RENUNGAN HIKMAH ...

Dalam Kesunyian..

Semoga Allah... yang maha lembut dan mengetahui segala kelembutan yang terlukis dihati ini, selalu memberikan kemampuan kepada kita untuk bisa memahami hikmah dari segala kejadian yang terjadi terhadap diri kita, agar kita tidak pernah bisa tertipu oleh diri sendiri,

Kecewa, meratap, menangis, jengkel dan apapun bentuknya yang membuat hati ini gundah adalah salah satu karunia Allah yang sangat besar yang telah di berikan kepada kita.

ketika saya terbaring lemas dan merenungi suatu kejadian, saya merasakan hal serupa, dan dampak yang saya dapatkan adalah ingin lebih dekat lagi dengan yang telah menciptakan alam semesta ini.

Semua itu saya anggap hal yang sangat positf.

Tetapi ketika saya merenung lebih dalam alasan apa yang membuat saya merasa kecewa, meratap, menangis dan jengkel, semua itu hanya karena gara-gara yang bersifat duniawi semata,..

ah sungguh malu rasanya hati ini, kenapa dunia yang menjadikan alasan untuk itu semua.

Hanya karena sakit….
Hanya karena sesuatu tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan,…
Hanya karena di tinggal pasangan,…
Hanya karena di dzolimi,.. .
Hanya karena di fitnah,… dan karena hanya seribu satu macam persoalaan dunia yang membuat saya menangis..

Ya Allah ampunilah hambaMU ini..

Saya belum pernah merasa Kecewa, meratap, menangis dan jengkel dengan alasan dzolim kepadaMU ya Allah…

ketika sholat tidak khusyu…
ketika sedekah karena ria…
ketika merasa amal ini sia-sia…
ketika senyum hanya ingin di pandang oleh manusia… dan yang paling utama ketika saya tidak berani melihat kekurangan diri ini...

Saya hanya berusaha sekuat tenaga agar saya tampak sempurna di hadapan manusia dengan berbagai macam cara,

tapi saya belum pernah melakukan sekuat tenaga berusaha tampil maksimal untukMU ya Allah…

Duhai Allah yang memilik cayaha, betapa gelap hati ini tanpa cahayaMU, karuniakanlah cahayaMU itu kedalam sanubariku, agar hambaMU ini bisa lebih jujur melihat kekurangan diri ini…

Duhai Allah....
Ijinkan kami selalu berada dlm genggaman-MU,..
dan jangan Engkau lepaskan, walau dalam hitungan terkecil sekalipun ,..
ijinkan kami selalu lebih mencintai-MU,
melebihi segala apapun yg ada di muka bumi ini,...
Jauhkan kami dari rasa Hampa, Kecewa, dan Sakit hati,.
Jadikan kami selalu sujud dgn khusyu hanya Pada-MU,..



By: SriPurna Ciptati

MERAIH DERAJAT IHSAN



Bismillahirrahmannirahim,

DERAJAT IHSAN merupakan tingkatan tertinggi keislaman seorang hamba. Tidak semua orang bisa meraih derajat yang mulia ini. Hanya hamba-hamba الله yang khusus saja yang bisa mencapai derajat m

ulia ini. Oleh karena itu, merupakan keutamaan tersendiri bagi hamba yang mampu meraihnya. Semoga الله ‘Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk di dalamnya.


ANTARA ISLAM, IMAN DAN IHSAN

Suatu ketika Malaikat Jibril عليه السلام datang di majelis Rasulullah صلی الله علیﻪ و سلم dan para sahabatnya dalam rupa manusia, kemudian menanyakan kepada Rasulullah صلی الله علیﻪ و سلم beberapa pertanyaan. Di antara pertanyaannya adalah tentang makna Islam, Iman, dan IHSAN. Kemudian Rasulullah صلی الله علیﻪ و سلم menjawabnya dan dibenarkan oleh Jibril. Berdasarkan hadist riwayat Muslim , para ulama membagi agama Islam menjadi tiga tingkatan yaitu islam, iman, dan IHSAN.


Tingkatan agama yang paling tinggi adalah IHSAN, kemudian iman, dan paling rendah adalah islam. Kaum muhsinin (orang-orang yang memiliki sifat IHSAN) merupakan hamba pilihan dari hamba-hamba الله yang shalih. Oleh sebab itu, sebagian ulama menjelaskan jika IHSAN sudah terwujud berarti iman dan islam juga sudah terwujud pada diri seorang hamba. Jadi, setiap muhsin pasti mukmin dan setiap mukmin pasti muslim. Namun tidak berlaku sebaliknya. Tidak setiap muslim itu mukmin dan tidak setiap mukmin itu mencapai derajat muhsin. Pelaku IHSAN adalah hamba pilihan dari hamba-hamba الله yang shalih. Oleh karena itu, di dalam الْقُرْآنَ disebutkan hak-hak mereka secara khusus tanpa menyebutkan hak yang lainnya.



MAKNA IHSAN

Kata IHSAN (berbuat baik) merupakan kebalikan dari kata al isaa-ah (berbuat buruk), yakni perbuatan seseorang untuk melakukan perbuatan yang ma’ruf dan menahan diri dari dosa. Dia mendermakan kebaikan kepada hamba الله yang lainnya baik melalui hartanya, kehormatannya, ilmunya, maupun raganya.


Adapun yang dimaksud IHSAN bila dinisbatkan kepada peribadatan kepada الله adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasululluah صلی الله علیﻪ و سلم dalam hadist Jibril :

“’Wahai Rasulullah, apakah IHSAN itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu menyembah الله seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (H.R. Muslim 102)

Dalam hadits Jibril, tingkatan Islam yang ketiga ini memiliki satu rukun. Nabi صلی الله علیﻪ و سلم menjelaskan mengenai IHSAN yaitu ‘Engkau beribadah kepada الله seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak mampu melihat-Nya, الله akan melihatmu.’ Itulah pengertian IHSAN dan rukunnya.


Syaikh ‘Abdurrahman as Sa’di menjelaskan bahwa IHSAN mencakup dua macam, yakni IHSAN dalam beribadah kepada الله dan IHSAN dalam menunaikan hak sesama makhluk. Ihsan dalam beribadah kepada الله maknanya beribadah kepada الله seolah-olah melihat-Nya atau merasa diawasi oleh-Nya. Sedangkan IHSAN dalam hak makhluk adalah dengan menunaikan hak-hak mereka. Ihsan kepada makhluk ini terbagi dua, yaitu yang wajib dan sunnah. Yang hukumnya wajib misalnya berbakti kepada orang tua dan bersikap adil dalam bermuamalah. Sedangkan yang sunnah misalnya memberikan bantuan tenaga atau harta yang melebihi batas kadar kewajiban seseorang. Salah satu bentuk IHSAN yang paling utama adalah berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepada kita, baik dengan ucapan atau perbuatannya.



TINGKATAN IHSAN

Syaikh Sholeh Alu Syaikh hafidzahullah memberikan penjelasan bahwa inti yang dimaksud dengan IHSAN adalah membaguskan amal. Batasan minimal seseorang dapat dikatakan telah melakukan IHSAN di dalam beribadah kepada الله yaitu apabila di dalam memperbagus amalannya niatnya ikhlas yaitu semata-mata mengharap pahala-Nya dan sesuai dengan sunnah Nabi صلی الله علیﻪ و سلم . Inilah kadar IHSAN yang wajib yang harus ditunaikan oleh setiap muslim yang akan membuat keislamannya menjadi sah. Adapun kadar IHSAN yang mustahab (dianjurkan) di dalam beribadah kepada الله memiliki dua tingkatan, yaitu :



PERTAMA - TINGKATAN MUROQOBAH

Yakni seseorang yang beramal senantiasa merasa diawasi dan diperhatikan oleh الله dalam setiap aktivitasnya. Ini berdasarkan sabda Nabi صلی الله علیﻪ و سلم

فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

(jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu)

Tingkatan muroqobah yaitu apabila seseorang tidak mampu memperhatikan sifat-sifat الله, dia yakin bahwa الله melihatnya. Tingkatan inilah yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Apabila seseorang mengerjakan shalat, dia merasa الله memperhatikan apa yang dia lakukan, lalu dia memperbagus shalatnya tersebut. Hal ini sebagaimana الله firmankan dalam surat Yunus ,

وَمَاتَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَاتَتْلُوا مِنْهُ مِنْ قُرْءَانٍ وَلاَتَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلاَّ كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ …{61}

“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya…” (Yunus: 61)


KEDUA - TINGKATAN MUSYAHADAH

Tingkatan ini lebih tinggi dari yang pertama, yaitu seseorang senantiasa memeperhatikan sifat-sifat الله dan mengaitkan seluruh aktifitasnya dengan sifat-sifat tersebut. Inilah realisasi dari sabda Nabi صلی الله علیﻪ و سلم:

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاه

(‘Kamu menyembah الله seakan-akan kamu melihat-Nya’)


Pada tingkatan ini seseorang beribadah kepada الله, seakan-akan dia melihat-Nya. Yang dimaksud adalah memperhatikan sifat-sifat الله, yakni dengan memperhatikan pengaruh sifat-sifat الله bagi makhluk. Apabila seorang hamba sudah memiliki ilmu dan keyakinan yang kuat terhadap sifat-sifat الله, dia akan mengembalikan semua tanda kekuasaan الله pada nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dan inilah tingkatan tertinggi dalam derajat IHSAN.



KEUTAMAAN IHSAN

الله سبحانا وتعاﱃ berfirman,

إِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ {128}

“Sesungguhnya الله beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat IHSAN.” (An Nahl: 128)

Dalam ayat ini الله menunjukkan keutamaan seorang muhsin yang bertakwa kepada الله, yang tidak meninggalkan kewajibannya dan menjauhi segala yang haram. Kebersamaan الله dalam ayat ini adalah kebersamaan yang khusus. Kebersamaan khusus yakni dalam bentuk pertolongan, dukungan, dan petunjuk jalan yang lurus sebagai tambahan dari kebersamaan الله yang umum (yakni pengilmuan الله). Makna dari firman الله وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ ( dan orang-orang yang berbuat IHSAN) adalah yang mentaati Rabbnya, yakni dengan mengikhlaskan niat dan tujuan dalam beribadah serta melaksankanan syariat الله dengan petunjuk yang telah dijelasakan oleh Rasulullah صلی ﷲ علیﻪ و سلم .


Dalam ayat lain الله berfirman,

وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللهِ وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ {195}

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan الله, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya الله menyukai orang-orang yang berbuat IHSAN.” (Al Baqarah:195)


Ketika menafsirkan ayat ini Syaikh As Sa’di menjelaskan bahwa IHSAN pada ayat ini mecakup seluruh jenis IHSAN. Hal ini karena tidak ada pembatasan pada ayat ini. Maka termasuk di dalamnya IHSAN dengan harta, kemuliaan, pertolongan, perbuatan memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, dan perbuatan IHSAN lain yng diperintahkan oleh الله. Termasuk di dalamnya juga adalah IHSAN dalam beribadah kepada الله. Hal ini sebagaimnan sabda Nabi ‘Kamu menyembah الله seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu ..’ Barangsiapa yang memiliki sifat IHSAN tersebut, maka dia tergolong orang-orang yang الله terangkan dalam firman-Nya (artinya):

“Bagi orang-orang yang berbuat IHSAN, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah الله سبحانا وتعاﱃ)” (QS Yunus: 26) الله akan bersamanya, memberinya petunjuk, membimbingnya, serta menolongnya dalam setiap urusannya.

الله سبحانا وتعاﱃ juga berfirman (artinya),

“Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) الله dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya الله menyediakan bagi siapa yang berbuat IHSAN (kebaikan) diantaramu pahala yang besar.” (Al Ahzab: 29)



PENERAPAN MAKNA IHSAN DALAM KEHIDUPAN

Pembaca yang dirahmati الله, sikap IHSAN ini harus berusaha kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita berbuat amalan kataatan, maka perbuatan itu selalu kita niatkan untuk الله. Sebaliknya jika terbesit niat di hati kita untuk berbuat keburukan, maka kita TIDAK mengerjakannya karena sikap IHSAN yang kita miliki. Seseorang yang sikap IHSANNYA kuat akan rajin berbuat kebaikan karena dia berusaha membuat senang الله yang selalu melihatnya. Sebaliknya dia malu berbuat kejahatan karena dia selalu yakin الله melihat perbuatannya. IHSAN adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak seorang hamba. Oleh karena itu, semua orang yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut. Siapa pun kita, apa pun profesi kita, di mata الله tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik ke tingkat IHSAN dalam seluruh amalannya. Kalau kita cermati pembahasan di atas, untuk meraih derajat IHSAN, sangat erat kaitannya dengan benarnya pengilmuan seseorang tentang nama-nama dan sifat-sifat الله.



Semoga Allah memberi kita karunia IHSAN dan mewujudkan IHSAN dalam diri kita, sebelum الله mengambil ruh ini dari jasad kita. Semoga bermanfaat. Allahul musta’an ..
Aamiin yaa Robbal alamin ..



Wallahua'lam bishawab,
Abu ‘Athifah Adika Mianoki

MASA MUDA CERMINAN MASA TUA


SEGALA puji bagi ﷲ , Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga akhir zaman.



Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم pernah memberi nasehat pada Ibnu ‘Abbas -رضي الله عنه -,

“Jagalah ﷲ , niscaya ﷲ akan menjagamu.” [1]

Yang dimaksud menjaga ﷲ di sini adalah menjaga batasan-batasan, hak-hak, perintah, dan larangan-larangan ﷲ . Yaitu seseorang menjaganya dengan melaksanakan perintah ﷲ, menjauhi larangan-NYA, dan tidak melampaui batas dari batasan-NYA (berupa perintah maupun larangan ﷲ ). Orang yang melakukan seperti ini, merekalah yang menjaga diri dari batasan-batasan ﷲ sebagaimana yang ﷲ puji dalam kitab-NYA,

“Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada Setiap hamba yang selalu kembali (kepada ﷲ ) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-NYA), (yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan Dia datang dengan hati yang bertaubat.” (Qaaf: 32-33)

Yang dimaksud dengan menjaga di sini adalah menjaga setiap perintah ﷲ dan menjaga diri dari berbagai dosa serta bertaubat darinya. [2]


Di antara bentuk penjagaan hak ﷲ sebagai berikut:


Yang utama untuk dijaga adalah shalat lima waktu yang wajib sebagaimana yang ﷲ firmankan (artinya),

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa (shalat Ashar)[3]. Berdirilah untuk ﷲ (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (Al Baqarah: 238)


Yang dimaksud shalat wustho di sini adalah shalat Ashar menurut kebanyakan ulama. Nabi صلیﷲ علیﻪ و سلم memperingatkan keras orang yang meninggalkan shalat Ashar sebagaimana dalam sabdanya (artinya),

“Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka hapuslah amalannya.” [4]

ﷲ Ta’ala pun memuji orang-orang yang menjaga shalatnya dalam ayat lainnya (artinya),

“Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (Al Ma’arij: 34)

Begitu pula termasuk dalam hal ini adalah dengan menjaga thoharoh (taharah/bersuci) karena thoharoh adalah pembuka shalat. Nabi صلیﷲ علیﻪ و سلم bersabda (artinya),

“Tidak ada yang selalu menjaga wudhu melainkan ia adalah seorang mukmin.”[5]


Begitu pula kita diperintahkan untuk menjaga kepala dan perut. Sebagaimana Nabi صلیﷲ علیﻪ و سلم bersabda (artinya),

“Sifat malu pada ﷲ yang sebenarnya adalah engkau menjaga kepalamu dan setiap yang ada di sekitarnya, begitu pula engkau menjaga perutmu serta apa yang ada di dalamnya.” [6]

Yang dimaksud menjaga kepala dan setiap apa yang ada di sekitarnya, termasuk di dalamnya adalah menjaga pendengaran, penglihatan dan lisan dari berbagai keharaman. Sedangkan yang dimaksud menjaga perut dan segala apa yang ada di dalamnya, termasuk di dalamnya adalah menjaga hati dari terjerumus dalam yang haram.[7] ﷲ Ta’ala berfirman (artinya),

“Dan ketahuilah bahwasanya ﷲ mengetahui apa yang ada dalam hatimu; Maka takutlah kepada-NYA.” (Al Baqarah: 235)

ﷲ Ta’ala juga berfirman (artinya),

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Al Isro’: 36)



Dari Abu Hurairah, Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم bersabda (artinya),

“Barangsiapa yang menjamin padaku apa yang ada di antara dua janggutnya (yaitu bibirnya) dan antara dua kakinya (yaitu kemaluan), maka ia akan masuk surga.”[8]


ﷲ memuji orang-orang yang menjaga kemaluan dalam beberapa ayat. ﷲ Ta’ala berfirman (artinya),

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya ﷲ Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat“.” (An Nur: 30)

“Laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) ﷲ , ﷲ telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Ahzab: 35)

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa.” (Al Mu’minun: 5-6) [9]

Yang lebih penting dari hal di atas dan merupakan hak ﷲ yang paling utama untuk dijaga adalah mentauhidkan ﷲ dan tidak menyekutukan ﷲ dengan selain-NYA (baca: berbuat syirik). Karena syirik adalah kezholiman yang teramat besar. Luqman pernah berkata pada anaknya,

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ



“Sesungguhnya kesyirikan adalah kezholiman yang paling besar.” (Luqman: 13)

Nabi صلیﷲ علیﻪ و سلم ketika membonceng Mu’adz dengan keledai -yang bernama ‘Ufair-, beliau bersabda (artinya),

“Wahai Mu’adz, tahukah engkau apa hak ﷲ yang wajib ditunaikan oleh hamba-NYA dan apa hak hamba yang berhak ia dapat dari ﷲ ?” Mu’adz mengatakan, ”ﷲ dan Rasul-NYA yang lebih tahu.” Nabi صلیﷲ علیﻪ و سلم pun menjawab, “Hak ﷲ yang wajib ditunaikan oleh setiap hamba adalah mereka harus menyembah ﷲ dan tidak boleh berbuat syirik pada-NYA dengan sesuatu apa pun. Sedangkan hak hamba yang berhak ia dapat adalah Allahh tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik kepada-NYA dengan sesuatu apa pun.” [10]

Inilah hak ﷲ yang mesti dan wajib ditunaikan oleh setiap hamba sebelum hak-hak lainnya.



Barangsiapa menjaga diri dengan melakukan perintah dan menjauhi larangan, maka ia akan mendapatkan penjagaan dari ﷲ Ta’ala.

احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ



“Jagalah ﷲ , niscaya ﷲ akan menjagamu.”

Inilah yang dimaksud al jaza’ min jinsil ‘amal, yaitu balasan sesuai dengan amal perbuatan. Sebagaimana ﷲ mengatakan dalam ayat-ayat lainnya.

وَأَوْفُوا بِعَهْدِي أُوفِ بِعَهْدِكُمْ



“Dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu.” (Al Baqarah: 40)



فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ



“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.” (Al Baqarah: 152)



إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ



“Jika kamu menolong (agama) ﷲ , niscaya Dia akan menolongmu.” (Muhammad: 7)



Jika seseorang menjaga hak-hak ﷲ sebagaimana yang telah disebutkan di atas, maka ﷲ pun akan selalu menjaganya. Bentuk penjagaan ﷲ ada dua macam, yaitu:

* ﷲ akan menjaga urusan dunianya yaitu ia akan mendapatkan penjagaan diri, anak, keluarga dan harta.

* Penjagaan yang lebih dari penjagaan yang diatas, yaitu ﷲ akan menjaga agama dan keimanannya.


Di antara bentuk penjagaan ﷲ adalah ia akan selalu mendapatkan penjagaan dari malaikat ﷲ. Sebagaimana ﷲ Ta’ala berfirman (artinya),

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah ﷲ .” (Ar Ro’du: 11)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan (artinya),

“Setiap hamba memiliki malaikat yang selalu menemaninya. Malaikat tersebut akan menjaganya siang dan malam. Mereka akan menjaganya danri berbagai kejelekan dan kejadian-kejadian.” [11]

Ibnu ‘Abbas رضي الله عنه mengatakan (artinya),

“Mereka adalah para malaikat yang akan selalu menjaganya atas perintah ﷲ . Jika datang ajal barulah malaikat-malaikat tadi meninggalkannya.”

Inilah salah bentuk penjagaan ﷲ melalui para malaikat bagi orang yang selalu menjaga hak-hak ﷲ.


Begitu pula ﷲ akan menjaga seseorang di waktu tuanya, jika ia selalu menjaga hak ﷲ di waktu mudanya. ﷲ akan menjaga pendengaran, penglihatan, kekuatan dan kecerdasannya. Inilah maksud yang kami singgung dalam judul artikel ini.


Sebagaimana kami pernah membaca dalam salah satu buku fiqh madzhab Syafi’i, matan Abi Syuja’. Dalam buku tersebut diceritakan mengenai penulis matan yaitu Al Qodhi Abu Syuja’ (Ahmad bin Al Husain bin Ahmad Asy Syafi’i rahimahullah Ta’ala). Perlu diketahui bahwa beliau adalah di antara ulama yang meninggal dunia di usia sangat tua. Umur beliau ketika meninggal dunia adalah 160 tahun (433-596 Hijriyah). Beliau terkenal sangat dermawan dan zuhud. Beliau sudah diberi jabatan sebagai qodhi pada usia belia yaitu 14 tahun. Keadaan beliau di usia senja (di atas 100 tahun), masih dalam keadaan sehat wal afiat. Begitu pula ketika usia senja semacam itu, beliau masih diberikan kecerdasan. Tahukah Anda apa rahasianya? Beliau tidakk punya tips khusus untuk rutin olahraga atau yang lainnya. Namun perhatikan apa tips beliau,

“Aku selalu menjaga anggota badanku ini dari bermaksiat pada ﷲ di waktu mudaku, maka ﷲ pun menjaga anggota badanku ini di waktu tuaku.”

Cobalah lihat, beliau bukanlah memberikan kita tips untuk banyak olahraga. Namun apa tips beliau? Yaitu taat pada ﷲ dan menjauhi segala maksiat di waktu muda. [12]


Ibnu Rajab rahimahullah juga pernah menceritakan bahwa sebagian ulama ada yang sudah berusia di atas 100 tahun. Namun ketika itu, mereka masih diberi kekuatan dan kecerdasan. Coba bayangkan bagaimana dengan keadaan orang-orang saat ini yang berusia seperti itu? Diceritakan bahwa di antara ulama tersebut pernah melompat dengan lompatan yang amat jauh. Kenapa bisa seperti itu? Ulama tersebut mengatakan (artinya),

“Anggota badan ini selalu aku jaga agar jangan sampai berbuat maksiat di kala aku muda. Balasannya, ﷲ menjaga anggota badanku ini di waktu tuaku.”

Namun ada orang yang sebaliknya, sudah berusia senja, jompo (Eng: old, infirm) dan biasa mengemis pada manusia. Para ulama pun mengatakan tentang orang tersebut, jompo “Inilah orang yang selalu melalaikan hak ﷲ di waktu mudanya, maka ﷲ pun melalaikan dirinya di waktu tuanya.” [13]

Begitu pula ﷲ akan menjaga keturunan orang-orang sholih dan selalu taat pada ﷲ . Di antaranya kita dapat melihat pada kisah dua anak yatim yang mendapat penjagaan ﷲ karena ayahnya adalah orang yang sholih. ﷲ Ta’ala berfirman (artinya),

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.” (Al Kahfi: 82)

‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz pernah mengatakan,

“Barangsiapa seorang mukmin itu mati (artinya: ia selalu menjaga hak ﷲ , pen), maka ﷲ akan senantiasa menjaga keturunan-keturunannya.”

Sa’id bin Al Musayyib mengatakan pada anaknya (artinya),

“Wahai anakku, aku selalu memperbanyak shalatku dengan tujuan supaya ﷲ selalu menjagamu.”[14]

Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan,

“Barangsiapa menjaga (hak-hak) ﷲ , maka ﷲ akan menjaganya dari berbagai gangguan.”

Sebagian salaf mengatakan (artinya), “Barangsiapa bertakwa pada ﷲ , maka ﷲ akan menjaga dirinya. Barangsiapa lalai dari takwa kepada ﷲ , maka ﷲ tidak ambil peduli padanya. Orang itu berarti telah menyia-nyiakan dirinya sendiri. ﷲ sama sekali tidak butuh padanya.”

Jika seseorang berbuat maksiat, maka ia juga dapat melihat tingkah laku yang aneh pada keluarganya bahkan pada hewan tunggangannya. Sebagaimana sebagian salaf mengatakan,

“Jika aku bermaksiat pada ﷲ , maka pasti aku akan menemui tingkah laku yang aneh pada budakku bahkan juga pada hewan tungganganku.” [15]


Penjagaan yang lebih dari penjagaan yang semua sebelumnya, yaitu ﷲ akan menjaga agama dan keimanannya. ﷲ akan menjaga dirinya dari pemikiran rancu (Eng: confused)yang bisa menyesatkan dan dari berbagai syahwat yang diharamkan. Inilah penjagaan yang lebih luar biasa dari penjagaan pertama tadi.

Hal ini dapat kita lihat sebagaimana dalam do’a sebelum tidur yang Nabi صلیﷲ علیﻪ و سلم (artinya),

“Dengan menyebut nama-Mu, aku meletakkan lambungku, dan dengan nama-Mu aku mengangkatnya. Jika engkau ingin menarik jiwaku, maka ampunilah ia. Jika engkau ingin membiarkannya, maka jagalah ia sebagaimana engkau menjaga hamba-hambaMu yang sholih” [16]

Dalam do’a ini terlihat bahwa ﷲ akan senantiasa menjaga orang-orang yang sholih.[17]

Demikian pembahasan yang singkat dari hadits di atas. Semoga hadits ini bisa selalu menjadi pengingat dalam setiap langkah kita. Jagalah hak ﷲ , niscaya ﷲ akan menjagamu.


Segala puji bagi ﷲ yang dengan nikmat-NYA segala kebaikan menjadi sempurna.





Muhammad Abduh Tuasikal

MENJADI BIDADARI SURGA UNTUK LELAKI , UNTUK WANITA YANG MANA ...

HARAPAN dan tujuan hidup setiap manusia di dunia ini adalah, untuk memperoleh tempat terindah setelah kematiannya kelak, mendapatkan kenikmatan dan kebahagian hakiki, syurga الله سبحانا وتعاﱃ yang penuh keindahan disana. Karena itu merupakan tujuan utama kehidupan manusia di alam fana.


Tidak ada seorang manusiapun yang ingin terjerumus kedalam siksaan pedih api neraka. Namun sangat disayangkan, tujuan utama itu terkadang hanya dijadikan angan-angan dan hayalan belaka oleh majoritas manusia tanpa menempuh jalan dan beramal sholeh yang membawa dirinya masuk ke dalam Syurga. Tentu tindakan dan sikap seperti ini merupakan hal yang lucu bahkan termasuk golongan yang tidak tahu diri. Naudzubillahi mindzalik…


Syurga hanya diperuntukkan sebagai ganjaran bagi hamba-hamba الله yang sholeh, yang taat terhadap perintah-NYA dan menjauhi segala larangan-NYA. الله سبحانا وتعاﱃ menceritakan berbagai macam fasilitas dan kenikmatan yang didapatkan di dalam syurga agar manusia tertarik dan termotivasi untuk beramal shaleh (soleh), bergegas untuk beribadah dan berlumba dalam kebaikan.


Ketika kita membuka lembaran-lembaran ayat suci الْقُرْآنَ, kita menemukan bahwa الله سبحانا وتعاﱃ ketika menyebut amalan shaleh, DIA mengiringinya dengan menyebut ganjaran pahala dan perolehan syurga yang dihiasai dengan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya, berbagai macam buah-buahan kesukaan manusia, kebun yang indah, istana megah yang terbuat dari emas dan mutiara, tempat tidur, permadani dan bantal dari emas dan permata. Tak ada kehidupan yang paling indah selain di alam syurga sana.


Selain itu, الله سبحانا وتعاﱃ juga menceritakan bahwa di dalamnya terdapat BIDADARI-BIDADARI cantik bermata jeli yang menjadi isteri bagi kaum Adam yang berada di Syurga.


Dalilnya adalah firman الله سبحانا وتعاﱃ dalam surat Ar Rahman, ayat 56-60, artinya:

"Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)."

dan surat al Waaqi'ah, ayat 35-38, artinya:

"Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya,"



الله juga berfirman (yang artinya):

“Tetapi hamba-hamba الله yang dibersihkan (dari dosa). Mereka itu memperoleh rezki yang tertentu, yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam syurga-syurga yang penuh nikmat, di atas tahta tahta kebesaran berhadap-hadapan. Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamer dari sungai yang mengalir. Warnanya putih bersih, sedap rasanya bagi orang orang yang minum. Tidak ada dalam khamer itu al kohol dan mereka tiada mabuk karenanya. Disisi mereka ada BIDADARI-BIDADARI yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya, seakan-akan mereka adalah telur (burung unta) yang tersimpan dengan baik.” (Ash Shaaffaat, 40-49)


Kenapa الله سبحانا وتعاﱃ menceritakan BIDADARI bermata jeli yang merupakan isteri untuk kaum lelaki syurga dan tidak menceritakan suami-suami untuk kaum wanita?



الله menciptakan putera-putera Adam dengan tabiat yang unik, yaitu sangat tertarik dan senang terhadap wanita yang cantik. Anak Adam ini sanggup berkorban dan melakukan apa saja untuk mendapatkan wanita yang disukainya. Maka الله سبحانا وتعاﱃ menyebut para BIDADARI yang cantik, bermata jeli sebagai ganjaran bagi mereka yang beriman. Dengan tujuan, agar anak Adam yang penuh ego ini tertarik dan berlumba-lumba beribadah kepada الله, antusias (Eng: enthusiastic) beramal shaleh, dan berbuat baik terhadap sesama dan lingkungan alam sekitarnya.


Berbeda dengan wanita yang memiliki sifat malu, bahkan sangat malu sekali. Tabiat wanita sekalipun suka terhadap lelaki namun perasaan malu yang dimilikinya dapat menahan dirinya untuk menampakan rasa suka itu.

Muslim Newly-wed Couple
Dengan demikian الله سبحانا وتعاﱃ tidak mendorong dan memotivasi kaum hawa untuk beramal shaleh dengan cara menceritakan ganjaran yang membuat mereka malu ketika dibaca atau didengar. Misalnya, dengan menceritakan keperkasaan, ketampanan, keanggunan, dan keshalehan pasangan yang mereka dapatkan di syurga kelak.


الله سبحانا وتعاﱃ tidak memotiviasi mereka dengan hal seperti itu. Namun dengan tidak menyebut pasangan yang mereka dapatkan, bukan berarti الله سبحانا وتعاﱃ tidak memberikan pasangan di syurga. Wanita sholehah yang tidak menikah di dunia atau wanita sholehah yang sudah menikah di dunia tetapi suaminya kelak masuk nereka, mereka akan mendapatkan pasangan lelaki perkasa, tampan, penuh romantis dari golongan manusia yang menyejukan hati dan pandangan mata mereka di dalam syurga.


Bagaimanapun cantik jelitanya BIDADARI di Syurga sana, namun tetap lebih cantik dan mulia wanita sholehah yang pernah hidup di dunia. Disebabkan ibadah dan ketaatan yang mereka lakukan semasa hidup di dunia. Mereka tidak akan mengalami rasa letih, tidak akan tua dan mereka akan tetap perawan selama-lamanya. Subhanallah...


Dari Aisyah Radhiyallahu anha, ﺮﺴﻮلﷲ صلی الله علیﻪ و سلم bersabda :

“Sungguh syurga itu tidak dimasuki oleh wanita tua, sesungguh الله apabila memasukan mereka kedalam syurga DIA akan merubahnya menjadi perawan-perawan. (HR Ath Thabrani)

(Hadis ini dhaif, karena di dalam sanadnya terdapat perawi bernama Mus'idah Bin al Yasa', dia adalah perawi lemah. Begitu penuturan Ibnu Hajr al Haitsami dalam kitab Majmauz zawaidnya.)

Di dalam syurga tidak ada seorangpun manusia yang tidak memperoleh pasangan, baik laki-laki maupun wanita. Sebagaimana hadis ﺮﺴﻮلﷲ صلی الله علیﻪ و سلم yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya dari Abu Hurairah رضي الله عنه beliau bersabda (artinya):

”Tidak ada seorang pun di dalam syurga itu yang sendirian (tidak mempunyai pasangan)."

Jadi baik laki-laki atau perempan penghuni syurga yang tidak mendapatkan pasangan di dunia, الله akan menikahkan mereka di syurga kelak dengan pasangan penghuni syurga.



Tidak usah merasa terzalimi karena sekedar الله tidak menyebutkan pasangan bagi kaum wanita di Syurga kelak. الله سبحانا وتعاﱃ Maha Adil terhadap hamba-NYA, tak ada seorang hambapun yang dizalimi-NYA.



الله a'lam bisshawab.




Bohri Rahman, Lc
Shared by Bicara Hidayah

RASULULLAH SAW YANG DI RINDUKAN..

Anakku,
Beliau SAW berperawakan sedang,
bahunya bidang, tidak tinggi tidak pendek.
Tubuhnya bagus, bila berjalan beliau berjalan cepat dan gontai.

Rambutnya lebat mencapai telinga,
tidak terlalu keriting, tidak pula lurus kaku, tapi ikal bergelombang.
Warnanya kehitam hitaman, walaupun panjang tapi sangat terurus rapi tidak melampaui daun telinganya.
Apabila beliau menyisir,
maka dibelahnya menjadi dua, sehingga selalu tampak bersih

Bila beliau mengenakan pakaian merah,
tak ada seorangpun menandingi ketampanan beliau.
Bila beliau berjalan, berjalannya tegap dan gontai seakan akan sedang turun ketempat yang rendah.

Telapak tangan dan kakinya tebal,
kepalanya besar, demikian pula tulang persendiannya.
Dahinya lebar, alisnya melengkung bagaikan dua bulan sabit yang terpisah,
diantara keduanya terdapat urat yang tampak kemerah merahan bila Beliau marah.
Hidungnya mancung, di puncaknya ada cahaya yang memancar,
hingga orang yang tidak mengamatinya akan mengira puncak hidungnya lebih mancung.

Janggotnya tebal, kumisnya di cukur, kedua pipinya mulus,
mulutnya lebar serasi dengan bentuk wajahnya, giginya agak jarang teratur rapi,
Kulitnya putih ke merah merahan,
matanya lenbar , belahan matanya panjang, matanya hitam pekat dan bulu matanya lentik,
dagunya tidak lancip dan wajahnya cerah agak bundar.
Bercahaya bagaikan bulan purnama.

Lehernya mulus dan tegak bagaikan leher kendi.
Bentuk tubuhnya sedang sedang saja, badannya berisi, perut dan dadanya sejajar,tidak gemuk,
dadanya bidang, jarak antara kedua bahunya lebar dan tulang persendiannya besar.

Bagian badannya yang tidak di tumbuhi rambut nampak bersih bercahaya.
Dari pangkal leher sampai kepusat tumbuh rambut yang tebal bagaikan garis,
kedua susu dan perutnya bersih selain yang dsebutkan tadi.

Kedua hasta dan bahu dan dada bagian atas berbulu halus.
Kedua ruas tulang tangannya panjang, telapak tangannya lebar.
Kedua telapak tangan dan kakinya tebal, jemarinya panjang,
lekukan telapak kakinya tidak menempel ke tanah.
Kedua kakinya licin sehingga airpun tidak menempel, daging tumitnya tipis.

Bila berjalan diangkat kakinya dengan tegap, ia melangkah dengan mantap dan berjalan dengan sopan.
Jalannya cepat, gontai seakan beliau turun ke tempat yang rendah,
pandangan matanya mengarah kebawah, hingga pandangan kebumi lebih lama dari pandangannya kelangit, pandangannya penuh makna.

Bila beliau menoleh seseorang, maka beliau memalingkan seluruh badannya.
Bila ada sahabat berjalan, maka beliau berjalan dibelakangnya dan bila berpapasan beliau menyapanya dengan salam.

Tak ada tandingan atas sempurnanya ke tampanan beliau diantara makhluk .
Wajah beliau bagaikan rembulan, beliau lebih indah di bandingkan rembulan purnama.
Gigi seri beliau yang renggang, bila berbicara terlihat seperti ada cahaya yang memancar dari antara kedua gigi serinya itu.
Kulitnya yang putih, seakan akan terbentuk dari perak

Diantara kedua bahunya terdapat tanda kenabian KHATAMUN NUBUWAH.

Beliau memiliki hati yang paling pemurah diantara manusia.
Ucapannya merupakan perkataan yang paling benar diantara semua orang.
Perangainya amat lembut dan paling ramah dalam pergaulan.

Barangsiapa yang melihatnya, pastilah akan menaruh hormat padanya.
Barangsiapa yang pernah berkumpul dengan Beliau tentulah ia akan mencintainya.
Yang menceritakan sifatnya, pastilah akan berkata;
" Belum pernah aku melihat sebelum dan sesudahnya orang yang seistimewa BELIAU SAW".

Anakku,
Sekelumit gambaran RASULULLAH SAW yang kita rindukan.
Kita yang hanya membaca dan mendengar riwayat BELIAU SAW,
hanya bisa berurai air mata menahan RINDU yang bersangatan.

Wahai ALLAH...,jumpakan kami , kumpulkan kami dengan KEKASIH MU yang kami RINDUI , yang kami IMPI IMPI, yang kami CINTAI.
Amiin...!
[dikutip dari HR. Imam at Tirmidzi ].



Solo, 21.10.10
abuaisyah.

KETIKA MENAPAKI USIA 40 TAHUN


Jangan menunda berbuat kebaikan, karena tidak ada yg tahu umur kita kecuali ALLAH SWT

Umur 40 tahun adalah Usia yang matang bagi seseorang dalam berfikir dan bertindak oleh karena itu mudahlah dimengerti jika batas nasib seseorang ditentukan saat mencapai umur 40 tahun

Sebagai orang Islam akan mudah memahami hal ini karena , Allah sebagai pencipta manusia memberi perhatian khusus pada umur 40 tahun yaitu dalam Al-Quran Surat Al-Ahqaf yat ke 15

Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ayyuhal Walad :
“Barangsiapa yang telah melampui usia 40 tahun , tak jua bertaubat, sedangkan kebaikannya tidak dapat mengalahkan kejahatannya, maka hendaklah dia mempersiapkan dirinya untuk masuk kedalam Neraka” Wallahu a'lam.

Bukankah tidak ada yang tahu pasti kapan umur kita ...
Boleh jadi ketika hendak bertaubat di usia 60, namun Allah telah memanggil pulang diusia 41 .. atau bahkan di usia 20 - 30 ... tidak ada yang mampu menjamin umur kita sampai besok.

Bertaubatlah saudaraku,
Sebelum ajal menjemput .. dan diri tak membawa bekal yang cukup untuk kehidupan yang abadi ..





Jadi sudah seharusnya  :

1. Berbuat lebih baik kepada kedua Orang tua, karena atas perjuangannya kita bisa menjadi seperti sekarang ini.

2.Mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah kepada kita dengan banyak berbuat baik dan beramal saleh yg diridhoi oleh Allah SWT dan menambah amalan dalam beribadah.

3.Bertaubat dan berserah diri yang artinya tidak berbuat dosa dan maksiat serta berserah diri bahwa segala sesuatu datangnya dari Allah dan akan kembali lagi kepadaNya

Nasib Baik dan Buruk kita bukan tergantung pada orang lain tapi tergantung pada diri kita sendiri” Oleh karena itu bersegeralah untuk mengubah nasib kita baik di Dunia maupun di Akhirat .



Firman Allah dalam Surat. Aali-Imran ayat 133 :

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (QS. 3:133)





Ayesha Natasja

KEMURNIAN JIWA

KEHIDUPAN senantiasa diwarnai dengan cobaan. Orang yang memandang dengan mata HATI yang jernih dan bimbingan cahaya al-Qur’an akan bisa menyaksikan betapa hebat ujian dan cobaan yang datang dan pergi silih berganti. Fitnah datang bertubi-tubi. Sehingga hal itu membuat sebagian orang terhempas oleh ombak fitnah yang dia alami. Namun, di sisi lain ada pula orang yang tetap tegar menghadapi terpaan gelombang fitnah ini dengan taufik dari ALLAH سبحانا وتعاﱃ kepada dirinya. Inilah sunnatullah di jagad raya yang akan memisahkan barisan hamba-hamba yang berbahagia dengan hamba-hamba yang binasa.



ALLAH سبحانا وتعاﱃ berfirman di dalam kitab-NYA yang mulia,

“Sungguh berbahagia orang yang menyucikan jiwanya dan sungguh merugi orang yang justru mengotorinya.” (Asy Syams: 9-10)

ALLAH lah yang telah menciptakan jiwa dengan segenap tabiat dan perangainya. Dan ALLAH pula yang mengilhamkan kepadanya potensi untuk bertakwa dan potensi untuk berbuat dosa. Maka barang siapa yang memilih ketaatan kepada ALLAH dan Rasul-NYA صلیﷲ علیﻪ و سلم serta menjunjung tinggi hal itu di atas segala-galanya maka sungguh dia telah menyucikan jiwanya dan membersihkannya dari akhlak-akhlak yang rendah dan tercela. Dan orang yang menyucikan jiwanya itu berarti akan merasakan kebahagiaan hakiki di dunia dan di akhiratnya, semoga ALLAH memasukkan kita ke dalam golongan ini. Sebaliknya, barang siapa yang justru memperturutkan kemauan hawa nafsunya tanpa mematuhi rambu-rambu syariat yang ditetapkan oleh ALLAH yang Maha bijaksana, maka sesungguhnya dia telah mengotori jiwanya. Dan jelas sudah bagi kita bahwa orang yang mengotori jiwanya akan merasakan kerugian dan kesempitan hidup di dunia maupun akhiratnya.


Saudaraku, perjalanan hidup kita di dunia adalah singkat. Tidakkah kita ingat belasan atau beberapa puluh tahun yang silam kita masih kanak-kanak. Ketika itu kita masih asyik dengan permainan bersama teman sepergaulan. Ketika itu kita masih belum mengenal makna syahadat dengan benar. Ketika itu kita masih belum mengenal hakikat tauhid yang sesungguhnya. Yang kita mengerti ketika itu bahwa tauhid adalah mengakui bahwa ALLAH itu esa, titik. Demikian pula kita belum mengenal dakwah salaf dan para ulama yang telah menghabiskan umurnya, mencurahkan pikiran dan tenaganya demi memperjuangkan dakwah yang mulia ini. Kemudian setelah kita dewasa ALLAH berkenan mengaruniakan hidayah kepada kita untuk belajar tauhid dan mengenal seluk beluknya. Dan ALLAH juga membukakan kepada kita berbagai referensi ilmiah yang telah ditulis oleh para ulama dari masa ke masa. Akankah kita sia-siakan hidayah ini dengan menenggelamkan diri dalam kemaksiatan dan kerusakan akhlak? Akankah kita wujudkan rasa syukur ini dengan melakukan perbuatan yang dimurkai oleh-NYA?


Saudaraku, semua manusia pasti pernah berbuat salah. Akan tetapi yang menjadi persoalan sekarang adalah apakah kita sudah bertaubat dengan ikhlas dan sungguh-sungguh dari setiap dosa dan kesalahan kita. Itulah pertanyaan besar yang akan sangat sulit dijawab oleh orang yang sama sekali tidak mau mempedulikan kondisi HATInya. Adapun orang yang mendapatkan taufik dari ALLAH untuk berpikir dan merenungkan setiap aktivitas yang dia kerjakan, maka dia akan bisa merasakan bahwa sesungguhnya menundukkan hawa nafsu dan mewujudkan taubat yang sejati tidaklah seringan mengucapkannya dengan lisan. Terlebih lagi pada masa seperti sekarang ini, ketika berbagai fitnah laksana gelombang lautan yang datang menghempas silih berganti.


Oleh sebab itu, melalui tulisan yang singkat ini ada baiknya kita sedikit mengupas kiat (tips. rahsia) agar seorang hamba bisa memiliki jiwa yang tenang alias nafsul muthma’innah, bukan nafsu yang senantiasa menyesali diri (nafsul lawwamah) ataupun nafsu yang selalu mengajak kepada keburukan (nafsu ammarah bi suu’).


ALLAH سبحانا وتعاﱃ berfirman (maksudnya),

“Orang-orang yang HATInya merasa tentram karena mengingat ALLAH. Ketahuilah bahwa dengan mengingat ALLAH maka HATI akan menjadi tentram.” (Ar Ra’d: 28)

Seorang hamba akan memiliki jiwa yang tenang tatkala ia selalu berusaha mengingat ALLAH, baik dalam keadaan bersama orang ataupun sendiri, dalam posisi duduk, berdiri, ataupun berbaring. ALLAH سبحانا وتعاﱃ berfirman (maksudnya),

“Orang-orang yang selalu mengingat ALLAH dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring.” (Ali ‘Imran: 191)

ALLAH سبحانا وتعاﱃ memerintahkan pula agar kita selalu berzikir kepada-NYA dan tidak lalai dari mengingat-NYA. ALLAH سبحانا وتعاﱃ berfirman (maksudnya),

“Dan ingatlah Rabbmu di dalam HATImu dengan penuh perendahan diri, merasa takut, dan tanpa mengeraskan suara di waktu pagi ataupun di waktu sore. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (Al A’raaf : 205)


Dengan berzikir kepada ALLAH maka HATI akan hidup. Syaikhul Islam rahimahullah mengatakan, “Dzikir bagi HATI laksana air bagi ikan. Lalu apakah yang akan terjadi pada seekor ikan jika dipisahkan dari air?” (lihat Al Wabil Ash Shayyib).


Seorang hamba yang selalu mengingat ALLAH akankah ia terus menerus berbuat maksiat tanpa menyimpan perasaan menyesal dan tekad kuat untuk tidak mengulangi kemaksiatannya? Akankah dia merasa aman dari makar ALLAH? Hasan Al Bashri rahimahullah mengatakan,

“Orang mukmin mengerjakan berbagai ketaatan dalam keadaan takut, HATI yang bergetar, dan penuh kekhawatiran. Adapun orang yang fajir (pendosa) melakukan berbagai kemaksiatan dalam keadaan merasa aman.” (lihat Tafsir Ibnu Katsir terhadap Al A’raaf ayat 99)

ALLAH سبحانا وتعاﱃ berfirman (maksudnya),

“Apakah mereka merasa aman dari makar ALLAH, tidak ada yang merasa aman dari makar ALLAH selain orang-orang yang merugi.” (Al A’raaf : 99)

Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma menceritakan bahwa Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلمpernah ditanya tentang dosa-dosa besar? Maka beliau menjawab,

“Mempersekutukan ALLAH, berputus asa dari rahmat ALLAH, dan merasa aman dari makar ALLAH.” (HR. Al Bazzar dalam Musnad [106], dihasankan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ [4479])

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh hafizahullah menjelaskan,

“Perasaan aman dari makar ALLAH itu berasal dari ketiadaan rasa takut dan meninggalkan ibadah khauf. Ibadah khauf adalah ibadah HATI. Rasa takut ini, yaitu khauf ibadah, muncul karena pengagungan terhadap ALLAH jalla jalaluhu. Apabila rasa takut ini telah bersemayam dalam HATI seorang hamba, maka hamba itu akan berusaha untuk melakukan hal-hal yang diridhai-NYA serta menjauhkan diri dari melakukan hal-hal yang dilarang ALLAH. Dia akan mengagungkan ALLAH jalla wa ‘ala dengan melakukan hal-hal yang akan mendekatkan diri kepada-NYA dalam bentuk rasa takut di dalam dirinya…” (Kifayatul Mustazid bi Syarhi Kitab At Tauhid, hal. 188)

Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلمbersabda,

“Apabila engkau melihat ALLAH memberikan kesenangan dunia kepada seorang hamba padahal dia sedang bergelimang dengan kemaksiatan, sesungguhnya itulah sebenarnya istidraj.” (HR. Ahmad, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim)

Isma’il bin Rafi’ mengatakan,

“Termasuk merasa aman dari makar ALLAH adalah apabila seorang hamba terus menerus melakukan perbuatan dosa dan dia berangan-angan untuk mendapatkan ampunan dari ALLAH.” (lihat Fathul Majid, hal. 347)


ALLAH سبحانا وتعاﱃ berfirman (maksudnya),

“ALLAH yang melihat kalian ketika berdiri untuk sholat serta menyaksikan perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.” (Asy Syu’ara: 218-219)

ALLAH سبحانا وتعاﱃ juga berfirman (maksudnya),

“Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada.” (Al Hadid: 4)

ALLAH سبحانا وتعاﱃ juga berfirman (maksudnya),

“Sesungguhnya ALLAH, tidak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi-NYA baik yang ada di bumi ataupun yang ada di langit.” (Ali ‘Imran: 5)

ALLAH سبحانا وتعاﱃ juga berfirman (maksudnya),

“Sesungguhnya Rabbmu benar-benar mengawasi.” (Al Fajr: 14)

ALLAH سبحانا وتعاﱃ juga berfirman (maksudnya),

“ALLAH mengetahui pandangan mata khianat serta apa yang tersembunyi di dalam dada.” (Ghafir : 19)



Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“Ketahuilah, sesungguhnya KECINTAAN yang paling berguna secara mutlak, CINTA yang paling wajib, CINTA paling tinggi dan paling mulia adalah MENCINTAI sesuatu yang menjadikan HATI tunduk MENCINTAI-NYA; yaitu sesuatu yang menciptakan seluruh makhluk demi beribadah kepada-NYA. Dengan dasar CINTA inilah langit dan bumi tegak. Di atas tujuan inilah seluruh makhluk diciptakan. Inilah rahasia kalimat syahadat la ilaha illallah. Karena makna ilah adalah sesuatu yang menjadi dipuja oleh HATI dengan rasa CINTA, pemuliaan, pengagungan, perendahan diri dan ketundukan. Sedangkan ketundukan dan peribadatan tidak boleh ditujukan kecuali kepada-NYA semata. Hakikat ibadah itu adalah kesempurnaan rasa CINTA yang diiringi dengan ketundukan serta perendahan diri yang sempurna. Kesyirikan dalam hal ibadah jenis ini merupakan tindakan zalim yang paling zalim yang tidak akan diberikan ampun oleh ALLAH. ALLAH سبحانا وتعاﱃ DICINTAI karena kemuliaan diri-NYA sendiri yang sempurna dari seluruh sisi. Adapun selain ALLAH, maka ia DICINTAI apabila bersesuaian dengan KECINTAAN kepada-NYA.”

Beliau melanjutkan,

“Kewajiban untuk MENCINTAI ALLAH Yang Maha Suci ditunjukkan oleh seluruh kitab yang diturunkan, dibuktikan pula oleh dakwah semua Rasul-NYA dan juga fitrah yang telah dikaruniakan ALLAH kepada diri hamba-hamba-NYA, selaras dengan akal sehat yang diberikan kepada mereka, sesuai dengan hikmah penganugerahan nikmat kepada mereka. Karena sesungguhnya HATI-HATI manusia tercipta dalam keadaan MENCINTAI sosok (bentuk, peribadi) yang telah menganugerahkan kenikmatan dan berbuat baik kepadanya. Lantas bagaimana lagi rasa CINTA terhadap sosok yang menjadi sumber segala kebaikan yang ada ? Segala macam nikmat yang ada pada makhluk-NYA maka itu semua berasal dari ALLAH سبحانا وتعاﱃ yang tidak ada sekutu bagi-NYA, sebagaimana ditegaskan oleh ALLAH سبحانا وتعاﱃ dalam firman-NYA (maksudnya),


“Dan nikmat apapun yang ada pada kalian maka semuanya berasal dari ALLAH. Kemudian apabila kalian tertimpa musibah maka kepada-NYA lah kalian memulangkan urusan.” (An-Nahl: 53)


Nama-nama yang paling indah dan sifat-sifat maha tinggi yang diperkenalkan kepada hamba-hamba-NYA untuk menyingkap jati diri-NYA serta pengaruh-pengaruh yang timbul dari berbagai ciptaan-NYA maka itu semua merupakan bagian dari kesempurnaan, puncak kemuliaan dan keagungan-NYA.” (Ad-Daa’ wad Dawaa’, hal. 256)



Syaikhul Islam berkata,

“… sesungguhnya apabila HATI seseorang telah bisa merasakan manisnya penghambaan diri kepada ALLAH dan lazatnya MENCINTAI-NYA maka tidak akan ada sesuatu yang lebih disukainya daripada hal itu sampai-sampai dia pun lebih mengedepankan CINTAnya kepada ALLAH di atas apa saja. Dengan sebab itulah orang-orang yang benar-benar ikhlas beramal karena ALLAH bisa terbebas dari perbuatan jelek dan keji, sebagaimana difirmankan ALLAH سبحانا وتعاﱃ (maksudnya),


“Demikianlah, Kami palingkan darinya (Nabi Yusuf) perbuatan yang jelek dan keji. Sesungguhnya dia adalah termasuk hamba Kami yang terpilih (ikhlas).” (Yusuf: 24)

Kemudian beliau melanjutkan,

“Karena sesungguhnya orang yang mukhlis lillaah bisa merasakan manisnya penghambaan dirinya kepada ALLAH sehingga bisa membentengi dirinya dari penghambaan kepada selain ALLAH. Demikian pula, dia telah merasakan manisnya CINTA kepada ALLAH sehingga mampu membentenginya dari KECINTAAN kepada selain-NYA. Hal itu dikarenakan HATI yang sehat dan selamat tidak akan bisa merasakan sesuatu yang lebih lazat, lebih menyenangkan, lebih menggembirakan dan lebih nikmat daripada manisnya iman yang menyimpan sikap penghambaan diri, KECINTAAN dan ketaatan menjalankan agama hanya kepada ALLAH. Dan itu semua menuntut ketertarikan HATI yang begitu dalam kepada ALLAH. Sehingga HATInya akan menjadi senantiasa kembali taat dan mengingat ALLAH, merasa takut hukuman-NYA, berharap dan cemas karena-NYA. Sebagaimana yang dijelaskan oleh ALLAH سبحانا وتعاﱃ dalam firman-NYA (maksudnya),


“Yaitu barang siapa yang merasa takut kepada Ar-Rahman dalam keadaan dia tidak melihat-NYA dan menghadap ALLAH dengan HATI yang kembali taat.” (Qaaf: 33)


Karena seorang PENCINTA tentu akan merasa khawatir apa yang dicarinya menjadi sirna atau apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi. Oleh sebab itu tidaklah seseorang menjadi hamba ALLAH yang sejati kecuali dirinya berada dalam keadaan takut serta berharap-harap. Hal itu sebagaimana yang difirmankan ALLAH سبحانا وتعاﱃ (maksudnya),

“Sesembahan-sesembahan yang diseru selain ALLAH itu adalah justru beramal demi mencari kedekatan diri kepada ALLAH siapakah diantara mereka yang bisa menjadi paling dekat kepada-NYA, mereka mengharap rahmat-NYA dan khawatir tertimpa azab-NYA. Sesungguhnya azab Rabbmu harus ditakuti dan diwaspadai.” (Al-Israa’: 57) …” (Al-’Ubudiyah, hal. 108)



Ibnul Qayyim berkata,

“Kelazatan sesuatu mengikuti rasa CINTA terhadapnya. Kelazatan itu akan semakin menguat seiring dengan menguatnya rasa CINTA dan akan melemah pula sering dengan melemahnya rasa CINTA. Setiap kali keinginan dan kerinduan kepada sosok yang DICINTAI semakin menguat maka kelazatan yang dirasakan ketika menemuinya juga akan terasa semakin sempurna. CINTA dan kerinduannya kepada ALLAH itu tergantung pada ma’rifah dan ilmu yang dimilikinya. Setiap kali ilmunya tentang ALLAH bertambah sempurna maka KECINTAAN kepada-NYA pun semakin bertambah sempurna. Apabila kenikmatan yang sempurna di akhirat dan kelazatan yang tiada tara itu berporos pada ilmu dan KECINTAAN maka barang siapa yang lebih dalam keimanan dan pengetahuannya kepada ALLAH, kepada nama-nama dan sifat-sifat-NYA serta lebih dalam mengenal agama-NYA maka dia akan semakin MENCINTAI ALLAH. Demikian juga kelazatan yang dirasakannya ketika bertemu, bercengkerama dengan-NYA, memandang wajah-NYA serta mendengarkan ucapan-NYA pun akan semakin bertambah sempurna berbanding lurus dengan ilmu dan KECINTAANnya kepada ALLAH. Dan segala macam kelazatan, kenikmatan, kegembiraan, kesenangan yang ada di dunia ini apabila dibandingkan dengan hal itu maka ia laksana setetes embun di tengah-tengah samudra.

Maka bagaimana mungkin orang yang masih memiliki akal lebih mengutamakan suatu kelazatan yang sedikit dan amat terbatas bahkan tercampuri dengan berbagai dampak yang menyakitkan di atas kelazatan nan agung dan kekal abadi ? Tingkat kesempurnaan seorang hamba tergantung pada dua kekuatan ini : ilmu dan KECINTAAN. Ilmu yang paling utama adalah ilmu tentang ALLAH. CINTA tertinggi adalah CINTA kepada-NYA. Sedangkan sempurnanya kelazatan yang akan dirasakan olehnya bergantung pada kuat-lemahnya dua hal itu, wallaahul musta’aan.” (Ad-Daa’ wad-Dawaa’, hal. 52)


Semoga ALLAH memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-NYA yang memiliki nafsul muthma’innah. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘al aalihi wa shahibihi wa sallam, walhamdulillahi rabbil ‘alamin.



Abu Mushlih Ari Wahyudi
Shared By Bicara Hidayah


“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat (memuji dan berdoa) ke atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu ke atasnya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan. “[Al-Ahzab: 56]