:: MEREKA YANG DIINGINKAN KEBAIKAN (DITINGGIKAN DERAJAT AKHIRATNYA) OLEH ALLAH



بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم

Siapakah diantara kita yang tidak ingin diberikan kebaikan oleh Allah? Semoga kita termasuk dari mereka:

1. Dibukanya pintu amal (dikaryakan) sebelum kematian menjelang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا أراد الله بعبد خيرا استعمله قيل : ما يستعمله ؟ قال : يفتح له عملا صالحا بين يدي موته حتى يرضي عليه من حوله

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan jadikan ia beramal.” Dikatakan, “Apakah dijadikan beramal itu?” Beliau bersabda, “Allah bukakan untuknya pintu beramal shalih sebelum meninggalnya, sehingga orang-orang yang berada di sekitarnya ridla kepadanya.” (HR Ahmad dan Al Hakim dari Amru bin Al Hamq).

2. Dipercepat Hukuman/Sanksinya di Dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا و إذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hambaNya, Allah akan segerakan sanksi untuknya di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan kepada hambaNya, Allah akan membiarkan dosanya (di dunia) sampai Allah membalasnya pada hari kiamat.” (HR At Tirmidzi dan Al Hakim dari Anas bin Malik).

Namun kita tidak diperkenankan untuk meminta kepada Allah agar dipercepat sanksi kita di dunia, karena kita belum tentu mampu menghadapinya.

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَادَ رَجُلاً مِنَ الْمُسْلِمِينَ قَدْ خَفَتَ فَصَارَ مِثْلَ الْفَرْخِ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « هَلْ كُنْتَ تَدْعُو بِشَىْءٍ أَوْ تَسْأَلُهُ إِيَّاهُ ». قَالَ نَعَمْ كُنْتُ أَقُولُ اللَّهُمَّ مَا كُنْتَ مُعَاقِبِى بِهِ فِى الآخِرَةِ فَعَجِّلْهُ لِى فِى الدُّنْيَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « سُبْحَانَ اللَّهِ لاَ تُطِيقُهُ – أَوْ لاَ تَسْتَطِيعُهُ – أَفَلاَ قُلْتَ اللَّهُمَّ آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ». قَالَ فَدَعَا اللَّهَ لَهُ فَشَفَاهُ.

“Dari Anas, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah menjenguk seseorang dari kaum muslimin yang telah kurus bagaikan anak burung. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah kamu berdo’a dengan sesuatu atau kamu memintanya?” Ia berkata, “Ya, aku berdo’a, “Ya Allah siksa yang kelak Engkau berikan kepadaku di akhirat segerakanlah untukku di dunia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Subhanallah, kamu tidak akan mampu itu. Mengapa kamu tidak berkata, “Ya Allah berikan kepada kami di dunia kebaikan dan di akhirat kebaikan dan peliharalah kami dari adzab Neraka.” Maka orang itupun berdo’a dengannya. Allah pun menyembuhkannya.” (HR Muslim).

3. Diberikan Cobaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

من يرد الله به خيرا يصب منه

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan, Allah akan memberinya musibah.” (HR Ahmad dan Al Bukhari dari Abu Hurairah).

Cobaan pasti akan menerpa kehidupan mukmin, karena itu janji Allah:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

“Sungguh, Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.” (QS Al Baqarah: 155).

Cobaan itu untuk menggugurkan dosa dan mengangkat derajat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ أَوْ الْمُؤْمِنَةِ فِي جَسَدِهِ وَفِي مَالِهِ وَفِي وَلَدِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Senantiasa ujian itu menerpa mukmin atau mukminah pada jasadnya, harta dan anaknya sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak mempunyai dosa.” (HR Ahmad dengan sanad yang hasan).

4. Difaqihkan (difahamkan) Dalam Agama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam agama.” HR Al Bukhari dan Muslim).

Kefaqihan adalah pemahaman yang Allah berikan kepada seorang hamba. Pemahaman yang lurus terhadap Al Qur’an dan hadits berasal dari kebeningan hati dan aqidah yang shahih. Karena hati yang dipenuhi oleh hawa nafsu tidak akan dapat memahami Al Qur’an dan hadits dengan benar. Sebagaimana yang dikabarkan oleh nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kaum khawarij yang membaca Al Qur’an:

يَخْرُجُ قَوْمٌ مِنْ أُمَّتِى يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَيْسَ قِرَاءَتُكُمْ إِلَى قِرَاءَتِهِمْ بِشَىْءٍ وَلاَ صَلاَتُكُمْ إِلَى صَلاَتِهِمْ بِشَىْءٍ وَلاَ صِيَامُكُمْ إِلَى صِيَامِهِمْ بِشَىْءٍ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ

“Akan keluar suatu kaum dari umatku, mereka membaca Al Qur’an. Bacaan kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bacaan Al Qur’an mereka, shalat dan puasa kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan shalat dan puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an dan menyangka bahwa Al Qur’an mendukung mereka padahal Al Qur’an tidak mendukung mereka.” (HR Muslim).

Itu semua akibat kedangkalan ilmu dan mengikuti hawa nafsu, sehingga mereka tidak diberikan pemahaman yang benar terhadap Al Qur’an dan hadits. Mereka mengira bahwa ayat Al Qur’am mendukung perbuatan mereka, padahal tidak demikian. Tentu yang memahaminya adalah orang-orang yang Allah faqihkan dalam agama dan selamatkan dari hawa nafsu.

5. Diberikan Kesabaran.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
و ما أعطي أحد عطاء خيرا و أوسع من الصبر

“Tidaklah seseorang diberikan dengan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran.” (HR Al Bukhari dan Muslim).

Kesabaran dalam keimanan bagaikan kepala untuk badan. Badan tak akan hidup tanpa kepala, demikian pula iman tak akan hidup tanpa kesabaran. Untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya amat membutuhkan kesabaran. Karena Iblis dan balatentaranya tak pernah diam untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah.

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

“Tidak ada yang diberikan (sifat-sifat yang terpuji ini) kecuali orang-orang yang sabar, dan tidak ada yang diberikannya kecuali orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Fushilat: 35).

Semoga Allah Ta'ala senantiasa membimbing kita dan menyampaikan kita pada ampunan, rahmat , ridha serta Cinta Nya. اَمِيـْنْ يَـارَبَّ الْعَـالَمِيْــ



 



Wallahu a'lam bishawab
Oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc

:: 4 TINGKAT MANUSIA DALAM MENGHADAPI UJIAN/MUSIBAH




Bismillahirrahmanirrahim ..

Manusia terbagi menjadi 4 tingkatan dalam menghadapi ujian atau musibah.

1. Tingkatan Pertama : Mengeluh , Kesal dan Marah

Ini terbagi kepada beberapa macam:

Terjadi di dalam hati, misalnya jengkel terhadap Tuhan karena taqdir buruk menimpanya. Ini dilarang dalam Islam, terkadang malah bisa menjerumuskan kepada kekufuran. Allah Ta’ala berfirman: "Di antara manusia ada yang menyembah Allah dengan berada di tepi, maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keaadaan itu, dan jika ditimpa suatu bencana berbaliklah ia ke belakang. Ia rugi dunia dan akhirat" [QS.Al-Hajj : 11]

Dengan lidah, misalnya putus asa, meminta celaka atau berdoa keburukan yang lainnya.
Dengan anggota tubuh , melampiaskan dengan melukai tubuh sendiri/orang lain.

Semua ini dilarang karena bertentangan dengan sabar yang merupakan kewajiban setiap muslim.


2. Tingkatan Kedua : Bersabar

Seperti diucapkan oleh seorang penyair "sabar seperti namanya, pahit rasanya tetapi lebih manis hasilnya dari pada madu" Maka orang ini akan melihat bahwa suatu musibah itu berat, namun ia tetap menjaga imannya sehingga tidak marah-marah, meski ia berpandangan bahwa adanya musibah itu dan ketiadaannya tidaklah sama. Ini hukumnya wajib karena Allah Ta’ala memerintahkan untuk bersabar.

Dia berfirman : "Bersabarlah kalian, sesunguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar" [ QS.Al-Anfa : 46]


3. Tingkatan Ketiga: Ridha, dalam arti Ikhlas

Yakni manusia ridha dengan musibah yang menimpanya. Ia berpandangan bahwa ada dan tidaknya musibah sama saja baginya, sehingga adanya musibah tadi tidak memberatkannya. Ia pun tidak merasa berat memikulnya.
Perbedaan tingkatan tiga ini dengan tingkatan sebelumnya nampak jelas karena adanya musibah dan tidak adanya sama saja dalam tingkatan ridha. Adapun pada tingkatan sebelumnya, jika ada musibah dia merasakan berat, namun ia tetap bersabar.


4. Tingkatan Keempat : Bersyukur

Ini merupakan tingkatan yang paling tinggi. Di sini seseorang bersyukur atas ujian/musibah yang menimpanya karena ia memahami bahwa musibah ini menjadi sebab pengampunan kesalahan-kesalahannya, bahkan dapat menambah pahala kebaikannya.

Lalu mereka menghadap Rabbnya sedangkan dosa-dosa mereka telah berguguran, dan derajat keimanan yang semakin baik.

Dari Abu Hurairah katanya, Rasulullah SAW bersabda,

" Ujian akan terus menimpa seorang mukmin; laki-laki dan perempuan, menimpa dirinya, anaknya, dan hartanya, sehingga ia berjumpa dengan Allah tanpa membawa dosa." [at-Tirmidzi]



Wallahu a'lam bishawab
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Semoga bermanfaat ..

:: BELAJAR IKHLAS

Bismillahirrahmanirrahim..


IKHLAS seperti yang mudah diucapkan, tetapi sulit dilaksanakan. Karena itu, kita perlu belajar dan membiasakan diri menjadi mukhlis (orang yang ikhlas).

Dari segi bahasa, ikhlas itu mengandung makna memurnikan dari kotoran, membebaskan diri dari segala yang merusak niat dan tujuan kita dalam melakukan suatu amalan.

Ikhlas juga mengandung arti meniadakan segala penyakit hati, seperti syirik, riya, munafik, dan takabur dalam ibadah. Ibadah yang ikhlas adalah ibadah yang dilakukan semata-mata karena Allah سبحانه وتعالى.

Ungkapan “semata-mata karena Allah سبحانه وتعالى” setidaknya mengandung tiga dimensi penghambaan, yaitu niatnya benar karena Allah (shalih al-niyyat), sesuai tata caranya (shalih al-kaifiyyat), dan tujuannya untuk mencari ridha Allah سبحانه وتعالى (shalih al-ghayat), bukan karena mengharap pujian, sanjungan, apresiasi, dan balasan dari selain Allah سبحانه وتعالى.

Beribadah secara ikhlas merupakan dambaan setiap Mukmin yang saleh karena ikhlas mengantarkannya untuk benar-benar hanya menyembah atau beribadah kepada Allah سبحانه وتعالى, tidak menyekutukan atau menuhankan selain- Nya.

“Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” ( An-Nisa’ [4]: 36)

Jika ikhlas sudah menjadi karakter hati dalam beramal ibadah, niscaya keberagamaan kita menjadi lurus, benar, dan istiqamah (konsisten). (Al-Bayyinah [98]: 5). Selain kunci diterima tidaknya amal ibadah kita oleh Allah سبحانه وتعالى, ikhlas juga membuat “kinerja (sesuatu yang dicapai)” kita bermakna dan tidak sia-sia. Kinerja yang bermakna adalah kinerja yang berangkat dari hati yang ikhlas.


Menurut Imam Al-Ghazali, peringkat ikhlas itu ada TIGA.

✔ Pertama, IKHLAS AWAM yakni ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dilandasi perasaan takut kepada siksa-Nya dan masih mengharapkan pahala dari-Nya.

✔ Kedua, IKHLAS KHAWAS,ialah ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena dimotivasi oleh harapan agar menjadi hamba yang lebih dekat dengan-Nya dan dengan kedekatannya kelak ia mendapatkan “sesuatu” dari-Nya.

✔ Ketiga, IKHLAS KHAWAS AL-KHAWAS adalah ikhlas dalam beribadah kepada Allah karena atas kesadaran yang tulus, kecintaan dan keinsyafan yang mendalam bahwa segala sesuatu yang ada adalah milik Allah dan hanya Dia-lah Tuhan yang wajib disembah.

Ikhlas merupakan komitmen tertinggi yang seharusnya ditambatkan oleh setiap Mukmin dalam hatinya: sebuah komitmen tulus ikhlas yang sering dinyatakan dalam doa iftitah. "(Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku semata-mata karena Allah Tuhan semesta alam)." (Al-An’am [6]: 162)

Sifat dan perbuatan hati yang ikhlas itu merupakan perisai moral yang dapat menjauhkan diri dari godaan setan (Iblis). Menurut At-Thabari, hamba yang mukhlis adalah orang-orang Mukmin yang benar-benar tulus sepenuh hati dalam beribadah kepada Allah, sehingga hati yang murni dan benar-benar tulus itu menjadi tidak mempan dibujuk rayu dan diprovokasi setan.

Semoga Allah SWT menjadikan kita pribadi-pribadi yang ikhlas , dalam laku, amal, dan ibadah mengharap ridha dan cinta Allah semata. Aamin.


Wallahu a'lam bishawab

Muhbib Abdul Wahab

::: TAHAP-TAHAP CINTA KEPADA ALLAH .. :::




TAHAP-TAHAP CINTA KEPADA ALLAH
(Menurut Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah)



Bismillahirrahmannirahim,
 
DI DALAM al-Quran, ada disebutkan bahawa hanya orang-orang yang membawa hati yang sejahtera sahaja yang akan menemui Allah atau diterima Allah. Firman Allah subhanahu wa ta'ala di dalam surah al-Shu’araa’ ayat 88-89:

♥ ♥ ♥ ♥ “Hari (Akhirat adalah hari) yang tidak bermanfaat lagi harta mahu pun anak pinak. Kecuali seseorang yang datang kepada Allah dengan membawa hati yang sejahtera”

Banyak sifat-sifat mahmudah yang perlu disemaikan dalam jiwa kita untuk mendapatkan hati yang sejahtera yang akhirnya diterima oleh Allah. Sifat-sifat yang perlu ada pada kita ialah:

CINTA KEPADA ALLAH atau HUBBULLAH atau MAHABBATULLAH

Dalam dunia akhlak, CINTA KEPADA ALLAH merupakan tempat persinggahan bagi sesiapa yang berjalan menuju Allah, menjadi santapan hati, makanan roh; ertinya hati sentiasa sihat dan kenyang apabila ada rasa cinta kepada Allah; CINTA KEPADA ALLAH merupakan kehidupan sehingga orang yang memilikinya tidak pernah mati, CINTA KEPADA ALLAH ialah cahaya/nur; sesiapa yang memiliki cinta ini tidak akan merasai kegelapan. Cinta adalah kelazatan, sesiapa yang memilikinya pasti tidak merasai kesengsaraan. Cinta pasti menghantar seseorang ke tempat tujuan yang hendak dicapai, bahkan sesiapa yang ADA PADA HATINYA CINTA KEPADA ALLAH digambarkan oleh Allah hamba yang paling ideal. DIA MENCINTAI ALLAH DAN ALLAH MENCINTAINYA. Ini digambarkan oleh Allah dalam surah Al-Maaidah ayat 54, maksudnya:

♥ ♥ ♥ ♥ "Wahai orang-orang yang beriman! Sesiapa di antara kamu berpaling tadah daripada agamanya (jadi murtad), maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia kasihkan mereka dan mereka juga kasihkan Dia; mereka pula bersifat lemah-lembut terhadap orang-orang yang beriman dan berlaku tegas gagah terhadap orang-orang kafir, mereka berjuang dengan bersungguh-sungguh pada jalan Allah dan mereka tidak takut kepada celaan orang yang mencela. Yang demikian itu adalah limpah kurnia Allah yang diberikan-NYA kepada sesiapa yang dikehendaki-NYA; kerana Allah Maha Luas limpah kurnia-NYA, lagi Meliputi Pengetahuan-NYA.” (Al-Maaidah: 54)

Dalam ayat di atas Allah beritahu ciri-ciri manusia yang paling ideal yang memenuhi syarat CINTA KEPADA ALLAH, MANUSIA YANG PALING DEKAT DENGAN ALLAH; iaitu kecintaan mereka kepada Allah sehingga Allah juga cinta kepada mereka, mereka merendah diri kepada orang-orang mukmin, kerana Allah mencintai orang-orang mukmin: mereka bersifat tegas kepada orang-orang kafir kerana Allah juga bersikap keras terhadap orang-orang kafir; mereka sanggup berkorban dan berjuang bersungguh-sungguh menegakkan agama Allah, dan mereka tidak takut kepada celaan orang. Mereka tidak rasa terhina apabila dihina oleh orang asalkan kekasihnya melihatnya mulia, sebaliknya mereka rasa terhina jika kekasihnya (Allah) menghinanya walaupun seluruh dunia memujinya. Jika kita cinta sesama pasanggan kita kita sanggup berkorban apa sahaja. Jadi untuk cinta Allah dan Allah membalas cinta kita syarat-syarat di atas perlu ada. Apalah erti CINTA jika tidak sanggup berkorban lebih-lebih lagi kepada Allah.

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dalam bukunya berkenaan 'IYYAKA NA'BUDU WAIYYAKA NASTA'IIN' menghuraikan tentang kecintaan kepada Allah. Harus diingat Allah amat mencintai alam dan segala isinya. Allah mencipta makhluk-NYA dengan penuh rasa cinta, lebih-lebih lagi kepada khalifah-NYA iaitu manusia. Allah menyayangi makhluknya 70 kali lebih ibu menyayangi anaknya.

Menurut Imam Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah ini ada SEPULUH tahap kecintaan kepada Allah:


TAHAP PERTAMA: 'ALAQAH

Tahap yang paling rendah, secara harfiah maksudnya ada hubungan, kebergantungan, kaitan (connection). Kita dah berusaha mengingat Allah bukan sahaja ketika kita susah atau senang malah setiap saat kita mengingati-NYA (tidak pernah lupa walaupun sesaat dan tidak pernah jauh walaupun seinci) yakni kita berhubung dengan Allah. (Seringkali manusia lupa Allah bila senang, sihat atau kaya tapi ingat (berhubung dengan Allah) ketika susah, sakit atau jatuh miskin). Bila dah agak senang kita agak renggang dengan Allah sebab kita rasa dah boleh berdikari. Jika yang asas inipun tidak kuat agak susah hendak naik ke tahap yang lebih tinggi.

Maka marilah kita cuba usaha menyatukan hati kita dengan Allah dengan mencuba menyukai apa yang Allah suka dan membenci apa yang Allah tidak suka, maknanya, lalukan apa yang Allah suruh dan tinggalkan apa yang Allah larang.

Ingatlah akan sabda Nabi tentang TUJUH golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari akhirat, salah satunya ialah dua orang bani Adam yang saling menyintai kerana Allah, berjumpa dan berpisah kerana Allah. Jika hati sudah terpaut dengan ciptaan Allah, peraturan Allah, redha dengan ketentuan-NYA, mensyukuri nikmat-NYA bermakna kita sudah ada CINTA ALLAH tahap pertama ini. Bila dah ada CINTA tahap ini alhamdulillah, ini dinamakan buih-buih cinta/ benih-benih cinta, bila ada tanda-tanda ini maknanya kita sudah meresapkan sifat-sifat Allah ke dalam diri kita. Kita akan suka apa Yang Allah suka dan benci apa yang Allah benci. Kita lakukan semua ini kerana cinta, kita takkan berputus asa/tidak sabar sebagaimana semasa kita mendidik anak-anak kita sabar menegur berkali-kali.


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

TAHAP KEDUA: IRADAH

Maknanya kehendak, kecenderungan untuk mencari/menemui orang yang dicintai/yang dicari.

Bila hati dah tergerak mencintai iaitu sudah ada benih-benih cinta, sudah terpaut kita mesti berkehendak atau cenderung untuk mencari, jika yang kita cintai itu adalah manusia kita akan cari alamat rumah, bila dah jumpa tentu kita jumpa kekasih kita. Mustahil jika kita dah ada rasa cinta kita tidak mahu mencari, kita akan cari alamat dan akan cari rumahnya (jika kita dah tahu alamat tapi tidak hendak cari maknanya tidak berertilah cinta). Lalu di mana hendak cari Allah? Carilah Allah melalui ciptaan Allah. Carilah sebagaimana Nabi Ibrahim mencari Allah سبحانه وتعالى melalui bulan, bintang dan matahari serta semua ciptaan Allah, selalu orang sebut Zikir dan Fikir (Tazakkur dan tafakkur).


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

TAHAP KETIGA: SOBAABAH

Maknanya; Mencurahkan/menumpahkan/menuangkan (cuba bayangkan tuang atau curah air daripada satu baldi (bekas besar) penuh jika guna baldi, bukan menyiram sedikit-sedikt).

Ini bermaksud mencurahkan sepenuh hati rasa cinta. Cinta yang tidak dapat dibendung lagi, bukankah dikatakan mencurahkan air yang banyak, bila dicurahkan air yang banyak tentu melimpah. Bila rasa kasih seperti ini tentulah bila kekasih panggil dia segera datang, orang lain panggil tidak dengar dah (tidak dipeduli), bila kekasih buat temujanji, temujanji yang lain-lain batal. Bila seruan Haiyya 'alas solah, Haiyya 'alal falah tinggalkan segera kerja-kerja lain tanpa tangguh seminitpun kerana panggilan kekasih lebih penting daripada yang lain-lain. Itulah cinta pada tahap ini. CINTA dicurahkan hanya kepada Allah.


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

TAHAP KEEMPAT: GHARAB

Maksudnya menyala-nyala/ berkobar-kobar. Cinta yang tidak boleh dipisahkan lagi sebagaimana Laila dan Majnun, tatkala ini panas terik atau hujan lebat dan guruh berdentumpun tidak terasa.

Cinta peringkat ini semuanya indah belaka, tersangat puas (perasaan yang sangat sukar hendak digambarkan, seumpama hendak terangkan pedas cili kepada orang yang belum pernah makan cili) setiap orang yang bercinta pasti pernah merasai ini, alangkah baiknya jika cinta seumpama ini ditujukan kepada Allah, sebagaimana bahagianya Ashabul Kahfi di dalam gua padahal apalah yang ada dalam gua.


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

TAHAP KELIMA: WIDAD

Widad iaitu menyatakan cinta/kasih sayang dengan perbuatan; atau kasih sayang yang diterjemahkan melalui perbuatan; rela berkorban apa sahaja; ini boleh dikaitkan dengan mawaddatan wa rahmah yang Allah kurniakan kepada pasangan suami isteri. Apakah yang dapat kita fahami daripada dua perkataan ini? Dua-dua perkataan ini maksudnya sama iaitu kasih sayang dan belas kasihan. Mawaddah bermaksud kasih sayang dan belas kasihan yang ditunjukkan melalui perbuatan manakala rahmah tidak melalui perbuatan. Contoh: Pasangan ketika muda, masih bertenaga, mereka boleh menunjukkan kasih sayang dengan perbuatan dan juga melalui luahan perasaan dan sebagainya tetapi apabila pasangan ini sudah tua, katakanlah seorang usianya sudah 95 manakala pasangannya pula 85, tidak mampu lagi keduanya saling melayan sesama mereka, hendak menyuap makanan ke mulut masing-masingpun mungkin sudah tidak berdaya lagi tetapi perasaan mereka masih kuat saling menyayangi, yang ini yang dimalsudkan rahmah.


Dalam Surah Ar-Rum Ayat 21 Allah سبحانه وتعالى berfirman (maksudnya):

♥ ♥ ♥ ♥ "Dan antara tanda-tanda yang membuktikan kekuasaan-NYA dan rahmat-NYA bahawa Dia menciptakan untukmu (wahai golongan lelaki) isteri-isteri daripada jenismu sendiri supaya kamu bersenang hati dan hidup mesra dengannya dan dijadikan antara kamu (suami isteri) kasih sayang dan belas kasihan, sesungguhnya yang demikian itu mengandungi keterangan-keterangan yang menimbulkan kesedaran bagi orang-orang yang berfikir." (Ar-Rum: 21)

Ramai yang mengaku cinta Allah tetapi ramai yang tidak dapat tunjuk. Sebab itulah Allah bagi petunjuk dalam ayat 31 Surah Ali-Imran:

♥ ♥ ♥ ♥ "Katakanlah (wahai Muhammad): "Jika benar kamu mengasihi Allah maka ikutilah daku, nescaya Allah mengasihi kamu serta mengampunkan dosa-dosa kamu. Dan (ingatlah), Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.” (A-li'Imraan: 31)

Allah menyuruh Nabi memberitahu kita dengan berkata: "Wahai manusia yang mendakwa cinta kepada Allah! Kamu kena tunjuk dengan perbuatan, kamu kena ikut apa yang aku suruh. Bila kamu dah buat seperti aku barulah Allah mengasihi/mencintai kamu dan mengampunkan dosa kamu". Begitulah yang dinamakan widad - kena lakukan/kena amal.

Jika tidak ada syarat ini tiadalah istilah pengorbanan. Pengorbanan di sini ialah ikutlah rasul jika mahu cinta dibalas oleh Allah.


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

TAHAP KEENAM: SHAGHAF

Maksudnya memujuk/ merayu kerana cinta yang mendalam menusuk /meresap ke lubuk hati sebagaimana cinta Zulaikha kepada Nabi Yusof seperti dalam surah Yusof ayat 30 di bawah (maksudnya):

♥ ♥ ♥ ♥ "Dan (sesudah itu) perempuan-perempuan di bandar Mesir (mencaci hal Zulaikha dengan) berkata: Isteri Al-Aziz itu memujuk hambanya (Yusuf) berkehendakkan dirinya, sesungguhnya cintanya (kepada Yusuf) itu sudahlah meresap ke dalam lipatan hatinya; sesungguhnya kami memandangnya berada dalam kesesatan yang nyata." (Yusuf: 30)

Cinta pada tahap ini meresap ke dalam hati, tidak kisah apa orang hendak kata, biarpun Zulaikha itu isteri kepada penguasa Mesir (al-Aziz) dia tidak kisah mencintai Yusof yang entah daripada mana asalnya, hamba pula kepada al-Aziz. (tentulah kita tidak disuruh berakhlak seperti Zulaikha ini - kisah dalam al-Quran adalah sebagai teladan dan sempadan buat kita) tapi kisah ini hendak tunjukkan tahap cinta peringkat shaghaf ni dia tidak kisah apa orang hendak kata.

Ini samalah dengan ayat Al-Maaidah 54 tadi. Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم pun ketika orang-orang kafir mencela, Nabi tetap CINTA ALLAH. Kalau kita berada pada tahap ini kita berdakwah kita tidak takut orang-orang sekeliling menyindir kita. Samalah juga seperti Nabi Ibrahim ketika hendak menyembelih Nabi Ismail tentu jika orang melihat orang akan mencelanya (bukankah perkara gila hendak sembelih anak sendiri?) tetapi kerana Cinta Allah melebihi segala-galanya Nabi Ibrahim as tidak peduli apa orang hendak kata.

Dalam hal ini jika kita lakukan yang betul biarlah orang menghina kita. Contohnya jika kita ke Makkah mengerjakan haji kita terpaksa pilih pakej termurah, berjalan kaki, tidur beralaskan lengan bertilamkan tanah berbumbungkan langit pun tidak mengapa asal kita CINTA ALLAH; inilah shaghaf. Dalam keadaan apapun kita, ketika sakit, bila kita bergerak sedikitpun kita rasa sakit kita tetap buat perintah Allah; inilah SHAGHAF.


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

TAHAP KETUJUH: 'ISQUN ATAU 'ASYIK (BUKAN KHAYAL)

Makna mendapat kepuasan, ketenangan, kebahagiaan. Ketika pada tahap shaghaf tadi, mula-mula rasa tertekan tetapi akhirnya walaupun dikutuk dia mendapat kenikmatan, nikmat sabar, nikmat syukur dan nikmat ridha. Kenapa Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم berdoa:

♥ ♥ ♥ ♥ “Ya Allah jadikan hambaMu ini sehari kenyang dan sehari lapar”? Sebabnya ialah kerana Nabi ingin jadi hamba Allah yang bersyukur, dan sabar, baginda ingin mendapatkan kepuasan / nikmat syukur selepas kenyang dan nikmat sabar ketika lapar.

Bagi orang-orang yang 'isqun; sabar itu pahit. Pepatah Arab mengatakan

|| "Kesabaran itu seperti bakawali, pahit rasanya tetapi akibat/kesudahannya lebih manis daripada madu."

Orang-orang yang 'isqun ini merasai kemanisan bersabar dan kenikmatan dalam berjihad. Cuba kita kaitkan dengan perasaan kita ketika kita ada anak yang masih bayi, masa tu kita masih lagi belum sihat (ibu-ibu dalam pantang) bila bayi terjaga kita yang mengantukpun tidak terasa; itulah namanya asyik jaga bayi, tidak terasa sakit, mengantuk ataupun penat. Walaupun sebenarnya kita sedang sakit, mengantuk dan penat tapi kita puas jaga bayi kecil kita, itulah kenikmatan yang dirasakan. Cuba buat seperti ini kepada Allah, tetapi biasanya orang asyik kepada umpamanya berkayak, bermain golf, jungle tracking, berenang selat Inggeris, mendaki gunung, cuba tanya kepada mereka ini sama ada mereka penat atau tidak? Tentu jawapannya penat tetapi puas.


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

TAHAP KELAPAN: TATAIYYUM

Berasal daripada perkataan anyutmu, mufradnya yutmun maksudnya sendirian umpama anak yatim yang ditinggalkan (kematian) ibu bapanya/ keseorangan.

Peringkat cinta seperti ini ialah merendahkan diri/bersendirian. Jika cinta Allah dia merendahkan diri kepada Allah سبحانه وتعالى, merasa sendirian sama seperti anak yatim, dia merasai tidak punya apa-apa kecuali ALLAH سبحانه وتعالى, walaupun dia berada di tengah-tengah keramaian selagi dia tidak merasa berada di sisi kekasihnya dia rasa sepi. Setelah dia berasa berada di sisi kekasihnya dia rasa kaya. Nabi bersabda dalam hadis Qudsi, Allah سبحانه وتعالى berfirman:

♥ ♥ ♥ ♥ "Wahai anak adam! carilah oleh kamu akan Aku pasti kamu mendapatkan Aku dan jika engkau telah berjaya mendapatkan Aku, engkau telah mendapat segala-galanya jika kamu gagal mendapatkan Aku, kamu akan kehilangan segala-galanya".

Orang yang berada pada tahap ini dia tidak perlu takut, jika dia miskin dia tidak perlu takut kerana Allah Pemberi rezeki, jika dia sakit dia tidak perlu khuatir kerana Allah Maha Penyembuh, jika dia dianiayai kenapa perlu bersedih, ALLAH Maha Pelindung dan seterusnya, seterusnya. Seorang solufussalih pernah berkata:

|| "Saya adalah hamba kepada Allah yang Maha Kaya, aku tidak takut miskin, bagaimana aku takut miskin sedangkan aku hamba kepada Allah Yang Maha Kaya."

Biasanya kita bila ada kawan kita tidak rasa kesunyian, bila ada segala-galanya kita rasa aman, tetapi bagi orang mukmin wajib merasai memiliki ketenangan bila ada Yang Mencipta bukan yang dicipta.


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

TAHAP KESEMBILAN: TA'ABBUD

Berasal daripada perkataan 'abdun (hamba) – memperhambakan.

Orang yang ada Cinta pada tahap ini mempunyai 3 tanda:

• Dia tidak melihat segala apa yang ada pada tangannya sebagai miliknya kerana pemilik sebenarnya ialah Allah. Dia datang ke dunia tidak bawa apa-apa bahkan dirinyapun milik Allah (Inna Lillahi Wainna Ilaihi Raaji'uun).

• Oleh sebab segala yang ada pada dirinya bukan miliknya, dia memastikan segala apa yang dilakukannya sesuai/selari dengan kehendak pemilik sebenar. Umur, tenaga, anggota, masa, ilmu, kesihatan, rezeki dan segala-galanya adalah milik Allah.

• Dia tidak memastikan dirinya melakukan sesuatu amalan pada masa hadapan melainkan dengan izin Allah. Contoh dia hendak pergi ke satu tempat esok pagi, dia kena kata InsyaAlah, tidak pernah kata pasti saya akan pergi. Ini untuk menunjukkan satu bentuk kenyataan bahawa kita manusia ini lemah, hendak pastikan kita bangun pagi pun kita tidak dapat, hendak pastikan sihat ke dan macam-macam lagi semuanya boleh dilakukan dengan pertolongan Allah semata-mata. Tanpa pertolongan-NYA segalanya tidak berlaku.


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

TAHAP KE SEPULUH: KHULLATUN (KHULLAH)

Makna asalnya kosong. Sesorang hamba Allah yang mempunyai cinta tahap ini dipanggil Khalilullah kerana cintanya peringkat tertinggi.

Dalam al-Quran Allah panggil Nabi Ibrahim Khalilullah kerana cintanya peringkat tertinggi. Dalam hatinya kosong, yang ada hanya Allah سبحانه وتعالى. Dia tidak rela ada penghalang antara dia dengan Allah. Sekuat mana kasihnya kepada puteranya Ismail, disembelihnya kerana semata-mata menurut arahan Allah. Walaupun hakikatnya tidaklah disembelihnya Ismail itu tetapi Nabi Ibrahim telahpun melakukan perintah Allah dan oleh kerana Nabi Ibrahim Dengar dan Taat. Allah gantikan dengan seekor kibas. Nabi Ibrahim diberi isteri bernama Siti Hajar yang juga Khullah.

Selepas membaca tahap-tahap kecintaan ini, kita bolehlah menilai diri kita pada tahap manakah CINTA KITA KEPADA ALLAH. Jika kita beraada pada tahap PERTAMA berusahalah untuk naik ke tingkat KEDUA dan seterusnya hingga ke peringkat tertinggi yang sama seperti yang dicapai oleh Nabi Ibrahim alaihissalam.

Semoga kita dapat membina hubungan CINTA kepada Allah supaya cinta kita berbalas. Pasti ada syarat-syaratnya untuk Allah membalas cinta kita.


_______
Disunting dari: http://permatainn.blogspot.com/2011/03/cinta.html

::: AL WALI - DEKAT DI SISI ALLAH .. :::


Bismillahirahmannirahim,

♥ ♥ ♥ ♥ "Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu mengenai Aku maka (beritahu kepada mereka): SESUNGGUHNYA AKU (ALLAH) SENTIASA HAMPIR (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu. Maka hendaklah mereka menyahut seruanKu (dengan mematuhi perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu supaya mereka menjadi baik serta betul." (Al-Baqarah [2] : 186)

♥ ♥ ♥ ♥ “Dan demi sesungguhnya, Kami telah mencipta manusia dan Kami sedia mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, sedang (pengetahuan) Kami lebih DEKAT kepadanya daripada urat lehernya (uarat nadi).” (Qaf [50] : 16)

DEKATNYA Allah yang diperbincangkan di sini ialah daripada maksud AL-WALI (Yang Maha Memerintah, Yang maha Menguasai), iaitu nama Allah ke 77.

Kata dasarnya ialah waw lam alif terambil daripada wala yali yang membawa maksud:

• Dekat, Mengikuti, Melindungi/memelihara/menjaga/menguasai, Mengasihani/menyayangi/mencintai.


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

Al-Wali; maknanya Allah سبحانه وتعالى dekat dengan makhluk-NYA seperti yang digambarkan oleh Allah سبحانه وتعالى dalam dua ayat di atas.

Istilah yang selalu kita dapati digunakan dalam al-Quran bagi menggambarkan kedekatan Allah dengan hamba-NYA ataupun sebaliknya ialah berperingkat seperti berikut:

1. Muhit مُّحِيطً۬
2. Ma'a مَعَ
3. Qarib قَرِيبٌ
4. 'inda atau 'indi عِندَ atau عِندِ
5. Aslama, yuslimu dan islam


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

PERINGKAT PERTAMA MUHIT, مُّحِيطً۬ di dapati dalam ayat-ayat yang berkahir dengan Wallahu Muhitum bil kaafirin atauAllahu bikulli syaim muhita, contoh ayat di bawah:

وَلِلَّهِ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِۚ وَڪَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَىۡءٍ۬ مُّحِيطً۬ا

♥ ♥ ♥ ♥ "Dan bagi Allah jualah segala yang ada di langit dan yang ada di bumi dan Allah sentiasa Meliputi (pengetahuan-NYA dan kekuasaan-NYA) akan tiap-tiap sesuatu." (An-Nisaa' [4] : 126)

Maknanya Allah meliputi segala sesuatu, seperti dinyatakan dalam surah al-Baqarah; kekuasaan-NYA, kebijaksanaan-NYA, keadilan-NYA.

♥ ♥ ♥ ♥ "Dan Allah jualah yang memiliki timur dan barat, maka ke mana sahaja kamu arahkan diri (ke kiblat untuk menghadap Allah) maka di situlah arah yang diredhai Allah; sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-NYA dan limpah kurnia-NYA), lagi sentiasa Mengetahui." Al-Baqarah [ 2 ] : 105)

Tidak ada ruang di alam semesta ini yang terlepas daripada kekuasaan-NYA, kebijaksanaan-NYA, keadilan-NYA dan pengetahuan-NYA. Kedekatan Allah kepada makhluk-NYA seperti inilah yang dinamakan Muhit. Tidak ada bezanya antara semua makhluk yakni manusia, haiwan dan syaitan dan lain-lainya.


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

PERINGKAT KEDUA PULA IALAH MA'A مَعَ

Ini lebih tinggai daripada Muhit. Siapakah yang didekati oleh Allah dengan مَعَ ini? Contoh

إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّـٰبِرِينَ

♥ ♥ ♥ ♥ "Wahai sekalian orang-orang yang beriman! Mintalah pertolongan (untuk menghadapi susah payah dalam menyempurnakan sesuatu perintah Tuhan) dengan bersabar dan dengan (mengerjakan) sembahyang; kerana sesungguhnya ALLAH MENYERTAI (MENOLONG) ORANG-ORANG YANG SABAR." (al-Baqarah [2] : 153)

♥ ♥ ♥ ♥ "Kemudian apabila Talut keluar bersama-sama tenteranya, berkatalah ia: Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sebatang sungai, oleh itu sesiapa di antara kamu yang meminum airnya maka bukanlah dia dari pengikutku dan sesiapa yang tidak merasai airnya maka sesungguhnya dia dari pengikutku, kecuali orang yang mencedok satu cedokan dengan tangannya. (Sesudah diingatkan demikian) mereka meminum juga dari sungai itu (dengan sepuas-puasnya), kecuali sebahagian kecil dari mereka. Setelah Talut bersama-sama orang-orang yang beriman menyeberangi sungai itu, berkatalah orang-orang yang meminum (sepuas-puasnya): Kami pada hari ini tidak terdaya menentang Jalut dan tenteranya. Berkata pula orang-orang yang yakin bahawa mereka akan menemui Allah: Berapa banyak (yang pernah terjadi), golongan yang sedikit berjaya menewaskan golongan yang banyak dengan izin Allah dan ALLAH (SENTIASA) BERSAMA-SAMA ORANG-ORANG YANG SABAR." (al-Baqarah [2 ] : 249)

Maknanya bukan semua Allah bersedia 'dekat' dengan-NYA. Tentu ada syaratnya bagi peringkat yang kedua ini; itulah orang-orang yang beriman dan orang-orang yang bersabar. Jika tahap pertama tadi semua orang Allah dekat, tetapi peringkat kedua ini ialah orang-orang yang sabar. Kena diusahakan supaya kita berbeza dengan tahap pertama tadi.


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

PERINGKAT KETIGA PULA QARIB قَرِيبٌ

♥ ♥ ♥ ♥ “Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu mengenai Aku maka (beritahu kepada mereka): SESUNGGUHNYA AKU (ALLAH) SENTIASA HAMPIR (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu. Maka hendaklah mereka menyahut seruanKu (dengan mematuhi perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu supaya mereka menjadi baik serta betul.” (Al-Baqarah [2] : 186)

Allah menyatakan 'AKU' amat dekat, 'AKU sentiasa memperkenankan permohonan hambaKU dengan syarat mereka juga menyahut seruanKU, mematuhi perintahKU dan beriman kepadaKU. Jika hambaKu berhajat AKU tunaikan, jika hambaKU dalam ketakutan AKU bantu hilangkan ketakutan dan gantikan dengan ketenangan. Qarib di sini bermaksud dekat daripada segi emosional. Contoh; jika seseorang telah terpaut hatinya dengan seseorang biarpun jauh beribu-ribu kilometer akan terasa amat dekat. Maka untuk DEKAT dengan Allah kenalah bina rasa terpaut seperti contoh tadi. Jika menyintai Allah pasti bersedia (bermuafaqah); menyesuaikan kehendak kita dengan kehendak Allah. Apa yang disuruh lakukan hendaklah dilakukan dan sebaliknya. Allah berfirman:

♥ ♥ ♥ ♥ "Katakanlah (wahai Muhammad): Jika benar kamu mengasihi Allah maka ikutilah daku, nescaya Allah mengasihi kamu serta mengampunkan dosa-dosa kamu dan (ingatlah), Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani". (Al-Imran [3] : 31)


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

PERINGKAT KE EMPAT عِندَ ATAU عِندِ

Peringakt kedekatan para wali Allah dengan-NYA, maksudnya maqam mereka lebih tinggi. Untuk mendapatkan kedekatan peringkat ini memerlukan pengorbanan yang benar-benar menunjukkan ia seorang hamba.

Allah berfirman :

♥ ♥ ♥ ♥ “Orang-orang yang membelanjakan hartanya pada jalan (agama) Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang mereka belanjakan itu dengan perkataan membangkit-bangkit (pemberiannya) dan tidak pula menyinggung atau menyakiti (pihak yang diberi), mereka beroleh pahala DI SISI TUHAN MEREKA dan tidak ada kebimbangan (daripada berlakunya kejadian yang tidak baik) terhadap mereka dan mereka pula tidak akan berdukacita. (Al-Baqarah [2] : 262)

Ayat di atas ada عِندَ رَبِّهِمۡ yang bermaksud di sisi Tuhan mereka. Orang yang memberi kemudian tidak mengungkit-ngungkit pemberian yang menyebabkan orang yang menerima sakit hati, kedudukannya tinggi di sisi Allah (dekat dengan Allah).

♥ ♥ ♥ ♥ "Dan jangan sekali-kali engkau menyangka orang-orang yang terbunuh (yang gugur Syahid) pada jalan Allah itu mati, (mereka tidak mati) bahkan mereka adalah hidup (secara istimewa) DI SISI TUHAN MEREKA dengan mendapat rezeki". (Ali-Imran [ 3 ] : 169)

Tingkatan orang mukmin dengan orang gugur syahid tidak sama di sisi Allah. Syahid berkorban apa sahaja termasuk nyawa. Maka kedudukan mereka lebih tinggi.

عِندَ ini ada perbezaan antara yang paling rendah yakni orang mukmin, menengah yakni orang mati syahid dan yang paling tinggi ialah para nabi dan rasul serta para solihin, tabiin dan wali-wali.


||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||¦¦¦¦||||

PERINGKAT KE LIMA; Para Nabi dan para Rasul paling dekat di sisi Allah kerana mereka 'Asalama' ; berserah diri.

♥ ♥ ♥ ♥ "(Ingatlah) ketika Tuhannya berfirman kepadanya: Berserah dirilah (kepadaKu wahai Ibrahim)! Nabi Ibrahim menjawab: Aku BERSERAH DIRI (tunduk taat) kepada Tuhan Yang Memelihara dan mentadbirkan sekalian alam". (Al-Baqarah [2] : 131)

Nabi Ibrahim alaihisallam 'DENGAR DAN TAAT' segala perintah Allah سبحانه وتعالى, hinggakan disuruh meninggalkan isteri dan anak di tanah yang gersangpun dikutinya dan diperintahkan menyembelih anak kesayangannya pun dituruti. Nabi Ibrahim juga berpesan kepada anaknya Nabi Yaakob supaya tunduk dan patuh kepada perintah Allah, begitu juga Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم juga menyuruh umatnya supaya patuh dan tunduk kepada Allah سبحانه وتعالى. Pada peringkat tertinggi ini kedekatan para Nabi dengan Allah menyebabkan mereka patuh dan taat. Nabi Yusuf alaihisallam kerana takutkan Allah سبحانه وتعالى baginda rela dipenjarakan daripada menurutkan hawa nafsu.

Para Nabi dan Rasul yang dekat dengan Allah سبحانه وتعالى mereka diberi ilmu yang luas. Sukar untuk kita fahami bagaimana perintah menyembelih anak kesayangan dituruti, dan perintah membocorkan kapal nelayan, membunuh kanak-kanak yang tidak berdosa dan membaiki tembok yang runtuh di sebuah kampung yang penduduknya rata-rata buruk akhlak oleh Nabi Khidir alaihisallam. Nabi khidir alaihisallam adalah seorang yang soleh dan diberi ilmu لَّدُنَّا seperti yang dinyatakan dalam ayat:

♥ ♥ ♥ ♥ "Lalu mereka dapati seorang dari hamba-hamba Kami yang telah kami kurniakan kepadanya rahmat dari Kami dan Kami telah mengajarnya SEJENIS ILMU; DARI SISI KAMI". (Al-Kahfi [18] : 65)

Kita juga pernah mendengar bagaimana Saidina Umar Ibnul Khattab yang sedang berkhutbah di Madinah boleh melihat dan memberi arahan kepada tentera-tenteranya yang jauh daripada pandangannya dan tentera-tenteranya juga boleh mendengar arahan beliau. Inilah anugerah Allah سبحانه وتعالى kepada orang-orang yang DEKAT dengan-NYA. Maha Suci Allah, Allah Maha Besar dan Maha Mengetahui.

Begitulah 5 tingkatan kedekatan Allah dengan makhluk-NYA bergantung dengan usaha makhluk untuk DEKAT dengan-NYA. Jadi amatlah rugi jika tahap dekat seseorang itu sama sahaja seperti yang lain-lain pada tahap pertama.

Orang-orang yang dekat dengan Allah (wali-wali) Allah, mereka tidak ada rasa ketakutan untuk bertemu dengan Allah. Orang-orang salih sangat rindu, ingin segera bertemu dengan Rabb mereka sebagai contoh dikisahkan bahawa Imam 'Ali bin Abu Talib semasa menunggu saat kematiannya selepas ditikam dengan tombak beracun; beliau tersenyum sedangkan sahabat-sahabat yang mengelilinginya menangis. Ketika ditanya mengapa beliau tersenyum, 'Ali radhiallahuanhu menjawab dengan bertanya semula;

|| "Kenapa aku mesti sedih sedangkan aku ingin bertemu dengan kekasihku. Bagaimana aku tak gembira kerana aku akan bertemu dengan-NYA yang selama ini aku hanya menyebut namanya".



__________

Disunting dari: permatainn.blogspot.com/2010/05/dekat-di-sisinya.html
Shared By: ⓑⓘⓒⓐⓡⓐ ღ ⓗⓘⓓⓐⓨⓐⓗ

:: TINGKAT-TINGKAT KEPRIBADIAN MANUSIA :::





Abdul Fattah Rashid Hamid Ph.D., Seorang psikolog Muslim lulusan St. Louis University USA , dalam bukunya “ Pengenalan Diri dan Dambaan Spiritual” menyebutkan bahwa perjalanaan setiap Individu dalam menuju kesempurnaan kepribadiannya akan melewati tingkatan kepribadian sebagai berikut :

Kepribadian Tingkat I : AN-NAFS al- AMARAH

Pada tingkat ini manusia condong pada hasrat dan kenikmatan dunia. Minatnya tertuju pada pemeliharaan tubuh, kenikmatan selera-selera jasmani dan pemanjaan Ego. Di tingkat ini iri, serakah, sombong, nafsu seksual, pamer, fitnah, dusta, marah dan sejenisnya, menjadi paling dominan.

Kepribadian Tingkat II : AN-NAFS al-LAWWAMAH


Pada tingkat ini manusia sudah mulai melawan nafsu jahat yang timbul, meskipun ia masih bingung tentang tujuan hidupnya. Jiwanya sudah melawan hasrat-hasrat rendah yang muncul. Diri masih menjadi subjek yang dikendalikan hasrat-hasrat yang bersifat fisik, ia masih sering tertipu oleh muslihat dunia yang sementara ini.

Kepribadian Tingkat III : AN-NAFS al- MULHIMA

Pada tingkat ini manusia sudah menyadari cahaya sejati tidak lain adalah petunjuk Allah. Semangat Takwa dan mencari Ridha Allah adalah semboyannya. Ia tidak lagi mencari kesalahan-kesalahan orang lain tetapi ia selalu introspeksi untuk menjadi hamba Allah yang lurus. Ia selalu berzikir dan mengikuti sunnah nabi Muhammad SAW.

Kepribadian Tingkat IV : AN- NAFS al-QANAAH


Pada tingkat ini hati telah mantap, merasa cukup dengan apa yang dimilikinya dan tidak tertarik dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Ia sudah tidak ingin berlomba untuk menyamai orang lain .
Ketinggalan ‘status ‘baginya bukan berarti keterbelakangan dan kebodohan. Ia menyadari bahwa ketidakpuasan atas segala sesuatu yang telah ditetapkan Allah menunjukkan keserakahan dan ketidakmatangan pribadi. Pada tingkat ini , manusia mengetahui bahwa seseorang tidak dapat memperoleh kebaikan apapun kecuali dengan kehendak Allah. Hanya Allah yang mengetahui apa yang terbaik dalam situasi apapun.

Kepribadian Tingkat V : AN-NAFS al- Mut’MAINNAH

Pada tingkat ini manusia telah menemukan kebahagiaan dalam mencintai Allah SWT. Ia tidak ingin memperoleh pengakuan dalam masyarakat atau apapun tujuannya. Jiwanya telah tenang, terbebas dari ketegangan, karena pengetahuannya telah mantap bahwa segala sesuatu akan kembali pada Allah. Ia benar-benar telah memperoleh kualitas yang sangat baik dalam ketenangan dan keheningan.

Kepribadian Tingkat VI : An-NAFS al- RADIYAH


Ini adalah ciri tambahan bagi jiwa yang puas dan tenang. Ia merasa bahagia karena Allah Ridha padanya . Ia selalu waspada akan tumbuhnya keengganan yang paling sepele terhadap kodratnya sebagai abdi Tuhan. Ia menyadari bahwa islam adalah fitrah insan dan ia pun haqqul yaqin pada firman Allah : “.....Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu...” Ia patuh pada Allah semata-mata hanya sebagai perwujudan rasa terimakasih nya.

Kepribadian Tingkat VII : An-Nafs al-KAMILAH

Ini adalah tingkat manusia yang telah sempurna (al-insan al –Kamil)
Kesempurnaannya adalah kesempurnaan moral yang telah bersih dari semua hasrat kejasmanian sebagai hasil kesadaran murni akan pengetahuan yang sempurna tentang Allah. “Selubung diri “ nya telah terbuka hanya mengikuti kesadaran Ilahi. Nabi Muhammad SAW adalah contoh manusia yang telah sampai pada tingkat ini. Kepribadiannya mengungkapkan segala hal yang mulia dalam kodrat manusia .

Ditingkat mana diri berada? ..........................

Seorang ahli hikmah berkata ; “Barangsiapa hendak memperbaiki jiwa hendaklah bersungguh-sungguh menekan diri sampai terbebas dari keburukannya “
Wallahualam bishawab



(Sumber : Ir Permadi Alibasyah : “Bahan Renungan Kalbu” )
BC06022010