waktu, malam atau siang hari, kecuali akan dihapuskan dari catatannya amal-amal buruknya, bahkan keburukan itu diganti dengan kebaikan.” (HR. Abu Ya’la).

Dari Ummu Hani ra, Rasulullah saw bersabda, “Laa ilaaha illaLlaah tidak dapat ditandingi oleh amal apapun. Dan kalimat ini tidak akan meninggalkan dosa sedikitpun.” (HR. Ibnu Majah).


10. Ber-dzikir Laa ilaaha illaLlaah menghapuskan dosa.
Dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah saw bersabda, “Ajarilah anak-anakmu ‘Laa ilaaha illaLlaah’ ketika mereka mulai berbicara. Dan talkinkanlah kepada mereka ketika menjelang wafatnya dengan ‘Laa ilaaha illaLlaah’. Sesungguhnya, barangsiapa ucapan pertamanya ‘Laa ilaaha illaLlaah’ dan ucapan yang terakhirnya juga ‘Laa ilaaha illaLlaah’, lalu ia hidup selama seribu tahun, maka ia tidak akan ditanya tentang satu dosa pun.” (HR. Baihaqi).

Dari Anas ra, sesungguhnya Abu Bakar ra menjumpai Nabi saw dalam keadaan bersedih. Nabi saw bertanya, “Mengapa kamu nampak sedih?” Jawab Abu Bakar ra “Ya Rasulullah, kemarin malam keponakanku hampir meninggal dunia.” Lalu beliau bersabda, “Apakah engkau telah mentalqinkannya dengan Laa ilaaha illallaah?” Sahut Abu Bakar ra “Ya, sudah kulakukan.” Sabda beliau, “Apakah ia membacanya?” Jawabnya, “Ya, ia membacanya.” Sabda beliau, “Ia wajib masuk surga.” Abu Bakar ra bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana jika orang hidup membaca kalimat ini?” Beliau bersabda, “Ia lebih menghapuskan dosa-dosanya. Ia lebih menghapuskan dosa-dosanya.” (HR. Dailami).

Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya Allaah Ta’ala memiliki sebuah tiang yang terbuat dari Nur terletak di hadapan Arsy-Nya, jika ada seorang hamba yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illaLlaahu’, maka bergetarlah tiang itu. Allaah berfirman, “Berhentilah.” (tiang itu) menjawab, “Bagaimana aku dapat berhenti, sedangkan Engkau belum mengampuni orang yang mengucapkannya?” Firman Allaah, “Sesungguhnya Aku telah mengampuninya.” Maka barulah tiang itu berhenti.” (HR. Al Bazzar).


11. Allaah SWT teman duduk orang yang ber-dzikir Laa ilaaha illaLlaah dan pasti akan berjumpa dengan-Nya.
Firman Allaah SWT dalam Hadits Qudsi, “Allah SWT mengirimkan wahyu kepada Nabi Musa as, “Ya Musa! Apakah engkau senang Aku berdiam bersamamu dalam rumahmu?” (mendengar itu) Nabi Musa tunduk bersujud kepada Allah kemudian berkata, “Ya Rabbi, bagaimana mungkin hal itu?” Allah berfirman pada Musa, “Ya Musa! Apakah tidak engkau ketahui bahwa Aku teman duduk bagi orang yang berdzikir pada-Ku? Dan (lebih dari itu) di mana pun hamba-Ku mencari Aku, maka pasti menjumpai-Ku.” (HQR. Ibnu Syahin, dari Jabir ra)

12. Dengan ber-dzikir Laa ilaaha illaLlaah akan mendapat syafa'at Rasulullah saw.
Abu Hurairah ra bertanya kepada Rasulullah saw, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling bahagia dengan memperoleh syafaatmu pada hari Kiamat kelak?” Beliau menjawab, “Aku telah mendugamu, wahai Abu Hurairah, bahwa kulihat keinginan besarmu terhadap hadits. Orang yang paling beruntung dengan syafaatku pada hari Kiamat ialah orang yang mengucapkan ‘Laa ilaaha illallaah’ dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya.” (HR. Bukhari).

Dari Umar ra, Rasulullah saw bersabda, “Ketika Adam as telah berbuat suatu dosa, maka saat ia menengadahkan kepalanya ke langit, ia berkata, “Aku memohon kepada-Mu, dengan wasilah Muhammad, ampunilah diriku.” Maka Allah mewahyukan kepadanya, “Siapakah Muhammad?” Adam as menjawab, “Maha Berkah Nama-Mu, ketika Engkau ciptakan daku, aku tengadahkan kepalaku ke Arsy-Mu dan ternyata tertulis di dalamnya ‘Laa ilaaha illallaahu Muhammadur Rasuulullaah.’ Maka kuketahui bahwa Muhammad itu seseorang yang derajatnya tiada seorang pun yang sederajat dengannya, sehingga Engkau letakkan namanya berdampingan dengan nama-Mu.” Lalu Allah menurunkan wahyu padanya, “Wahai Adam, sesungguhnya ia adalah Nabi yang terakhir dari anak keturunanmu. Seandainya tidak karena ia, maka tidak Ku ciptakan dirimu.” (HR. Thabrani, Hakim, Abu Nu’aim, Baihaqi).


13. Ber-dzikir Laa ilaaha illaLlaah akan menghindarkan dari penderitaan menjelang maut, kegelapan dan adzab kubur, serta mahsyar.
Dari Yahya bin Thalhah bin Abdullah ra bercerita, “Suatu ketika, terlihat Thalhah bersedih, maka orang-orang bertanya, “Mengapa kamu bersedih?” Ia menjawab, “Sesungguhnya kudengar Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya aku mengetahui sebuah kalimat yang tiada seorang hamba membacanya menjelang mautnya, kecuali akan Allah hindarkan darinya segala penderitaannya dan wajahnya akan bersinar, dan akan ia lihat apa yang mengembirakannya.” Namun belum sempat kutanyai beliau kalimat apakah itu hingga wafatnya.” Umar ra berkata, “Sesungguhnya aku mengetahui kalimat itu.” Ia menyahut, “Apa itu?” Ia berkata, “Aku tidak mengetahui sebuah kalimat yang lebih agung daripada kalimat yang ia perintahkan pamannya dengannya, yaitu ‘Laa ilaaha illallaah’ ia berkata, “Demi Allaah, itulah kalimatnya. Demi Allaah itulah kalimatnya.” (HR. Baihaqi).

Ibnu Abbas ra berkata, “Suatu ketika Jibril as mendatangi Rasulullah saw ketika itu beliau sedang sangat sedih. Jibril as berkata, “Allah mengirim salam untukmu. Dan melihatmu seperti ini, Dia bertanya, “Ada apa?” (padahal Allah Maha Mengetahui isi hati makhluk-Nya. Ini hanya menunjukkan penghormatan kepada Nabi saw). Jawab beliau, “Wahai Jibril, aku sangat memikirkan, bagaimana umatku pada hari Kiamat nanti.” Jibril bertanya, “Umatmu yang kafir atau yang muslim?” Sabda Nabi saw “Aku khawatir atas kaum muslimin.” Lalu Jibril membawa Nabi saw mengunjungi kuburan kaum muslimin dari Banu Salamah, Jibril memukul salah satu kubur itu dengan sayapnya, sambil berkata, “Dengan ijin Allah, bangkitlah kamu.” Lalu bangkitlah seseorang yang sangat tampan, lalu ia mengucapkan. “Laa ilaaha illallaahu Muhammadar rasuulullaahi, Alhamdulillaahi rabbil’aalamiin.” Kemudian Jibril menyuruhnya, “Kembalilah ke tempatmu.” Sabda Nabi saw “Seseorang akan dibangkitkan menurut keadaan ketika matinya.”

Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah saw bersabda, “Bukanlah atas ahli Laa ilaaha illallaah kegelapan di kubur mereka dan juga tidak di Mahsyar. Seakan-akan aku melihat ahli Laa ilaaha illallaah bangkit dari kuburnya sambil mengibaskan debu dari kepalanya lalu berkata, “Segala puji bagi Allaah yang telah menjauhkan kami dari kesedihan.” Riwayat lain menyebutkan bahwa ahli Laa ilaaha illallaah tak akan mengalami kegelapan saat mati, atau saat di kubur.” (HR. Thabrani, Baihaqi).

14. Dengan ber-dzikir Laa ilaaha illaLlaah pintu langit sampai Arsy akan terbuka dan tidak ada hijab dengan Allah.
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seseorang hamba membaca Laa ilaaha illaLlaah, kecuali akan dibukakan baginya pintu langit hingga Arsy, selama ia menghindarkan diri dari dosa-dosa besar.” (HR. Tirmidzi).

Dari Anas ra, Rasulullah saw bersabda, “Tiada sesuatu pun kecuali di antara ia dengan Allaah ada hijab, melainkan ucapan Laa ilaaha illallaah, dan doa seorang bapak (untuk anaknya).” (HR. Ahmad, Ibnu Mardawaih).


لا إله إلا الله ... لا إله إلا الله ... لا إله إلا الله ...
الله ... الله ... الله ... الله ... الله ... الله ... الله ...


Wallahu a'lam bishawab

:: JALAN PENUMBUH CINTA KEPADA ALLAH



Bismillahirrahmanirrahim ..

Ibnul Qayyim rahimahullâh menyebutkan sepuluh sebab yang akan menumbuhkan dan menambah rasa cinta seorang hamba kepada Rabb-nya.

Berikut sepuluh sebab tersebut.:


1. Membaca Al-Qur`ân dengan tadabbur dan memahami maknanya.

2. Memperbanyak ibadah nafilah (sunnah) setelah menunaikan ibadah-ibadah wajib. 


3. Memperbanyak dzikir kepada Allah dalam segala keadaan.

4. Lebih mendahulukan pelaksanaan dari apa yang dicintai oleh Allah, walaupun hal tersebut menyelisihi hawa nafsunya.

5. Membawa hati untuk mencermati nama-nama dan sifat-sifat Allah dan menelusuri taman-tamannya.

6. Menyaksikan kebaikan, kebajikan dan nikmat-nikmat Allah kepada makhluk-Nya.

7. Menundukkan diri di hadapan Allah Subhânahu wa Ta’âla.

8. Berkhalwat dan bermunajad kepada-Nya di waktu malam, terkhusus pada sepertiga malam terakhir.

9. Duduk dengan orang-orang shalih.

10. Menghindari segala sebab yang bisa memisahkan antara hatinya dengan Allah ‘Azza wa Jalla.

Tentunya sepuluh sebab di atas bersumber dan dari berbagai keterangan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Semoga Allah Ta'ala membukakan rahmatNYA bagi kita dan menjadikan kita semua sebagai orang-orang yang senantiasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan dicintai NYA ...
اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ

 

Wallâhu Ta’âla A’lam.
Barakallahufikum ...

:: BERENANG MELALUI LAUTAN TADABUR AL QUR'AN ..

Bismillahirrahmannirrahim ...

Barangsiapa yang hendak sampai ke daratan kekusyukan, maka hendaknya dia berenang melalui lautan tadabbur (mengkaji dan menghayati) ayat-ayat Al Qur'an dan menyelam dalam lautan airmata. Allah SWT berfirman :

“Ia adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu dengan penuh berkat supaya mereka memerhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”. ( Qs Shaad ayat : 29)

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran….”
(Qs An-Nisa’ayat : 82)


Dari tadabbur yang ia rasakan, adalah titisan airmata yang mengalir dari kedua matanya, dan ketika berzikir dan membaca Al-Quran yang keluar dari tenggoroknya sangkut di dalam hatinya yang keras dan ketandusan matanya…..maka ia menitiskan airmata….

Tangisan adalah tadabbur yang menimbulkan ketakutan (akan azab Allah) , kesyukuran yang mendalam tentang pertolongan , kasih sayang dan rahmatNya serta berbagai penghayatan dan petunjuk yang Allah ajarkan terhadap ayat-ayat yang dibaca….

“Dan barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. (Qs Ali –Imran ayat : 101).


Dan apabila mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka bercucuran air mata disebabkan kebenaran al-Quran yang telah mereka ketahui, seraya mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, kami telah beriman maka catatkanlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi atas kebenaran al-Quran dan kenabian Muhammad.
(QS. al-Ma'idah:83).

Aamiin ya Robbal alamin ...

:: MUNAJAT CINTA

Ya Rabb
bila cinta itu seperti angin,jadikanlah ia angin yang menyejukkan
Yang dengan nya Engkau tiupkan belaian kasih MU
Yang dengannya Engkau izinkan hambaMU
bercengkrama dalam sejuknya Cinta MU

Bila Cinta itu seperti matahari, jangan biarkan dia membakar bumi
Jadikanlah kehangatannya memberikan kehidupan,
Sehingga kami tidak terbakar didalamnya , kehangatan yang Engkau janjikan
Pada hati-hati yang bercinta kasih karena MU ,
hangatnya Kasih Ilahi

Ya Rabb
Bila cinta itu cahaya jangan jadikan ia seperti lilin
Yang memberi cahaya pada sekitarnya
sementara dirinya sendiri hancur , meleleh dan terbakar
Tapi .... Rabb...
jadikanlah ia bagai lentera, dua lentera jiwa
Yang menerangi sekitarnya,
juga dirinya dan menerangi alam semesta

Ilahi...
Bila cinta itu indah,
jangan sampai ternoda oleh nafsu yang Engkau tidak ridhai
Jadikanlah Dia indah, semata karena ada RidhaMU mengiringi

Rabb
bila cinta itu airmata,
Lihatlah airmata yang mengalir disana,
Lihatlah kerinduan yang tak tertahankan
Jadikanlah kerinduan itu ,kerinduan yang memabukkan
karena mengharap Cinta kasih MU,
bukan yang melenakan sehingga kami kelak menyesali diri



BK

:: ALLAH TIDAK MENJADIKAN SESEORANG 2 HATI DALAM RONGGANYA ..





Bismillahirrahmanirrahim,

" Allah tidak menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya; ...."
(QS. Al Ahzaab 33:4)

Bagaimana satu hati akan mencintai dua hal secara bersamaan ? Bagaimana dunia dan akhirat ada bersamaan didalamnya ? Bagaimana makhluk dan Khaliq bisa berkumpul didalamnya ? Bagaimana keduanya dapat beriringan didalam satu hati?

Setiap wadah akan penuh dengan apa yang ada didalamnya. Amal-amal adalah gambaran dari 'itikad, lahiriah adalah cerminan bathin. Lahir itu gambaran pertanda bagi bathin. Dan bathin akan terlihat jelas dihadapan Rabb nya .

Hati yang mencintai Khaliq , akan lebih mengutamakan Nya dari selain Nya .. hati yang didalamnya dipenuhi dunia, maka ia tidak akan menerima adanya akhirat.
Apabila hati diperuntukkan bagi Khaliq, sedang wajahnya menghadap makhluk, maka ia dapat memandang mereka demi kemashlahatan mereka sebagai bentuk kasih sayang terhadap mereka.

 


Wallahu a'lam ....
'Fathur Rabbani' - Syaikh Abdul Qadir al Jilany.


Pengingat untuk jiwaku .. 
Rabb, karuniakan istiqomah sampai akhir hayatku , dalam puncak kerinduanku kepada MU .. aamiin.

:: KEUTAMAAN SURAT AL IKHLAS




Dari Abi Sa'id Al Khudriy ra :
"Sungguh Seseorang mendengar sahabatnya membaca Qul Huwallahu Ahad (Surat Al Ikhlas), dan mengulang-ulangnya di malam hari, maka ketika pagi harinya ia datang kepada Nabi saw dan menceritakan itu, maka Rasulullah saw bersabda : "Demi Diriku yang berada dalam Genggaman Allah swt , sungguh Surat Al Ikhlas menyamai sepertiga Alqur'an." (ShahihBukhari)


Diriwayatkan pula dalam Shahih Al Bukhari bahwa Al Imam Masjid Quba' setelah membaca Al Fatihah selalu membaca surat Al Ikhlas kemudian dilanjutkan dengan surat yang lainnya, maka ia diprotes oleh makmumnya karena hal ini, maka sang imam berkata: "jika engkau masih menginginkan aku untuk menjadi imam, maka aku akan terus melakukan hal ini, jika tidak carilah imam yang lain", maka si makmum mengadukannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata: "wahai Rasulullah, tidak pernah engkau mengajarkan kepada kami untuk selalu membaca surat Al Ikhlas setelah Al Fatihah, namun imam itu melakukannya". Zaman sekarang hal seperti ini disebut sebagai bid'ah, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada sang imam: "Mengapa engkau melakukan hal itu wahai imam masjid Quba, padahal aku tidak pernah mengajarkannya?", maka sang imam menjawab dengan singkat : إِنِّيْ أُحِبُّهَا (sungguh aku mencintai surat Al Ikhlas), maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab : "cintamu pada surat Al Ikhlas membuatmu masuk kedalam surga Allah".

Karena mencintai kalimat هُوَ اللهُ أَحَدٌ, Dialah (Allah) Yang Maha Tunggal, maka jadikanlah Dia tunggal di dalam jiwa kita di saat kita berdzikir kepada Allah, di saat kita shalat, di saat kita berdoa dan bermunajat, hilangkan semua nama dari hati kita kecuali nama اللهُ أَحَدٌ هُوَ. Jadikan nama itu menguasai jiwa dan sanubari melebihi segalanya

Teringat kisah ketika sayyidina Bilal ketika disiksa ia mengelurkan rinduannya kepada sang Maha Tunggal dengan kalimat أَحَدٌ, أَحَدٌ . Diriwayatkan dalam riwayat yang tsiqah (kuat) bahwa sayyidina Bilal tidak merasakan sakit saat ia disiksa, bahkan ia dalam kesejukan tanpa merasakan kepedihan atas siksaan yang diperbuat oleh kuffar quraisy karena ia dalam kelezatan menyebut nama Allah subhnahu wata'ala.

Subhanallah ..

:: PERUMPAMAAN HATI …





Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah berkata, “Apabila badan sakit tidak bermanfaat lagi padanya makanan dan minuman. begitu juga apabila hati sakit karena syahwat, tidak bermanfaat lagi padanya nasehat-nasehat.

Barangsiapa yang menginginkan kebeningan hati, hendaklah ia mengedepankan Allah atas syahwatnya (nafsu ubud dunia).




Kemudahan dan kesenangan dunia..,akan menjauhkan diri dari pintu pintu kedekatan dengan ALLAH....,
ALLAH SWT sembunyikan pintu pintu Hidayah.., dibalik kehidupan yang Mujahadah

Hati yang terikat oleh syahwat akan ter-hijab dari Allah sesuai kadar keterikatannya dengan syahwatnya tersebut.

Hati itu ibarat bejana-bejana Allah di muka bumi, yang paling dicintai-Nya adalah yang paling lembut, paling tegar dan yang paling bening”. (Kitab Al-Fawaid)

 
 
KH. Abdullah Gymnastiar

:: AR RAQIB (YANG MAHA MENGAWASI)



Bismillahirrahmannirahim,

Allah yang bersifat Raqib adalah : DIA yang mengawasi atau yang menyaksikan atau mengamati makluk Nya dari saat ke saat.
Allah Raqib terhadap segala sesuatu . Mengawasi, menyaksikan dan mengamati segala yang dilihat dengan pandangan Nya, segala yang didengar dengan Pendengaran Nya serta segala yang wujud dengan Ilmu Nya.

Pengawasan bukan bertujuan mencari kesalahan yang diawasi, namun sebaliknya pengawasan Allah beriringan dengan kasih sayangNYA , kebaikanNYA serta penjagaan dan pemeliharaanNYA.


@@@@

Ya Allah, anugerahilah kami petunjuk sebagaimanan mereka yang telah Engkau anugerahi petunjuk.
Jadikanlah kami selalu berada di HadiratMu dan PemeliharaanMU dengan Pengawasan Mu yang tak pernah lena ...
Wahai Allah yang Maha Memelihara dan Maha Mengetahui,
Yang Maha Melihat dan Maha Mengawasi ...
Wahai Tuhan Yang Maha Penyayang dari seluruh yang Penyayang.
Lindungilah kami dengan Cahaya perlindungan Mu yang tak pernah padam ...

Wa Shalallahu ala Sayyidina Muhammad wa ala alihi wa shahbihi wa sallam

:: AL QUDDUS (MAHA SUCI)



Bismillahirrahmannirahim,

" Dialah Allah Yang Maha Tiada Tuhan selain Dia, Raja Yang Maha Suci, Maha Sejahtera, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Memiliki Segala Keagungan , Maha Su

ci Allah dari apa yang mereka persekutukan"   (QS Al Hasyr : 23)

Maha Suci atas Nya,
yang tiada cela, tanpa cacat, lemah atau lalai ,
Miliknyalah segala Kesucian, Kemutlakan atas Kejernihan dan hakikat dari semua kebaikan..

Segala yang suci akan menuai berkah, begitu pula ketika dengan Asma Nya, Al Quddus, kita selalu berusaha mensucikan diri dan jiwa. Fitrah manusia adalah mencintai segala yang bersih dan indah.

Maha Suci Allah yang tidak terikat ruang dan waktu.
Maha Suci Allah yang tidak terbelenggu oleh batas ukuran. Kesucian Nya selalu melimpah. luas dan dalam. Siapapun dari makhluk Nya yang berharap kesucian tak akan pernah kekurangan. Siapapun makhluk Nya yang mendamba kesucian tak akan pernah kehabisan.


" Senantiasa bertasbih kepada Allah, apa yang di langit dan dan apa yang di bumi . Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana . " (QS Al Jumu'ah : 1)


Seluruh yang ada di langit bertasbih kepada Allah SWT. Seluruh yang ada di bumi mengagungkan nama Nya yang Maha Suci. Angin dan awan bertasbih. Burung dan dahan bertasbih. Air dan angin bertasbih. Gelombang dan lautan juga bertasbih. Bahkan jantung dan nafas kita , nadi dan denyut otak kita, selalu mensucikan Nama Nya. Menurut cara yang tidak kita dipahami.


Saudaraku fillah,
Bacalah Al Quddus, di saat ramai, dikala sunyi . Semoga Allah senantiasa mengingat kita di setiap waktu . Jadikan nama Al Quddus menjadi hiasan dzikir lidah dan hati kita. Insya Allah, Allah Yang Maha Suci akan mencabut pikiran yang membuat kita khawatir. Dia akan menjaga kita dari kesulitan dan penderitaan yang tanpa sadar telah kita hasilkan sendiri.




Wallahu a'lam bishawab,

:: TERBENAM DALAM KASIH ALLAH



Bismillahirrahmannirahim ..

Terpujilah Allah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih .. Terpujilah Dia yang menutup semua celah hidup manusia dengan Rahmat dan Kasih sayang Nya..

Bayangkanlah puluhan ribu lebah yang menyelimuti tubuh seor
ang pengumpul madu hingga tak ada bagian tubuhnya yang kelihatan lagi ..

Bayangkan seorang pencari mutiara yang menyelam ke lautan hingga seluruh tubuhnya terlingkup oleh lautan biru yang megah ..

Seperti itulah Allah subhana wa Ta'ala menyelimuti diri dan kehidupan hamba-hamba Nya dengan nikmat dan kasih sayang Nya ..

Nikmatnya sangatlah banyak seperti titik-titik kecil yang rapat, tak bercelah ,..

“ …Dia jadikan bumi terhampar.”

Bahwa dengan bumi yang terhampar, Allah mudahkan manusia berkelana di atas permukaannya dan bekerja mengais rezeki ..

“…Dia jadikan langit sebagai atap”.

Atap kubah raksasa yang dahsyat, yang luasnya sulit dibayangkan, mengandung bintang-bintang yang tak terhingga jumlahnya..


" Dan jika engkau menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya .. ( QS Ibrahim : 34)


Tak terhingganya kasih Allah bagi manusia sejatinya bukan hanya kasih itu tak bisa dihitung oleh siapapun melainkan juga tak akan mampu dibayar dengan rasa syukur paling dalam sekalipun ...

Manusia sendiri barangkali tak akan pernah bisa membayangkan seperti apa syukur yang tak berhingga itu , apalagi mempraktekkannya dalam amal keseharian ..

Hanya karena kasih sayang Nya , Allah subhana wa Ta'ala memberi keringanan bagi hamba-hamba Nya .. bertaubat di pagi dan petang .. serta senantiasa bertakwa dengan menurut kadar kesanggupannya ..


Rasulullah sendiri bersabda :
" Ya Allah , milik MU segala pujian yang tidak pernah mencukupi, tidak tersisa dan tidak pernah terabaikan.. Wahai Allah Tuhan kami ..


" Allah lah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan menurunkan air hujan dari langit. Kemudian dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan sebagai rezeki bagimu. Dia telah menaklukkan bagimu bahtera supaya ia berlayar di samudera dengan perintah Nya. Dan Dia telah menundukkan bagimu sungai-sungai . dan Dia telah menundukkan bagimu matahari dan bulan terus menerus beredar. Dan Dia telah menaklukkan bagimu siang dan malam . Dan dia telah memberikan segala apa yang kamu mohonkan kepada Nya ..
Dan jika engkau menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghinggakannya ... (QS Ibrahim : 32-34)


Terpujilah Allah Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengasih .. Terpujilah Dia yang menutup semua celah hidup manusia dengan Rahmat dan Kasih sayang Nya..

Segala puji bagi Mu , Dzat Yang Maha Tinggi ..
Segala puji bagi Mu Wahai Pemilik Segala Kebesaran dan Kemuliaan ..

Ya Rabbi , kami tak mampu memuji untukMu ,
sebagaimana Engkau memuji atas Kebesaran Mu ...

Ya Allah, sampaikanlah selawat dan salam serta berkatilah
penghulu kami, Nabi SAW yang ummi, seluruh keluarga dan para sahabat- sahabat Baginda SAW yang baik lagi mulia ..

:: JAGALAH HAK ALLAH, NISCAYA ALLAH AKAN MENJAGAMU ..



Bismillahirrahmannirahim,

SEGALA puji bagi ﷲ , Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.

Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم pernah memberi nasehat pada Ibnu ‘Abbas -رضي الله عنه -,

“Jagalah ﷲ , niscaya ﷲ akan menjagamu.” [HR Tirmidzi]


“Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada Setiap hamba yang selalu kembali (kepada ﷲ ) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-NYA), (yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan Dia datang dengan hati yang bertaubat.” (Qaaf: 32-33)


MENJAGA HAK ALLAH

Di antara bentuk penjagaan hak ﷲ sebagai berikut:

1. MENJAGA SHALAT

Yang utama untuk dijaga adalah shalat lima waktu yang wajib sebagaimana yang ﷲ firmankan (artinya),

“ Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa (shalat Ashar). Berdirilah untuk ﷲ (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (Al Baqarah: 238)

Yang dimaksud shalat wustho di sini adalah shalat Ashar menurut kebanyakan ulama. Nabi صلیﷲ علیﻪ و سلم memperingatkan keras orang yang meninggalkan shalat Ashar sebagaimana dalam sabdanya (artinya),

“Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka hapuslah amalannya.” [HR Bukhari]

ﷲ Ta’ala pun memuji orang-orang yang menjaga shalatnya dalam ayat lainnya (artinya),

“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (Al Ma’arij: 34)

Begitu pula termasuk dalam hal ini adalah dengan menjaga thoharoh (taharah/bersuci) karena thoharoh adalah pembuka shalat. Nabi صلیﷲ علیﻪ و سلم bersabda (artinya),

“Tidak ada yang selalu menjaga wudhu melainkan ia adalah seorang mukmin.”[5]


2. MENJAGA KEPALA DAN PERUT


“Sifat malu pada ﷲ yang sebenarnya adalah engkau menjaga kepalamu dan setiap yang ada di sekitarnya, begitu pula engkau menjaga perutmu serta apa yang ada di dalamnya.” [6]

Yang dimaksud menjaga kepala dan setiap apa yang ada di sekitarnya, termasuk di dalamnya adalah menjaga pendengaran, penglihatan dan lisan dari berbagai keharaman. Sedangkan yang dimaksud menjaga perut dan segala apa yang ada di dalamnya, termasuk di dalamnya adalah menjaga hati dari terjerumus dalam yang haram

ﷲ Ta’ala berfirman (artinya),

“ Dan ketahuilah bahwasanya ﷲ mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-NYA.” (Al Baqarah: 235)

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al Isro’: 36)



3. MENJAGA LISAN

“Barangsiapa yang menjamin padaku apa yang ada di antara dua janggutnya (yaitu bibirnya) dan antara dua kakinya (yaitu kemaluan), maka ia akan masuk surga.” [HR Bukhari]



4, MENJAGA KEMALUAN


ﷲ memuji orang-orang yang menjaga kemaluan dalam beberapa ayat. ﷲ Ta’ala berfirman (artinya),

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya ﷲ Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat“.” (An Nur: 30)

“Laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) ﷲ , ﷲ telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Ahzab: 35)

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.” (Al Mu’minun: 5-6) [9]



Yang lebih penting dari hal di atas dan merupakan hak ﷲ yang paling utama untuk dijaga adalah mentauhidkan ﷲ dan tidak menyekutukan ﷲ dengan selain-NYA (baca: berbuat syirik). Karena syirik adalah kezholiman yang teramat besar. Luqman pernah berkata pada anaknya,

“Sesungguhnya kesyirikan adalah kezholiman yang paling besar.” (Luqman: 13)


!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!


BARANGSIAPA YANG MENJAGA HAK ALLAH, MAKA ALLAH AKAN MENJAGANYA



“Jagalah ﷲ , niscaya ﷲ akan menjagamu.”

Inilah yang dimaksud al jaza’ min jinsil ‘amal, yaitu balasan sesuai dengan amal perbuatan. Sebagaimana ﷲ mengatakan dalam ayat-ayat lainnya.

وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ

“Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu.” (Al Baqarah: 40)

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ


“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (Al Baqarah: 152)

إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ

“Jika kamu menolong (agama) ﷲ , niscaya Dia akan menolongmu.” (Muhammad: 7)



BENTUK PENJAGAAN ALLAH


Jika seseorang menjaga hak-hak ﷲ sebagaimana yang telah disebutkan di atas, maka ﷲ pun akan selalu menjaganya. Bentuk penjagaan ﷲ ada dua macam, yaitu:

ﷲ akan menjaga urusan dunianya yaitu ia akan mendapatkan penjagaan diri, anak, keluarga dan harta.

Penjagaan yang lebih dari penjagaan yang diatas, yaitu ﷲ akan menjaga agama dan keimanannya.



PENJAGAAN MELALUI MALAIKAT ALLAH

Di antara bentuk penjagaan ﷲ adalah ia akan selalu mendapatkan penjagaan dari malaikat ﷲ. Sebagaimana ﷲ Ta’ala berfirman (artinya),

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah ﷲ .” (Ar Ro’du: 11)



PENJAGAAN DI KALA USIA SENJA

Begitu pula ﷲ akan menjaga seseorang di waktu tuanya, jika ia selalu menjaga hak ﷲ di waktu mudanya. ﷲ akan menjaga pendengaran, penglihatan, kekuatan dan kecerdasannya. Inilah maksud yang kami singgung dalam judul artikel ini.



Sebagaimana kami pernah membaca dalam salah satu buku fiqh madzhab Syafi’i, matan Abi Syuja’. Dalam buku tersebut diceritakan mengenai penulis matan yaitu Al Qodhi Abu Syuja’ (Ahmad bin Al Husain bin Ahmad Asy Syafi’i rahimahullah Ta’ala). Perlu diketahui bahwa beliau adalah di antara ulama yang meninggal dunia di usia sangat tua. Umur beliau ketika meninggal dunia adalah 160 tahun (433-596 Hijriyah). Beliau terkenal sangat dermawan dan zuhud. Beliau sudah diberi jabatan sebagai qodhi pada usia belia yaitu 14 tahun. Keadaan beliau di usia senja (di atas 100 tahun), masih dalam keadaan sehat wal afiat. Begitu pula ketika usia senja semacam itu, beliau masih diberikan kecerdasan. Tahukah Anda apa rahasianya? Beliau tidakk punya tips khusus untuk rutin olahraga atau yang lainnya. Namun perhatikan apa tips beliau,

“Aku selalu menjaga anggota badanku ini dari bermaksiat pada ﷲ di waktu mudaku, maka ﷲ pun menjaga anggota badanku ini di waktu tuaku.”

Cobalah lihat, beliau bukanlah memberikan kita tips untuk banyak olahraga. Namun apa tips beliau? Yaitu taat pada ﷲ dan menjauhi segala maksiat di waktu muda.



Ibnu Rajab rahimahullah juga pernah menceritakan bahwa sebagian ulama ada yang sudah berusia di atas 100 tahun. Namun ketika itu, mereka masih diberi kekuatan dan kecerdasan. Coba bayangkan bagaimana dengan keadaan orang-orang saat ini yang berusia seperti itu? Diceritakan bahwa di antara ulama tersebut pernah melompat dengan lompatan yang amat jauh. Kenapa bisa seperti itu? Ulama tersebut mengatakan (artinya),

“Anggota badan ini selalu aku jaga agar jangan sampai berbuat maksiat di kala aku muda. Balasannya, ﷲ menjaga anggota badanku ini di waktu tuaku.”


PENJAGAAN PADA ANAK CUCU KETURUNAN


Begitu pula ﷲ akan menjaga keturunan orang-orang sholih dan selalu taat pada ﷲ . Di antaranya kita dapat melihat pada kisah dua anak yatim yang mendapat penjagaan ﷲ karena ayahnya adalah orang yang sholih. ﷲ Ta’ala berfirman (artinya),

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.” (Al Kahfi: 82)


‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz pernah mengatakan,

“Barangsiapa seorang mukmin itu mati (artinya: ia selalu menjaga hak ﷲ , pen), maka ﷲ akan senantiasa menjaga keturunan-keturunannya.”


Sa’id bin Al Musayyib mengatakan pada anaknya (artinya),

“Wahai anakku, aku selalu memperbanyak shalatku dengan tujuan supaya ﷲ selalu menjagamu.”[Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam]

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan,

“Barangsiapa menjaga (hak-hak) ﷲ , maka ﷲ akan menjaganya dari berbagai gangguan.”


Jika seseorang berbuat maksiat, maka ia juga dapat melihat tingkah laku yang aneh pada keluarganya bahkan pada hewan tunggangannya.

“Jika aku bermaksiat pada ﷲ , maka pasti aku akan menemui tingkah laku yang aneh pada budakku bahkan juga pada hewan tungganganku.” [Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam] , Subhanallah ..



PENJAGAAN PADA AGAMA DAN KEIMANAN

Penjagaan yang lebih dari penjagaan yang semua sebelumnya, yaitu ﷲ akan menjaga agama dan keimanannya.

“Dengan menyebut nama-Mu, aku meletakkan lambungku, dan dengan nama-Mu aku mengangkatnya. Jika engkau ingin menarik jiwaku, maka ampunilah ia. Jika engkau ingin membiarkannya, maka jagalah ia sebagaimana engkau menjaga hamba-hambaMu yang sholih” [HR Bukari - Muslim]

Dalam do’a ini terlihat bahwa ﷲ akan senantiasa menjaga orang-orang yang sholih.



... Jagalah hak ﷲ , niscaya ﷲ akan menjagamu ....



Subhanallah , Alhamdulillah ..
Segala puji bagi ﷲ yang dengan nikmat-NYA segala kebaikan menjadi sempurna ...




Wallahu a'lam bishawab,

Muhammad Abduh Tuasikal

Semoga bermanfaat ..

:: DISEBABKAN OLEH CINTA ..




Bismillahirrahmannirahim,

CINTA laksana air dalam kehidupan, nafas dalam jiwa, semangat dalam raga, lembut dalam sutera. Ia bagaikan panas pada api, dingin pada salju, luas pada angkasa dan, seperti kata Sapardi,
“kayu kepada api yang menjadikannya abu”


•••• Disebabkan oleh cinta, Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengingat-ingat almarhumah Khadijah (radhiallahu ‘anha), isteri pertamanya, hingga Aisyah (radhiallahu ‘anha), isteri ketiganya, cemburu.

“Aku sangat cemburu dengan Khadijah karena sering disebut Rasulullah, sampai-sampai aku berkata: Wahai Rasulullah, apa yang kau perbuat dengan wanita tua yang pipinya kemerah-merahan itu, sementara Allah telah menggantikannya dengan wanita yang lebih baik?”


Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam menjawab,

[♥] [♥] “Demi Allah, tak seorang wanita pun lebih baik darinya. Ia beriman saat semua orang kufur, ia membenarkanku saat manusia mendustaiku, ia melindungiku saat manusia kejam menganiayaku, Allah menganugerahkan anak kepadaku darinya.”

Dalam riwayat lain diceritakan, Aisyah mengatakan,

“Tak seorang pun dari isteri-isteri nabi yang aku cemburui lebih dalam ketimbang Khadijah. Meskipun aku belum pernah melihatnya, namun Rasulullah seringkali menyebutnya. Pernah suatu kali beliau menyembelih kambing lalu memotong-motong dagingnya dan membagikannya kepada sahabat-sahabat karib Khadijah.”

Jika hal tersebut disampaikan Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menanggapinya dengan berkata,

[♥] [♥] “Wahai Aisyah, begitulah kenyataannya. Sesungguhnya darinyalah aku memperoleh anak”.


═════════════════════════════════════
Dalam tulisan yang singkat ini, saya ingin membahas tentang cinta yang sebenarnya. Cinta yang telah mengantarkan janin pada kedewasaan, air pada pusaran gelombang dan jalinan rindu pada bait-bait syair kehidupan. Cinta, sebuah kata yang hanya terdiri dari lima huruf. Tetapi, kandungannya telah mengubah sejarah peradaban manusia.
═════════════════════════════════════


Syeikh ‘Aidh al-Qorni mengatakan kita harus memilah cinta pada dua takaran: CINTA ILAHIYAH DAN CINTA DUNIAWIYAH. Cinta ilahiyah adalah cinta yang abadi. Cinta seorang hamba pada Allah untuk mengikuti seluruh aturan hidup yang diberikan lewat nabi-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Bagaimana mungkin manusia tak mencintai Tuhannya, sementara seluruh kenikmatan ini adalah pemberian-Nya: Ketentuan Allah adalah adil, syariat-Nya rahmat, ciptaan-Nya menawan, fadhilah-Nya luas melebihi keluasan samudera.


[♥] [♥] “Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” (Al-Kahfi: 109)

✔ CINTA ILAHIYAH adalah apa yang ditunjukkan Bilal bin Rabah, ketika ia berkata, “Ahad … ahad … ahad” di tengah himpitan batu panas yang menindihnya.

✔ Adalah Umair bin Himam yang berlari menyambut seruan perang padahal sedang asyik menikmati makanan, seraya berkata, “aku tak mau biji kurma ini menghalangiku masuk syurga.”

✔ Adalah Handzalah bin Abu Amir, yang melepaskan pelukan isterinya di malam pengantin baru, seraya menyambut seruan jihad pada perang Uhud dan menemui syahidnya. Ia dimandikan para malaikat hingga membuat sahabat nabi yang lain bertanya-tanya.
“Mengapa dimandikan malaikat?”
“Cari tahulah pada keluarganya” kata Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia.

Ya, ia tak sempat mandi jinabah saat menyambut panggilan Tuhannya. Itulah sekelumit contoh cinta Ilahiyah. Cinta yang meminta pengorbanan harta dan jiwa,


[♥] [♥] “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (As-Shaff: 10-11)


|||||||||||||||||

•••• Disebabkan oleh cinta, Ibn Abbas kehilangan kedua matanya. Tokoh yang dikenal sebagai “al-Quran berjalan”, lautan ilmu dan tempat bertanya para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu menangis setiap malam dalam tahajudnya karena cintanya kepada Allah sampai matanya buta. Seseorang datang dan berusaha memberikan simpati padanya, Ibn Abbas justru berkata:

|| Allah mengambil dari kedua mataku cahayanya
Maka, pada hati dan pikiranku kedua cahaya itu tetap bersinar
(aku berharap) hatiku terus tajam, akalku terus terasah
Dan pada mulutku (kemampuan untuk memberi nasihat) seperti pedang yang terhunus tajam lagi terkenal.

Untuk itulah, seorang penyair Arab menulis:

Cinta sesungguhnya adalah hanya kepada yang Maha Mencinta
Dialah yang paling berhak untuk dicinta dan dirindu
Maka, palingkanlah cintamu dari raja yang berkuasa
Dan dari setiap yang engkau takut dari makhluk-Nya.


|||||||||||||||||

Selain CINTA ILAHIYAH, manusia yang hidup di alam duniawi yang profan ini seharusnya merasakan juga CINTA DUNIAWI. Ia adalah fitrah pada manusia. Yaitu mencinta harta, anak dan isteri (atau suami) sebagai belahan jiwa. Tentu semua itu tak boleh melebihi kecintaan seseorang pada Allah subhnahu wa ta’ala. Untuk itulah, Allah subhnanu wa ta’ala mengingatkan,

[♥] [♥] “Katakanlah: “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, isteri-isterimu, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA”. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (at-Taubah: 24)


||||||||||||||||

•••• Disebabkan oleh cinta, Nabi Nuh (alaihi salam) memanggil anaknya untuk bergabung dalam bahtera yang segera berangkat, saat air makin meninggi, gemuruh ombak dan gelombang lautan terus berkejaran mengisi seantero negeri yang akan segera tenggelam. Tapi, segera Allah subhnahu wa ta’ala ingatkan,

[♥] [♥] “Hai Nuh, Sesungguhnya Dia bukanlah Termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), Sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)nya. Sesungguhnya aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan Termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (Hud 46)


|||||||||||||||||


Sebagai agama fitrah, Islam memberi ruang pada cinta duniawi ini. Ketika sepasang anak manusia tertarik satu dengan lainnya, Islam menganjurkan untuk segera mendokumentasikannya dalam mahligai rumah tangga. Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan,

[♥] [♥] “Wahai anak muda, barangsiapa di antara kalian sudah mampu (menikah), hendaklah menikah.”


Ikat cintamu. Abadikan pelana hatimu. Simpan permata jiwamu. Proklamasikan belahan kasihmu di altar sajadah ijab-kabul yang disaksikan para malaikat, sambil bersimpuh di hadapan orang tua dan kerabat


═════════════════════════════════════
Cintailah pasanganmu seperlunya. Sebab, telaga cinta manusia pasti akan kering suatu saat kelak. Ia tak mungkin abadi, bahkan jika kau dokumentasikan cintamu semewah Taj Mahal sekalipun. Pernikahan telah menyingkap tabir rahasia pasanganmu. Bagi suami, ternyata isteri yang engkau nikahi tidaklah semulia Khadijah yang rela berkorban seluruh hartanya untuk dakwah suaminya. Tidak pula setaqwa Aisyah yang menutup malam dengan tahajud dan siang dengan infak dan sedekah. Tidak pula setabah Fatimah ketika Ali bin Abi Thalib, suaminya, membagikan persediaan makanannya untuk fakir, miskin, janda dan tawanan perang hingga Allah turunkan ayat sebagai pengabadian cinta mereka,
═════════════════════════════════════

[♥] [♥] “Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, Kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (Al-Insan: 9)


||||||||||||||||||

•••• Disebabkan oleh cinta, sadarlah engkau bahwa isterimu hanyalah wanita pada umumnya. Ia yang punya cita-cita dunia, ingin rumah, kendaraan, perhiasan dan berbagai gadget terbaru untuknya. Pernikahan telah mengajarkanmu kewajiban bersama. Isteri menjadi tanah, engkau langit yang menaunginya. Isteri ladang tanaman, engkau pemagarnya. Kala ia tengah teracuni, engkau harus menjadi penawar bisanya.

Maka, ketika cinta telah terpatri di buku nikah, Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan umatnya untuk mendoakan sepasang kekasih itu,

[♥] [♥] “Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu, keberkahan ke atasmu dan mempersatukan keberduaanmu dalam kebaikan.”

Satu dalam dua adalah ibadah; bercumbu ibadah, mencari rezeki ibadah, tersenyum ibadah, bahkan saling meremas jemari pun ibadah.

[♥] [♥] “Meremas jari-jemari isteri menggugurkan dosa-dosa kecilmu!”

Malam pengantin baru adalah malam yang ditunggu-tunggu. Sebagian menantikannya dengan dada berdebar, sebagian lain dengan mabuk kepayang. Jantung berdetak tak karuan, kaki berdiri lebih sering kesemutan, duduk tak diam, berjalan tak jelas pula arahnya. Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan,

[♥] [♥] “Takutlah kalian kepada Allah dalam hal wanita. Kalian mengambil mereka dengan amanah dari Allah, dan menjadi halal dengannya karena nama Allah.”


|||||||||||||||||

•••• Disebabkan oleh cinta, Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan kepada pengantin baru hal-hal berikut ini:

1. Shalatlah dua rakaat.

2. Ambil gelas, tuangkan susu dan madu, teguk dan rengkuh isinya bersama.

3. Letakkan niat dengan benar sebab setiap amal seorang muslim dihitung berdasarkan niatnya. Dalam satu hadits diriwayatkan dari Abu Dzar bahwasanya orang-rang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

[♥] [♥] “Wahai Rasulullah orang-orang kaya telah memborong pahala, di mana mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka menyedekahkan kelebihan harta mereka”.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

[♥] [♥] “Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh untuk berbuat baik adalah sedekah, mencegah dari perbuatan mungkar adalah sedekah, bahkan di dalam salah seorang di antara kamu sekalian itu bersetubuh dengan isterinya juga termasuk sedekah.”


Para sahabat bertanya:

[♥] [♥] “Wahai Rasulullah, apakah seseorang itu melampiaskan nafsunya juga mendatangkan pahala?” Beliau menjawab: “Bagaimana pendapatmu seandainya ia melampiaskan nafsunya pada yang haram, bukankah yang demikian itu mendatangkan dosa? Demikian sebaliknya bila ia melampiaskan nafsunya pada yang halal maka ia mendapatkan pahala”. (Riwayat Muslim)


1. Meletakkan tangan di atas kening isteri seraya berdoa, “Allahumma Innii Asaluka Min Khoiriha wa Khoiri Ma Jabaltaha Alaihi. Wa Audzu bika Min Syarri wa Syarri Ma Jabaltaha Alaih”

“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan dari apa yang Engkau berikan kepadanya serta Aku berlindung kepada-Mu dari pada keburukannya dan keburukan yang Engkau berikan kepadanya”.


2. Berdoa agar terhindar dari syaitan. Tibalah saat yang dinanti itu, ketika madu berkasih, ombak jiwa berdebar, angin bertiup melewati daun jendela, perahu pelaminan terguncang dan kasih tertunaikan. Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam ingatkan umatnya untuk sekali lagi berdoa.

[♥] [♥] “Sekiranya ada di antara kalian yang hendak menggauli isterinya, hendaklah ia berdoa, (artinya), Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah jauhkanlah syaitan, dan jauhkan syaitan dari apa yang Engkau rezekikan pada kami. Sebab sekiranya dari hubungan itu diberikan anak, niscaya tidak akan dicelakakan syaitan selama-lamanya.”


“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepadaMu cintaMu dan cinta orang-orang yang mencintaiMu, dan kami memohon kepadaMu amal perbuatan yang dapat mengantar kami pada CintaMu ... aamiin ya Robbal alamin . (HR Tirmidzi)


Wallahu a’lam bis showab.
AMZ

:: INDAHNYA MENGGAPAI CINTA ALLAH ..



Bismillahirrahmannirahim,

Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah, Yang Maha Agung dan Mulia menjumpaiku - yakni dalam tidurku - kemudian berfirman kepadaku, "Wahai Muhammad, katakanlah : "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mencintai-Mu, mencintai siapa saja yang mencintai-Mu, serta mencintai perbuatan yang mengantarkan aku untuk mencintai-Mu."


Dalam amal ubudiyah, cinta (mahbbah) menempati derajat yang paling tinggi. Mencintai Allah dan rasul-Nya berarti melaksanakan seluruh amanat dan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah Rasul, disertai luapan kalbu yang dipenuhi rasa cinta.


Pada mulanya, perjalanan cinta seorang hamba menapaki derajat mencintai Allah. Namun pada akhir perjalanan ruhaninya, sang hamba mendapatkan derajat wahana yang dicintaiNya. Rasulullah s.a.w. bersabda: "Allah, Yang Maha Agung dan Mulia menjumpaiku - yakni dalam tidurku - kemudian berfirman kepadaku, "Wahai Muhammad, katakanlah : Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mencintai-Mu, mencintai siapa saja yang mencintai-Mu, serta mencintai perbuatan yang mengantarkan aku untuk mencintai-Mu."


Dalam buku "Mahabbatullah" (mencintai Allah), Imum Ibnu Qayyim menuturkan tahapan-tahapan menuju wahana cinta Allah. Bahwasanya cinta senantiasa berkaitan dengan amal. Dan amal sangat tergantung pada keikhlasan kalbu, disanalah cinta Allah berlabuh. Itu karena Cinta Allah merupakan refleksi dari disiplin keimanan dan kecintaan yang terpuji, bukan kecintaan yagn tercela yang menjerumuskan kepada cinta selain Allah.


Tahapan-tahapan menuju wahana cinta kepada Allah adalah sebagai berikut:

1. Membaca al-Qur'an dengan merenung dan memahami kandungan maknanya sesuai dengan maksudnya yang benar. Itu tidaklain adalah renungan seorang hamba Allah yang hafal dan mampu menjelaskan al-Qur'an agar dipahami maksudnya sesuai dengan kehendak Allah swt. Al-Qur'an merupakan kemuliaan bagi manusia yang tidak bisa ditandingi dengan kemuliaan apapun. Ibnu Sholah mengatakan "Membaca Al-Qur'an merupakan kemuliaan, dengan kemuliaan itu Allah ingin memuliakan manusia di atas mahluk lainnya. Bahkan malaikat pun tidak pernah diberi kemuliaan semacam itu, malah mereka selalu berusaha mendengarkannya dari manusia".


2. Taqarub kepada Allah swt, melalui ibadah-ibadah sunnah setalah melakukan ibadah-ibadah fardlu. Orang yang menunaikan ibadah-ibadah fardlu dengan sempurna mereka itu adalah yang mencintai Allah. Sementara orang yang menunaikannya kemudian menambahnya dengan ibadah-ibadah sunnah, mereka itu adalah orang yang dicintai Allah. Ibadah-ibadah sunnah untuk mendekatkan diri kepada Allah, diantaranya adalah: shalat-shalat sunnah, puasa-puasa sunnah,sedekah sunnah dan amalan-amalan sunnah dalam Haji dan Umrah.


3. Melanggengkan dzikir kepada Allah dalam segala tingkah laku, melaui lisan, kalbu, amal dan perilaku. Kadar kecintaan seseorang terhadap Allah tergantung kepada kadar dzikirnya kepadaNya. Dzikir kepada Allah merupakan syiar bagi mereka yang mencintai Allah dan orang yang dicintai Allah.

Rasulullah s.a.w. pernah bersabda: "Sesungguhnya Allah Azza Wajalla berfirman :"Aku bersama hambaKu, selama ia mengingatKu dan kedua bibirnya bergerak (untuk berdzikir) kepadaKu".


4. Cinta kepada Allah melebihi cinta kepada diri sendiri. Memprioritaskan cinta kepada Allah di atas cinta kepada diri sendiri, meskipun dibayang-bayangi oleh hawa nafsu yang selalu mengajak lebih mencintai diri sendiri. Artinya ia rela mencintai Allah meskipun beresiko tidak dicintai oleh makhluk. Inilah derajat para Nabi, diatas itu derajat para Rasul dan diatasnya lagi derajat para rasulul Ulul Azmi, lalu yang paling tinggi adalah derajat Rasulullah Muhammad s.a.w. sebab beliau mampu melawan kehendak dunia seisinya demi cintanya kepada Allah.


5. Kontinuitas musyahadah (menyaksikan) dan ma'rifat (mengenal) Allah s.w.t. Penglihatan kalbunya terarah kepada nama-nama Allah dan sifat-sifatNya. Kesadaran dan penglihatan kalbunya berkelana di taman ma'rifatullah (pengenalan Allah yang paling tinggi). Barang siapa ma'rifat kepada asma-asma Allah, sifat-sifat dan af'al-af'al Allah dengan penyaksian dan kesadaran yang mendalam, niscaya akan dicintai Allah.


6. Menghayati kebaikan, kebesaran dan nikmat Allah lahir dan batin akan mengantarkan kepada cinta hakiki kepadaNya. Tidak ada pemberi nikmat dan kebaikan yang hakiki selain Allah. Oleh sebab itu, tidak ada satu pun kekasih yang hakiki bagi seorang hamba yang mampu melihat dengan mata batinnya, kecuali Allah s.w.t. Sudah menjadi sifat manusia, ia akan mencintai orang baik, lembut dan suka menolongnya dan bahkan tidak mustahil ia akan menjadikannya sebagai kekasih. Siapa yang memberi kita semua nikmat ini? Dengan menghayati kebaikan dan kebesaran Allah secara lahir dan batin, akan mengantarkan kepada rasa cinta yang mendalam kepadaNya.


7. Ketertundukan hati secara total di hadapan Allah, inilah yang disebut dengan khusyu'. Hati yang khusyu' tidak hanya dalam melakukan sholat tetapi dalam semua aspek kehidupan ini, akan mengantarkan kepada cinta Allah yang hakiki.


8. Menyendiri bersama Allah ketika Dia turun. Kapankan itu? Yaitu saat sepertiga terakhir malam. Di saat itulah Allah s.w.t. turun ke dunia dan di saat itulah saat yang paling berharga bagi seorang hamba untuk mendekatkan diri kepadaNya dengan melaksanakan sholat malam agar mendapatkan cinta Allah.


9. Bergaul dengan orang-orang yang mencintai Allah, maka iapun akan mendapatkan cinta Allah s.w.t.


10. Menjaga dan menjauhi sebab-sebab yang menghalangi komunikasi hati/qalbu kita dengan Al-Khaliq, Allah subhanahu wataala.


Ya Allah, Wahai Dzat yang Maha Agung ..
Kami memohon karunia kepada-Mu untuk mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu, serta mencintai perbuatan yang mengantarkan kami menggapai Cinta Mu ..
Aamiin Ya Mujibasailin.. Aamiin Allahumma amin..



Wallahu a'lam bishawab
Ditulis oleh Dewan Asatidz
Disarikan oleh Muhammad Dzaki Ismail

:: CINTA YANG MEMBUAT KASIH SAYANG ALLAH SELALU MENYERTAI KITA ..



Bismillahirrahmannirahim,

ABU Idris al Khaulani bercerita, suatu ketika diriku tengah berziarah ke salah satu masjid di kota Damaskus. Kemudian aku mendapati seorang pemuda baik rupa; wajahnya cerah, seakan menyemburatkan cahaya. Banyak jamaah yang mengelilinginya. Apabila mereka berbeda pendapat dalam permasalahan agama, mereka bertanya kepada pemuda itu. Aku pun berusaha mencari tahu tentang siapa dia sebenarnya? Seorang jamaah kemudian memberitahuku, bahwa ia bernama Mu’adz bin Jabal.

Keesokan harinya, aku melakukan sebuah perjalanan. Pemuda yang kemarin kulihat di masjid, ternyata juga tengah melakukan perjalanan yang sama denganku. Ia berada tak jauh di depan jalan yang akan kulalui. Begitu mendekat, kudapati ia sedang mendirikan shalat, aku pun bersabar untuk menungguinya.


Setelah pemuda itu menyelesaikan shalat, aku segera datang menghampiri. Aku duduk tepat di depannya, kuucapkan salam, kemudian kuungkapkan isi hatiku padanya,

“Demi Allah, tidak lah aku mencintai mu melainkan karena Allah.”

Ia kemudian berkata: “demi Allah”, ku menjawabnya: “demi Allah,” Ia kemudian berkata lagi: “demi Allah”, ku kembali menjawabnya:” demi Allah”, kemudian ia menarik sorbanku sehingga posisiku menjadi lebih dekat dengannya.

Pemuda itu kemudian berkata, “Aku memiliki sebuah kabar gembira. Ku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,


♥ ♥ ♥ “Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman: ‘Kulimpahkan kecintaan-Ku kepada mereka yang saling mencintai karena-Ku, dan juga kepada mereka yang saling silaturahim satu sama lain karena-Ku, dan kepada mereka yang saling berkorban karena-Ku.’” (diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitabnya Al Muwatho’)


=======================

Cinta yang dibahasakan Abu Idris dalam kisah di atas, bukanlah cinta tanda kutip yang berangkat dari kacamata biologis, namun cinta di sini memiliki arti yang lebih dalam, yaitu ungkapan rasa cinta yang lahir karena ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Mereka saling cinta bukan karena harta atau pun jabatan. Bukan pula dengan iming-iming keduniawian lainnya. Mereka saling cinta karena kuatnya keimanan yang mereka miliki, yang menautkan (paut) hati mereka di dunia, hingga akan berlanjut ke akhirat kelak.

Hanya mereka yang saling cinta di jalan Allah saja lah, yang dapat merasakan manisnya iman. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

♥ ♥ ♥ “Tiga hal yang apabila terdapat dalam diri seorang muslim, maka ia akan merasakan lezatnya iman, yaitu, menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya, dan tidaklah ia mencintai seseorang kecuali karena Allah subhnahu wa ta’ala, dan ia membenci kembali kepada kekafiran sebagaimana bencinya ia dicampakkan ke dalam neraka. “(HR. Abu Daud)


========================


RAIHLAH CINTA ALLAH

Pada hakikatnya, setiap muslim memiliki potensi untuk menumbuhkan dan mendapatkan rasa cinta dari saudaranya seiman. Syaratnya, jadilah sosok pribadi muslim yang shalih, taat menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena hati orang-orang shalih itu sudah digariskan akan selalu terpaut satu sama lain, dan itu semua akan terjadi dengan sendirinya.

Hal tersebut dijelaskan oleh Allah subhnahu wa ta’ala dalam firman-Nya, Al Quran surat Maryam ayat 96, yang artinya,

♥ ♥ ♥ “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.”


>> Ibnu Katsir, dalam kitab tafsir, Al Quran Al ‘Adzim menjelaskan, bahwa rasa mawaddah atau kasih sayang akan ditanamkan Allah dalam diri seorang muslim terhadap saudaranya yang lain, selama mereka konsisten beramal dalam hal yang Allah ridhai, taat kepada perintah serta menjauhi larangan-Nya, menghidupkan dan menegakkan syariat agama dalam kesehariannya.

Anugerah mawaddah sendiri baru ada, setelah didahului oleh kecintaan Allah kepada hamba-nya itu. Rasa kasih sayang ini baru akan sampai ke bumi dan menyemai di antara para pecinta Allah, setelah rasa cinta itu lebih dulu menjadi pembicaraan utama para penduduk langit.


Dalam sabdanya, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,

♥ ♥ ♥ “Sesungguhnya apabila Allah mencintai seorang hamba, maka Dia akan memanggil Jibril dan berkata: ‘Sesungguhnya Aku mencintai fulan maka cintailah dia! Jibril pun mencintainya. Kemudian dia menyeru para penghuni langit: Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah dia! Para penghuni langitpun mencintainya. Setelah itu, barulah pesan cinta ini diturunkan di antara hati para pecinta-Nya di bumi.’” (HR. Bukhari & Muslim)


Keutamaan lainnya bagi para pecinta di jalan Allah juga dijelaskan dalam beberapa hadits. Dari Abu Hurairah radhiAllahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

♥ ♥ ♥ “Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena-Ku? Hari ini Aku akan menaunginya dalam naungan-Ku, pada hari yang tiada naungan selain naungan-Ku.” (HR. Bukhari)

Di hadits lain kemudian disebutkan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


♥ ♥ ♥ “Tujuh golongan yang akan dinaungi Allah pada hari kiamat kelak, di antaranya adalah; dua orang manusia yang saling mencintai karena Allah, mereka bertemu dan berpisah karena-Nya. (HR. Muslim)

Maka, jangan sia-sia kan waktu kita untuk berupaya menjadi hamba pilihan yang dicintai Allah. Jangan segan untuk menyatakan rasa cinta anda karena Allah kepada saudara seiman yang lain. Tak harus berupa kata-kata dengan mengucapkan “Inni uhibbukum fillah” saja, tapi juga bisa dilakukan dengan perbuatan. Menasihatinya dalam hal agama, mengingatkannya akan akhirat, itu semua juga merupakan bukti kecintaan kita karena Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan jalan kecintaan seperti inilah, maka kasih sayang Allah akan terus menyertai kehidupan kita.


Rasa cinta seperti ini tak hanya berhenti di dunia, namun akan berlanjut hingga hari kiamat kelak. Kecintaan karena Allah ini merupakan indikasi dari orang-orang yang bertaqwa, yang akan diselamatkan Allah dari permusuhan antar sesama manusia di hari akhir nanti. Allah subhnahu wa ta’ala telah berfirman yang artinya,

♥ ♥ ♥ “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Az Zukhruf: 67)





Wallahua’lam bishowab
Muhammad Syarief / AMZ 

::: TAHAP-TAHAP CINTA KEPADA ALLAH .. :::




TAHAP-TAHAP CINTA KEPADA ALLAH
(Menurut Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)



Bismillahirrahmannirahim,
 
DI DALAM al-Quran, ada disebutkan bahawa hanya orang-orang yang membawa hati yang sejahtera sahaja yang akan menemui Allah atau diterima Allah. Firman Allah subhanahu wa ta'ala di dalam surah al-Shu’araa’ ayat 88-89:

♥ ♥ ♥ ♥ “Hari (Akhirat adalah hari) yang tidak bermanfaat lagi harta mahu pun anak pinak. Kecuali seseorang yang datang kepada Allah dengan membawa hati yang sejahtera”

Banyak sifat-sifat mahmudah yang perlu disemaikan dalam jiwa kita untuk mendapatkan hati yang sejahtera yang akhirnya diterima oleh Allah. Sifat-sifat yang perlu ada pada kita ialah:

CINTA KEPADA ALLAH atau HUBBULLAH atau MAHABBATULLAH

Dalam dunia akhlak, CINTA KEPADA ALLAH merupakan tempat persinggahan bagi sesiapa yang berjalan menuju Allah, menjadi santapan hati, makanan roh; ertinya hati sentiasa sihat dan kenyang apabila ada rasa cinta kepada Allah; CINTA KEPADA ALLAH merupakan kehidupan sehingga orang yang memilikinya tidak pernah mati, CINTA KEPADA ALLAH ialah cahaya/nur; sesiapa yang memiliki cinta ini tidak akan merasai kegelapan. Cinta adalah kelazatan, sesiapa yang memilikinya pasti tidak merasai kesengsaraan. Cinta pasti menghantar seseorang ke tempat tujuan yang hendak dicapai, bahkan sesiapa yang ADA PADA HATINYA CINTA KEPADA ALLAH digambarkan oleh Allah hamba yang paling ideal. DIA MENCINTAI ALLAH DAN ALLAH MENCINTAINYA. Ini digambarkan oleh Allah dalam surah Al-Maaidah ayat 54, maksudnya:

♥ ♥ ♥ ♥ "Wahai orang-orang yang beriman! Sesiapa di antara kamu berpaling tadah daripada agamanya (jadi murtad), maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia kasihkan mereka dan mereka juga kasihkan Dia; mereka pula bersifat lemah-lembut terhadap orang-orang yang beriman dan berlaku tegas gagah terhadap orang-orang kafir, mereka berjuang dengan bersungguh-sungguh pada jalan Allah dan mereka tidak takut kepada celaan orang yang mencela. Yang demikian itu adalah limpah kurnia Allah yang diberikan-NYA kepada sesiapa yang dikehendaki-NYA; kerana Allah Maha Luas limpah kurnia-NYA, lagi Meliputi Pengetahuan-NYA.” (Al-Maaidah: 54)

Dalam ayat di atas Allah beritahu ciri-ciri manusia yang paling ideal yang memenuhi syarat CINTA KEPADA ALLAH, MANUSIA YANG PALING DEKAT DENGAN ALLAH; iaitu kecintaan mereka kepada Allah sehingga Allah juga cinta kepada mereka, mereka merendah diri kepada orang-orang mukmin, kerana Allah mencintai orang-orang mukmin: mereka bersifat tegas kepada orang-orang kafir kerana Allah juga bersikap keras terhadap orang-orang kafir; mereka sanggup berkorban dan berjuang bersungguh-sungguh menegakkan agama Allah, dan mereka tidak takut kepada celaan orang. Mereka tidak rasa terhina apabila dihina oleh orang asalkan kekasihnya melihatnya mulia, sebaliknya mereka rasa terhina jika kekasihnya (Allah) menghinanya walaupun seluruh dunia memujinya. Jika kita cinta sesama pasanggan kita kita sanggup berkorban apa sahaja. Jadi untuk cinta Allah dan Allah membalas cinta kita syarat-syarat di atas perlu ada. Apalah erti CINTA jika tidak sanggup berkorban lebih-lebih lagi kepada Allah.

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam bukunya berkenaan 'IYYAKA NA'BUDU WAIYYAKA NASTA'IIN' menghuraikan tentang kecintaan kepada Allah. Harus diingat Allah amat mencintai alam dan segala isinya. Allah mencipta makhluk-NYA dengan penuh rasa cinta, lebih-lebih lagi kepada khalifah-NYA iaitu manusia. Allah menyayangi makhluknya 70 kali lebih ibu menyayangi anaknya.

Menurut Imam Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah ini ada SEPULUH tahap kecintaan kepada Allah:


TAHAP PERTAMA: 'ALAQAH

Tahap yang paling rendah, secara harfiah maksudnya ada hubungan, kebergantungan, kaitan (connection). Kita dah berusaha mengingat Allah bukan sahaja ketika kita susah atau senang malah setiap saat kita mengingati-NYA (tidak pernah lupa walaupun sesaat dan tidak pernah jauh walaupun seinci) yakni kita berhubung dengan Allah. (Seringkali manusia lupa Allah bila senang, sihat atau kaya tapi ingat (berhubung dengan Allah) ketika susah, sakit atau jatuh miskin). Bila dah agak senang kita agak renggang dengan Allah sebab kita rasa dah boleh berdikari. Jika yang asas inipun tidak kuat agak susah hendak naik ke tahap yang lebih tinggi.

Maka marilah kita cuba usaha menyatukan hati kita dengan Allah dengan mencuba menyukai apa yang Allah suka dan membenci apa yang Allah tidak suka, maknanya, lalukan apa yang Allah suruh dan tinggalkan apa yang Allah larang.

Ingatlah akan sabda Nabi tentang TUJUH golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari akhirat, salah satunya ialah dua orang bani Adam yang saling menyintai kerana Allah, berjumpa dan berpisah kerana Allah. Jika hati sudah terpaut dengan ciptaan Allah, peraturan Allah, redha dengan ketentuan-NYA, mensyukuri nikmat-NYA bermakna kita sudah ada CINTA ALLAH tahap pertama ini. Bila dah ada CINTA tahap ini alhamdulillah, ini dinamakan buih-buih cinta/ benih-benih cinta, bila ada tanda-tanda ini maknanya kita sudah meresapkan sifat-sifat Allah ke dalam diri kita. Kita akan suka apa Yang Allah suka dan benci apa yang Allah benci. Kita lakukan semua ini kerana cinta, kita takkan berputus asa/tidak sabar sebagaimana semasa kita mendidik anak-anak kita sabar menegur berkali-kali.


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

TAHAP KEDUA: IRADAH

Maknanya kehendak, kecenderungan untuk mencari/menemui orang yang dicintai/yang dicari.

Bila hati dah tergerak mencintai iaitu sudah ada benih-benih cinta, sudah terpaut kita mesti berkehendak atau cenderung untuk mencari, jika yang kita cintai itu adalah manusia kita akan cari alamat rumah, bila dah jumpa tentu kita jumpa kekasih kita. Mustahil jika kita dah ada rasa cinta kita tidak mahu mencari, kita akan cari alamat dan akan cari rumahnya (jika kita dah tahu alamat tapi tidak hendak cari maknanya tidak berertilah cinta). Lalu di mana hendak cari Allah? Carilah Allah melalui ciptaan Allah. Carilah sebagaimana Nabi Ibrahim mencari Allah سبحانه وتعالى melalui bulan, bintang dan matahari serta semua ciptaan Allah, selalu orang sebut Zikir dan Fikir (Tazakkur dan tafakkur).


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

TAHAP KETIGA: SOBAABAH

Maknanya; Mencurahkan/menumpahkan/menuangkan (cuba bayangkan tuang atau curah air daripada satu baldi (bekas besar) penuh jika guna baldi, bukan menyiram sedikit-sedikt).

Ini bermaksud mencurahkan sepenuh hati rasa cinta. Cinta yang tidak dapat dibendung lagi, bukankah dikatakan mencurahkan air yang banyak, bila dicurahkan air yang banyak tentu melimpah. Bila rasa kasih seperti ini tentulah bila kekasih panggil dia segera datang, orang lain panggil tidak dengar dah (tidak dipeduli), bila kekasih buat temujanji, temujanji yang lain-lain batal. Bila seruan Haiyya 'alas solah, Haiyya 'alal falah tinggalkan segera kerja-kerja lain tanpa tangguh seminitpun kerana panggilan kekasih lebih penting daripada yang lain-lain. Itulah cinta pada tahap ini. CINTA dicurahkan hanya kepada Allah.


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

TAHAP KEEMPAT: GHARAB

Maksudnya menyala-nyala/ berkobar-kobar. Cinta yang tidak boleh dipisahkan lagi sebagaimana Laila dan Majnun, tatkala ini panas terik atau hujan lebat dan guruh berdentumpun tidak terasa.

Cinta peringkat ini semuanya indah belaka, tersangat puas (perasaan yang sangat sukar hendak digambarkan, seumpama hendak terangkan pedas cili kepada orang yang belum pernah makan cili) setiap orang yang bercinta pasti pernah merasai ini, alangkah baiknya jika cinta seumpama ini ditujukan kepada Allah, sebagaimana bahagianya Ashabul Kahfi di dalam gua padahal apalah yang ada dalam gua.


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

TAHAP KELIMA: WIDAD

Widad iaitu menyatakan cinta/kasih sayang dengan perbuatan; atau kasih sayang yang diterjemahkan melalui perbuatan; rela berkorban apa sahaja; ini boleh dikaitkan dengan mawaddatan wa rahmah yang Allah kurniakan kepada pasangan suami isteri. Apakah yang dapat kita fahami daripada dua perkataan ini? Dua-dua perkataan ini maksudnya sama iaitu kasih sayang dan belas kasihan. Mawaddah bermaksud kasih sayang dan belas kasihan yang ditunjukkan melalui perbuatan manakala rahmah tidak melalui perbuatan. Contoh: Pasangan ketika muda, masih bertenaga, mereka boleh menunjukkan kasih sayang dengan perbuatan dan juga melalui luahan perasaan dan sebagainya tetapi apabila pasangan ini sudah tua, katakanlah seorang usianya sudah 95 manakala pasangannya pula 85, tidak mampu lagi keduanya saling melayan sesama mereka, hendak menyuap makanan ke mulut masing-masingpun mungkin sudah tidak berdaya lagi tetapi perasaan mereka masih kuat saling menyayangi, yang ini yang dimalsudkan rahmah.


Dalam Surah Ar-Rum Ayat 21 Allah سبحانه وتعالى berfirman (maksudnya):

♥ ♥ ♥ ♥ "Dan antara tanda-tanda yang membuktikan kekuasaan-NYA dan rahmat-NYA bahawa Dia menciptakan untukmu (wahai golongan lelaki) isteri-isteri daripada jenismu sendiri supaya kamu bersenang hati dan hidup mesra dengannya dan dijadikan antara kamu (suami isteri) kasih sayang dan belas kasihan, sesungguhnya yang demikian itu mengandungi keterangan-keterangan yang menimbulkan kesedaran bagi orang-orang yang berfikir." (Ar-Rum: 21)

Ramai yang mengaku cinta Allah tetapi ramai yang tidak dapat tunjuk. Sebab itulah Allah bagi petunjuk dalam ayat 31 Surah Ali-Imran:

♥ ♥ ♥ ♥ "Katakanlah (wahai Muhammad): "Jika benar kamu mengasihi Allah maka ikutilah daku, nescaya Allah mengasihi kamu serta mengampunkan dosa-dosa kamu. Dan (ingatlah), Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.” (A-li'Imraan: 31)

Allah menyuruh Nabi memberitahu kita dengan berkata: "Wahai manusia yang mendakwa cinta kepada Allah! Kamu kena tunjuk dengan perbuatan, kamu kena ikut apa yang aku suruh. Bila kamu dah buat seperti aku barulah Allah mengasihi/mencintai kamu dan mengampunkan dosa kamu". Begitulah yang dinamakan widad - kena lakukan/kena amal.

Jika tidak ada syarat ini tiadalah istilah pengorbanan. Pengorbanan di sini ialah ikutlah rasul jika mahu cinta dibalas oleh Allah.


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

TAHAP KEENAM: SHAGHAF

Maksudnya memujuk/ merayu kerana cinta yang mendalam menusuk /meresap ke lubuk hati sebagaimana cinta Zulaikha kepada Nabi Yusof seperti dalam surah Yusof ayat 30 di bawah (maksudnya):

♥ ♥ ♥ ♥ "Dan (sesudah itu) perempuan-perempuan di bandar Mesir (mencaci hal Zulaikha dengan) berkata: Isteri Al-Aziz itu memujuk hambanya (Yusuf) berkehendakkan dirinya, sesungguhnya cintanya (kepada Yusuf) itu sudahlah meresap ke dalam lipatan hatinya; sesungguhnya kami memandangnya berada dalam kesesatan yang nyata." (Yusuf: 30)

Cinta pada tahap ini meresap ke dalam hati, tidak kisah apa orang hendak kata, biarpun Zulaikha itu isteri kepada penguasa Mesir (al-Aziz) dia tidak kisah mencintai Yusof yang entah daripada mana asalnya, hamba pula kepada al-Aziz. (tentulah kita tidak disuruh berakhlak seperti Zulaikha ini - kisah dalam al-Quran adalah sebagai teladan dan sempadan buat kita) tapi kisah ini hendak tunjukkan tahap cinta peringkat shaghaf ni dia tidak kisah apa orang hendak kata.

Ini samalah dengan ayat Al-Maaidah 54 tadi. Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم pun ketika orang-orang kafir mencela, Nabi tetap CINTA ALLAH. Kalau kita berada pada tahap ini kita berdakwah kita tidak takut orang-orang sekeliling menyindir kita. Samalah juga seperti Nabi Ibrahim ketika hendak menyembelih Nabi Ismail tentu jika orang melihat orang akan mencelanya (bukankah perkara gila hendak sembelih anak sendiri?) tetapi kerana Cinta Allah melebihi segala-galanya Nabi Ibrahim as tidak peduli apa orang hendak kata.

Dalam hal ini jika kita lakukan yang betul biarlah orang menghina kita. Contohnya jika kita ke Makkah mengerjakan haji kita terpaksa pilih pakej termurah, berjalan kaki, tidur beralaskan lengan bertilamkan tanah berbumbungkan langit pun tidak mengapa asal kita CINTA ALLAH; inilah shaghaf. Dalam keadaan apapun kita, ketika sakit, bila kita bergerak sedikitpun kita rasa sakit kita tetap buat perintah Allah; inilah SHAGHAF.


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

TAHAP KETUJUH: 'ISQUN ATAU 'ASYIK (BUKAN KHAYAL)

Makna mendapat kepuasan, ketenangan, kebahagiaan. Ketika pada tahap shaghaf tadi, mula-mula rasa tertekan tetapi akhirnya walaupun dikutuk dia mendapat kenikmatan, nikmat sabar, nikmat syukur dan nikmat ridha. Kenapa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم berdoa:

♥ ♥ ♥ ♥ “Ya Allah jadikan hambaMu ini sehari kenyang dan sehari lapar”? Sebabnya ialah kerana Nabi ingin jadi hamba Allah yang bersyukur, dan sabar, baginda ingin mendapatkan kepuasan / nikmat syukur selepas kenyang dan nikmat sabar ketika lapar.

Bagi orang-orang yang 'isqun; sabar itu pahit. Pepatah Arab mengatakan

|| "Kesabaran itu seperti bakawali, pahit rasanya tetapi akibat/kesudahannya lebih manis daripada madu."

Orang-orang yang 'isqun ini merasai kemanisan bersabar dan kenikmatan dalam berjihad. Cuba kita kaitkan dengan perasaan kita ketika kita ada anak yang masih bayi, masa tu kita masih lagi belum sihat (ibu-ibu dalam pantang) bila bayi terjaga kita yang mengantukpun tidak terasa; itulah namanya asyik jaga bayi, tidak terasa sakit, mengantuk ataupun penat. Walaupun sebenarnya kita sedang sakit, mengantuk dan penat tapi kita puas jaga bayi kecil kita, itulah kenikmatan yang dirasakan. Cuba buat seperti ini kepada Allah, tetapi biasanya orang asyik kepada umpamanya berkayak, bermain golf, jungle tracking, berenang selat Inggeris, mendaki gunung, cuba tanya kepada mereka ini sama ada mereka penat atau tidak? Tentu jawapannya penat tetapi puas.


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

TAHAP KELAPAN: TATAIYYUM

Berasal daripada perkataan anyutmu, mufradnya yutmun maksudnya sendirian umpama anak yatim yang ditinggalkan (kematian) ibu bapanya/ keseorangan.

Peringkat cinta seperti ini ialah merendahkan diri/bersendirian. Jika cinta Allah dia merendahkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, merasa sendirian sama seperti anak yatim, dia merasai tidak punya apa-apa kecuali ALLAH سبحانه وتعالى, walaupun dia berada di tengah-tengah keramaian selagi dia tidak merasa berada di sisi kekasihnya dia rasa sepi. Setelah dia berasa berada di sisi kekasihnya dia rasa kaya. Nabi bersabda dalam hadis Qudsi, Allah سبحانه وتعالى berfirman:

♥ ♥ ♥ ♥ "Wahai anak adam! carilah oleh kamu akan Aku pasti kamu mendapatkan Aku dan jika engkau telah berjaya mendapatkan Aku, engkau telah mendapat segala-galanya jika kamu gagal mendapatkan Aku, kamu akan kehilangan segala-galanya".

Orang yang berada pada tahap ini dia tidak perlu takut, jika dia miskin dia tidak perlu takut kerana Allah Pemberi rezeki, jika dia sakit dia tidak perlu khuatir kerana Allah Maha Penyembuh, jika dia dianiayai kenapa perlu bersedih, ALLAH Maha Pelindung dan seterusnya, seterusnya. Seorang solufussalih pernah berkata:

|| "Saya adalah hamba kepada Allah yang Maha Kaya, aku tidak takut miskin, bagaimana aku takut miskin sedangkan aku hamba kepada Allah Yang Maha Kaya."

Biasanya kita bila ada kawan kita tidak rasa kesunyian, bila ada segala-galanya kita rasa aman, tetapi bagi orang mukmin wajib merasai memiliki ketenangan bila ada Yang Mencipta bukan yang dicipta.


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

TAHAP KESEMBILAN: TA'ABBUD

Berasal daripada perkataan 'abdun (hamba) – memperhambakan.

Orang yang ada Cinta pada tahap ini mempunyai 3 tanda:

• Dia tidak melihat segala apa yang ada pada tangannya sebagai miliknya kerana pemilik sebenarnya ialah Allah. Dia datang ke dunia tidak bawa apa-apa bahkan dirinyapun milik Allah (Inna Lillahi Wainna Ilaihi Raaji'uun).

• Oleh sebab segala yang ada pada dirinya bukan miliknya, dia memastikan segala apa yang dilakukannya sesuai/selari dengan kehendak pemilik sebenar. Umur, tenaga, anggota, masa, ilmu, kesihatan, rezeki dan segala-galanya adalah milik Allah.

• Dia tidak memastikan dirinya melakukan sesuatu amalan pada masa hadapan melainkan dengan izin Allah. Contoh dia hendak pergi ke satu tempat esok pagi, dia kena kata InsyaAlah, tidak pernah kata pasti saya akan pergi. Ini untuk menunjukkan satu bentuk kenyataan bahawa kita manusia ini lemah, hendak pastikan kita bangun pagi pun kita tidak dapat, hendak pastikan sihat ke dan macam-macam lagi semuanya boleh dilakukan dengan pertolongan Allah semata-mata. Tanpa pertolongan-NYA segalanya tidak berlaku.


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

TAHAP KE SEPULUH: KHULLATUN (KHULLAH)

Makna asalnya kosong. Sesorang hamba Allah yang mempunyai cinta tahap ini dipanggil Khalilullah kerana cintanya peringkat tertinggi.

Dalam al-Quran Allah panggil Nabi Ibrahim Khalilullah kerana cintanya peringkat tertinggi. Dalam hatinya kosong, yang ada hanya Allah سبحانه وتعالى. Dia tidak rela ada penghalang antara dia dengan Allah. Sekuat mana kasihnya kepada puteranya Ismail, disembelihnya kerana semata-mata menurut arahan Allah. Walaupun hakikatnya tidaklah disembelihnya Ismail itu tetapi Nabi Ibrahim telahpun melakukan perintah Allah dan oleh kerana Nabi Ibrahim Dengar dan Taat. Allah gantikan dengan seekor kibas. Nabi Ibrahim diberi isteri bernama Siti Hajar yang juga Khullah.

Selepas membaca tahap-tahap kecintaan ini, kita bolehlah menilai diri kita pada tahap manakah CINTA KITA KEPADA ALLAH. Jika kita beraada pada tahap PERTAMA berusahalah untuk naik ke tingkat KEDUA dan seterusnya hingga ke peringkat tertinggi yang sama seperti yang dicapai oleh Nabi Ibrahim alaihissalam.

Semoga kita dapat membina hubungan CINTA kepada Allah supaya cinta kita berbalas. Pasti ada syarat-syaratnya untuk Allah membalas cinta kita.


_______
Disunting dari: http://permatainn.blogspot.com/2011/03/cinta.html