:: RAHASIA DI BALIK “GANJARAN TANPA BATAS”




Bismillahirrahmannirahim,
Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullaah (736 –795 H) dalam kitabnya Lathoo-iful Ma’aarif (hal. 283-284, Cet.-5 Daar Ibn. Katsiir, 1420-H) mengupas dengan indah rahasia di balik janji Allah dalam hadits qudsi yang agung ini:

قَالَ اللَّهُ: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ، إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Allah berfirman: ‘setiap amal anak Adam adalah untuk mereka, kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya’”. [Shahih Bukhari no. 1904]

Beliau mengatakan:

يكون استثناء الصوم من الأعمال المضاعفة فتكون الأعمال كلها تضاعف بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف إلا الصيام فإنه لا ينحصر تضعيفه في هذا العدد بل يضاعفه الله عز وجل أضعافا كثيرة بغير حصر عدد فإن الصيام من الصبر وقد قال الله تعالى: {إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ} [الزمر: 10]

“Terjadi pengkhususan pada ibadah puasa, di mana amalan-amalan yang lain dilipatgandakan menjadi 10 sampai 700 kali lipat, sementara puasa adalah untuk Allah sehingga tidak ada batasan dalam bentuk bilangan dalam hal berlipatgandanya ganjaran yang akan diberikan. Bahkan Allah melipatgandakan ganjaran puasa tanpa batas, karena ibadah puasa adalah bagian dari ash-Shobr (kesabaran). Dan Allah telah berfirman: ‘Sesungguhnya orang-orang yang bersabar dilipatgandakan ganjarannya tanpa batas. (QS. Az-Zumar: 10)’”

Beliau melanjutkan penjelasannya bahwa puasa mengandung semua jenis kesabaran yang terpuji di sisi Allah.

Pertama: di dalam puasa terkandung kesabaran di atas ketaatan pada Allah dengan menunaikan ibadah puasa itu sendiri.
Kedua, dengan puasa seorang hamba telah bersabar dari melakukan apa-apa yang diharamkan Allah berupa syahwat.
Ketiga, orang yang berpuasa telah bersabar dari ketentuan Allah berupa rasa haus dan lapar, lemahnya jiwa dan fisik yang memayahkan. Dan kepayahan yang dirasakan oleh seorang hamba di jalan Allah, akan terekam sebagai catatan pahala bagi hamba tersebut sebagaiman firman Allah:

مَا كَانَ لأهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الأعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ وَلا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلا نَصَبٌ وَلا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلا إِلا كُتِبَ لَهُمْ بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ (١٢٠)

“…tidaklah mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” [QS. At-Taubah: 120]

Sedangkan firman Allah (dalam hadits qudsi di atas):

فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“…puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Menurut Imam Ibnu Rajab (Lathoo-iful Ma’aarif hal. 287-290), setidaknya ada dua hal yang menjadikan ibadah puasa begitu spesial sampai-sampai Allah mengklaimnya dengan ungkapan; “puasa itu untuk-Ku”:

Pertama: Ibadah puasa memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh jenis ibadah lainnya. Lihatlah bagaimana dalam ibadah puasa, seorang mukmin benar-benar berlepas diri dari segenap kecendrungan nafsu duniawi berupa makan, minum, dan syahwat. Cobalah renungkan, yang demikian ini benar-benar tidak terdapat pada ibadah yang lain. Pada ibadah ihram contohnya, seorang hamba dilarang dari berhubungan intim, namun tidak dilarang dari makan dan minum. Pada ibadah sholat misalkan, sekalipun pelaksanaannya harus terlepas dari ketiga jenis syahwat duniawi di atas, namun rentang waktunya tidak selama puasa. Alhasil, ibadah puasa memang spesial dalam hal ini, sehingga tidak heran jika Allah pun memperlakukannya dengan spesial pula.

Kedua: Ibadah puasa itu merupakan rahasia antara individu hamba dengan Rabb-nya, tak ada satu pun orang yang tahu apakah seseorang benar-benar berpuasa atau tidak, kecuali Rabb. Dan jika seorang hamba benar-benar berpuasa, bisa dipastikan akan kejujuran niatnya terhadap Allah. Itulah sebabnya mengapa Imam Ahmad dan yang lainnya mengungkapkan bahwa “tidak ada riya’ pada orang-orang yang berpuasa.”

Dalam ungkapannya yang indah, Imam Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan:

والله تعالى يحب من عباده أن يعاملوه سرا بينهم وبينه وأهل محبته يحبون أن يعاملوه سرا بينهم وبينه بحيث لا يطلع على معاملتهم إياه سواه حتى كان بعضهم يود لو تمكن من عبادة لا تشعر بها الملائكة الحفظة

“Allah ta’ala mencintai dari hamba-hamba-Nya mua’amalah yang bersifat rahasia dengan-Nya, hanya di antara mereka dan Dia. Demikian pula orang-orang yang cinta pada Allah, mencintai kerahasiaan bermua’amalah dengan-Nya, cukup antara mereka dan Dia. Jangan sampai ada orang lain yang mengetahui mu’amalah mereka dengan Allah, selain Allah sendiri. Sampai-sampai sebagian di antara mereka (yang memiliki sifat seperti ini) berangan-angan agar ibadah mereka (pada Allah) tidak mampu tercium oleh Malaikat Penjaga (sekalipun).” [Lathoo-iful Ma’aarif hal. 290]

***



Wallahu a'lam bishawab

:: JAMUAN ALLAH UNTUK ORANG MUKMIN



Bismillahirrahmannirahim,

SAAT manusia kembali kepada Tuhannya, di situlah ia akan bersilaturrahmi kepada penciptanya. Tuhan yang memberinya petunjuk dan yang memberinya alam kehidupan.

Pertemuan antara pencipta dan yang dicipta ini, merupakan akhir dari perjalanan yang dilalui manusia. Layaknya tuan rumah, Allah menyediakan tamu-tamunya berbagai hidangan, tergantung kepada setiap individu-individu yang sampai kepadaNya.

Pada mereka disediakan tempat-tempat khusus tergantung kepada jalur dan rute yang dilalui. Mereka yang beriman akan ditempatkan di tempat khusus yang namanya sorga dan mereka yang tidak beriman akan ditempatkan di ruang yang disebut neraka.

"Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang yang beriman dan beramal soleh ke dalam sorga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka berhiaskan kalung-kalung dari emas dan mutiara, pakaian mereka terbuat dari sutera, mereka diantarkan dalam ruang yang penuh kata-kata baik dan indah dan mereka diantarkan kepada jalan yang terpuji" (QS. Haj : 23-24).


SURGA memang jamuan dari Allah, Yang Maha Kaya dan Maha Dermawan. Hadiah ini dinisbatkan kepada tamu-tamu Allah yang beriman dan mereka yang senantiasa menjunjung tinggi etika mulia (ahlakul karimah). Yaitu mereka yang senantiasa melakukan kabajikan dan senantiasa memerangi kemaksiatan.


Rasulullah pernah bersabda, "Kebanyakan yang menjadikan manusia masuk sorga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia" (HR. Ahmad).


JAMUAN yang diberikan oleh Sang Pencipta tentu berbeda jauh dengan jamuan yang ada di dunia ini. Jamuan yang biasa kita berikan kepada tamu-tamu mungkin sebatas makanan, minuman dan hadiah-hadiah kecil dan perkara-perkara duniawi. Jamuan kita juga terbatas dengan waktu dan tempat, tergantung kepada situasi dan kondisi. Mungkin, ketika kita senang, jamuan yang kita hidangkan terkadang terkesan glamor dan berlebih-lebihan, namun kala kita sedang marah dan tertekan, jamuan yang kita sajikan begitu sederhana dan bahkan tidak segan kita tidak menyuguhkan apa-apa. Terkadang kita juga memberi jamuan kepada tamu-tamu hanya untuk gengsi-gengsian, memamerkan kekayaan kita dan demi tujuan tertentu kita.


Lain halnya jamuan yang dihidangkan oleh Allah kepada hamba-hambanya yang beriman dan beramal saleh. Jamuan ini begitu sempurna. Saking sempurnanya hingga sulit untuk digambarkan dan dicontohkan dalam kehidupan ini.

Kata Rasulullah, "Sorga ibaratnya, tidak ada mata yang pernah melihatnya dan tidak ada telinga yang pernah mendengarnya, bahkan tidak sedetik pun bisa terbersit dalam hati manusia, dari sesuatu yang maha sempurna".

Karena itulah kebahagiaan hakiki yang disuguhkan kepada hamba-hamba yang beriman dan beramal saleh.

Dan kebahagiaan yang PALING TINGGI yang disuguhkan Allah dalam surga adalah berkesempatan bertemu langsung dengan Allah,

"Tingkat sorga terendah adalah perumpamaan seseorang yang berkesempatan menikmati kampung halamannya, melihat istrinya, sanak saudaranya dengan penuh kebahagiaan selama seribu tahun. Dan tingkat tertinggi sorga adalah melihat Allah siang dan malam, "Muka-muka mereka pada hari itu berseri karena melihat Tuhan mereka" (H.R. Tirmizi).


Nabi Ibrahim as. bernah berpesan kepada Nabi Muhammad saw pada saat perjumpaan keduanya di malam Mi'raj, "Hai Muhammad, sampaikan salamku untuk umatmu dan ceritakan kepada mereka bahwa sorga bertanahkan wangi-wangian, airnya terasa segar, dan tanaman-tanamannya adalah "subhanallah", 'Alhamdulillah" dan "la'ilaaha illallah".


Siapakah tamu-tamu yang berhak mendapat suguhan sorga ketika nanti bertemu Allah. Mereka adalah orang-orang yang telah dijelaskan oleh al-Qur'an surah Ali Imran ayat 133-135 sebagai berikut:

* Orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang takut Allah, dengan menjalankan semua perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.

* Orang-orang yang menyedekahkan hartanya sesuai dengan anjuran agama, baik itu zakat, sedekah maupun infak, baik dalam keadaan sulit maupun mudah. Ketika mereka banyak rezeki tidak mencerminkan orang yang cinta harta, bahkan ketika mereka dalam kesulitan sama sekali tidak mencerminkan kepelitan.

* Mereka yang bisa menahan amarah dan tidak berbuat aniaya.

* Mereka yang pemaaf, dan yang demi kebaikan selalu memaafkan orang yang pernah menganiayanya dan memusuhinya.

* Mereka yang ketika melakukan perbuatan tercela, segera ingat Allah dan meminta ampunanNya atas dosa-dosa yang dilakukannya.

* Mereka yang tidak suka berlarut-larut dalam kesalahan dan perbuatan dosa.


Dalam surah Al-Mu'minun ayat 1-11 juga dijelaskan sifat-sifat penghuni sorga, sebagai berikut :

* Orang-orang yang beriman dengan rukun-rukun iman, yaitu iman kepada Allah, malaikat-malaikat Allah, kitab-kitab Allah, nabi-nabi Allah, hari akhir dan ketentuan dan keputusan Allah. Mereka beriman dengan lisan, hati dan perbuatan mereka.

* Mereka yang mendirikan salat mereka dengan khusyu'

* Mereka yang meninggalkan hal-hal yang tidak berguna, dan yang memanfaatkan waktu mereka untuk tindakan-tindakan yang bermanfaat.

* Mereka yang membayar zakat, baik zakat harta maupun zakat fitrah.

* Mereka yang menjaga alat kelamin mereka dari perbuatan zina dan pelanggaran seksual yang dilarang agama.

* Mereka yang yang senantiasa memenuhi amanah dan janji-janji mereka, dan

* Mereka yang senantiasa menjaga salat-salat mereka.


Sahabat yang dicintai Allah ..
Selamat menikmati jamuan istimewa dari Rabb ..
Manfaatkan lah detik demi detik di bulan Ramadhan ini dengan penuh Cinta ..

Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang memperoleh kemenangan yang hakiki , menempatkan Cinta tertinggi untuk Nya dalam setiap detak jiwa .. aamiin ya Robbal alamin .





Wallahu a'lam bishawab,
(Disarikan dari kitab "Al-durus al-Ramadlaniyah" dan "Min Kunuzil Islam",)

:: KHUTBAH RASULULLAH SAW SAAT MENYAMBUT RAMADHAN




Bismillahirrahmannirahim,

”Sungguh telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkatan. Allah telah mewajibkan kepadamu puasa-Nya. Di dalam bulan Ramadhan dibuka segala pintu surga dan dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu seluruh setan. Padanya ada suatu malam yang terlebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak diberikan kepadanya kebaikan malam itu, maka sesungguhnya dia telah dijauhkan dari kebajikan.”


“Telah datang kepadamu bulan Ramadhan penghulu segala bulan, maka sambutlah kedatangannya.”


“Wahai manusia, sesungguhnya kamu akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkatan, bulan yang Allah telah menjadikan puasanya suatu kewajiban, dan qiyam (mendirikan shalat sunat) di malam harinya suatu tatawwu’.”


“Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya samalah dia dengan orang yang menunaikan sesuatu fardhu di dalam bulan yang lainnya.”


“Barangsiapa menunaikan sesuatu fardhu dalam bulan Ramadhan samalah dia dengan orang yang mengerjakan tujuh puluh fardhu di bulan lainnya.”


“Ramadhan itu adalah bulan sabar, sedangkan sabar itu pahalanya adalah surga. Ramadhan itu adalah bulan memberikan pertolongan dan bulan Allah memberikan rezeki kepada mukmin di dalamnya.


“Barangsiapa memberikan makanan berbuka kepada orang yang berpuasa, yang demikian itu adalah pengampunan bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka. Orang yang memberikan makanan itu memperoleh pahala seperti yang diperoleh orang yang berpuasa. Allah memberikan pahala itu kepada orang yang memberikan walaupun sebutir korma, atau seteguk air, atau sehirup susu.”


“Dialah bulan yang permulaannya adalah rahmat, pertengahannya adalah ampunan, dan akhirnyalah adalah kebebasan dari neraka.”


“Barangsiapa yang meringankan beban seseorang (yang membantunya) niscaya Allah mengampuni dosanya.”


“Oleh itu banyakkanlah yang empat perkara dibulan Ramadhan. Dua perkara untuk mendatangkan keredhaan Tuhanmu dan dua perkara lagi kamu sangat menghajatinya. Dua perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya tiada tuhan melainkan Allah dan mohon ampun kepada-Nya. Dua perkara yang kamu sangat memerlukannya ialah mohon surga dan perlindungan dari neraka.”


“Barangsiapa memberi minum orang yang berpuasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari air kolamku dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk ke dalam surga.”

(HR Ibnu Khuzaimah)



Wallahua'lam bishawab,

:: YUK , BERJABAT TANGAN KARENA ALLAH







Bismillahirrahmannirahim,


Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan, "Berjabat tangan itu dapat menambah kecintaan."

Al-Imam Mujahid rahimahullah berkata, "Telah sampai kepadaku bahwasanya apabila dua orang yang saling mencintai (karena Allah Subhanahu wa Ta'ala) saling melihat, kemudian salah satunya tertawa kepada sahabatnya dan keduanya saling berjabat tangan, maka berguguranlah kesalahan-kesalahan keduanya sebagaimana gugurnya daun-daun dari pepohonan."

Seseorang berkata kepada beliau, "Sungguh ini merupakan amalan yang ringan sekali."

Beliau pun menyahut, "Kamu katakan ringan?! Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka." (QS. Al-Anfal: 63)

[Jami'ul 'Ulum wal Hikam, halaman 291]

:: DOA AGAR DIMUDAHKAN BERAMAL SHALIH DAN MENDAPATKAN KECINTAAN ALLAH




Bismillahirrahmannirahim,

Allaahumma innii as-aluka fi'lal khairaat, wa tarkal munkaraat, wa hubbal masaakiin, wa antaghfiralii wa tarhamanii, wa idzaa aradta fitnata qaum, wa tawaffanii ghaira maftuun, wa as-aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuk, wa hubba 'amalin yuqarribunii ilaa hubbik.

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, meninggalkan semua perbuatan yang munkar, mencintai orang-orang miskin, dan agar Engkau mengampuni dan menyayangiku. Dan jika Engkau hendak menimpakan suatu fitnah (malapetaka) bagi suatu kaum, maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terkena fitnah itu. Dan aku memohon kepada-Mu rasa cinta kepada-Mu dan cinta kepada orang-orang yang mencintaimu, juga cinta kepada amal perbuatan yang akan mendekatkan diriku untuk mencintai-Mu.


[HR. Ahmad dengan lafazhnya V/243, dan hal yang sama juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 3235, al-Hakim I/521 dan dihasankan oleh at-Tirmidzi dan dia berkata: "Aku pernah bertanya kepada Muhammad bin Isma'il -yakni, al-Bukhari- maka dia menjawab: 'Hadits ini hasan shahih.'" Dan di akhir hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bersabda,

"Sesungguhnya ia (doa tersebut) merupakan hal yang benar, maka pelajari (hafalkan) dan perdalamlah."


Aamiin yaa Robbal alamin ..

:: BERBURU PAHALA KETIKA HAID



Bismillahirrahmaanirrohiim

Sungguh banyak amal yang bisa dikerjakan kaum Hawa saat mereka haid. Meskipun ada beberapa amal yang tidak dapat mereka kerjakan, seperti Sholat dan Puasa. Tetapi ada beberapa amal-amal lain yang dapat menggantikannya, yaitu :


1. DZIKRULLAH

”Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang” (QS.al-Ahzab:41-42)

“…laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah, Allah akan menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar” (QS.al-Ahzab:35)


Dzikir dapat dilakukan disembarang waktu,
Rosulullah saw dan para ulama telah memberikan contoh dzikir khusus diwaktu pagi dan petang. Dzikrullah dapat dilakukan dengan memperbanyak istighfar, tasbih, tahmid dan tahlil , memohon ampunan dan Pengagungan kepada kepada Allah Subhana wa Ta'ala sang pemilik jiwa. Lafazkan dzikir (dzikir qalbi) dalam setiap gerak aktifitas keseharian kita, Insya Allah akan memberikan ketenangan dan ketentraman hati bersama Nya.

Bersihkan diri, Bersihkan hati , kemudian berdzikir dengan hati yang menghadap kepada Allah.

Rasulullah saw bersabda yang artinya, ”Wahai kaum wanita, bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istighfar, karena aku melihat kebanyakan penghuni neraka adalah kaum kalian” HR.Muslim


2. BELAJAR MENGAJAR


Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap kaum muslimin, baik laki-laki maupun wanita. Banyak cara menuntut ilmu yang bisa ditempuh, yang paling utama adalah belajar kepada guru. Kita juga bisa membeli buku atau CD kajian-kajian tentang Islam.

“Allah swt akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dianatara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (QS.al-Mujadalah:11)

Rosulullah saw memuji kepada wanita-wanita Anshor
” Sebaik-baik kaum wanita adalah wanita Anshar, mereka tidak tercegah oleh rasa malu untuk belajar mendalami agama” (HR.Bukhori)

Dan kemudian dapat membagikan kembali kepada teman-temannya yang lain.



3. BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

Bentuk amal lain adalah berbakti kepada orang tua. Sebagai anak wanita harus berbakti kepada ibu dan bapaknya (birrul walidain) ibulah orang yang susah payah mengandung sembilan bulan dan menyusui selama dua tahun. Bapaknya telah menafkahinya hinnga ia menjadi remaja dan dewasa. Kebaikan keduanya tak dapat diukur dan dinilai dengan materi sepenuh bumi dan langit.

“Dan Kami (Allah) wasiatkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadalah lemah yang amat sangat dan baru menyapihnya setelah dua tahun. Sebab itu, bersyukurlah kepada Ku dan kepada kedua orang tuamu…..” (QS. Luqman : 14)

Doa-kan kedua orang tua kita, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (QS.al-Isra’:24).



4. BERKHIDMAT (MELAYANI) KEPADA SUAMI

Sebagaimana diketahui bersama , wanita haid " tidak dilarang" untuk bermesraan dengan suaminya dan menggembirakan suaminya kecuali satu hal, yaitu berhubungan suami istri.

Dan hal-hal sbb :

Mentaati perintah suami dalam hal kebaikan;
Menjaga kehormatan suami dan hartanya;
Menjaga hak suami dan mengatur rumah serta mendidik anak;
Berbuat baik kepada keluarga suami;

Dalam rangka meraih cinta dan keridhaan suami, kaum wanita diperbolehkan menghiasi tangan dan kakinya dengan inai. Dianjurkan pula agar ia melakukan itu pada masa haid. Sebab pada masa haid ia tidak perlu menghilangkannya karena harus berwudhu.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar melalui jalur Nafi’ Maula Ibnu Umar, bahwa beliau berkata,”Istri-istri Ibnu Umar biasa mewarnai tangan dan kaki mereka pada masa haid.” (HR.ad-Darimi)



5. TOLABUL ILMI (MENAMBAH ILMU) DAN BERDAKWAH

Inilah amal wanita yang tidak terhalang oleh haid, yaitu berdakwah. Seorang wanita juga bisa menjadi pendakwah. Menjadi orang yang mampu memberikan pencerahan jiwa kepada insan lain.

Tahukah anda, jika belum mengamalkan dakwah, otomatis akan menghilangkan banyak keutamaan hidup. Alangkah indahnya jika kita hidup dapat saling mengingatkan tentang kebaikan.

“Hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari yang mungkar dan mereka itulah al-muflihun (orang-orang yang sukses)” (QS.Ali Imron:104)



6. MENGHAFAL AL QUR'AN DAN HADIS

Tiada larangan wanita haid menghafal al-Quran maupun hadis. Yang menjadi perselisihan ulama adalah tentang menyentuh mushaf al-Quran (boleh atau tidak). Sehingga waktu –waktu luang saat haid bisa diisi dengan menghafal al-Quran. Menghafal al-Quran dapat menambah daya fikir dan tentu juga memfasihkan lisan.


7. PERBANYAK INFAK DAN SEDEKAH


Berinfak dan bershodaqoh adalah kegemaran orang-orang sholeh dan sholehah.

Ingin mendapatkan pahala berpuasa ? Perbanyaklah memberi hidangan /makan bagi mereka yang berpuasa , terutama bagi kaum yang sangat membutuhkan makanan.

”Wahai kaum wanita, bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istighfar, karena aku melihat kebanyakan penghuni neraka adalah kaum wanita ” (HR.Muslim)


8. PERBANYAK SILATURAHMI

Silaturahmi sangat dianjurkan dalam Islam, apalagi terhadap kerabat sendiri. Tentunya kita harus tahu bagaimana tatacara atau adab-adab bersilaturahmi sesuai ajaran Islam.

Sabda Rosulullah saw, “barang siapa ingin diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahim.” (Muttafaq’alaih).

Sebaliknya Rosulullah melarang siapa yang memutuskan silaturahim. Sabda Beliau saw,”Tidak akan masuk surga orang-orang yang memutuskan silaturahim” (Muttafaq’alaih)

Buatlah jadwal kunjungan silaturahmi, karena silaturahmi juga dapat menjadi sarana relaksasi, menuntut ilmu dan berbagi pengalaman.




Wallahu a'lam bishawab


Semoga bermanfaat ..

:: HAL-HAL YANG DIBOLEHKAN ORANG BERPUASA TAPI DIANGGAP TIDAK BOLEH



 
Sahabat Beranda ...
Ada di antara kita yang menganggap hal-hal di bawah ini adalah dilarang dalam berpuasa, padahal hal tersebut adalah dibolehkan, antara lain :

1. Memasuki waktu subuh dalam keadaan junub.

Diantara perbuatan Nabi adalah masuk fajar dalam keadaan junub karena jima’ dengan isterinya, beliau mandi setelah fajar kemudian shalat. Dari Aisyah dan Ummu Salamah -Radhiyallahu ‘anhuma- : “Sesungguhnya Nabi memasuki waktu subuh dalam keadaan junub karena jima’ dengan isterinya, kemudian ia mandi dan berpuasa”. [HR. Bukhari 4/123, Muslim 1109].


2. Bersiwak/Menggosok gigi.

Rasulullah bersabda: “Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku suruh mereka untuk bersiwak setiap kali wudlu”. [HR. Bukhari 2/311, Muslim 252].

 

3. Berkumur dan Istinsyaq (memasukkan air ke hidung).

Karena beliau berkumur dan ber-istinsyaq (memasukkan air ke hidung) dalam keadan puasa, tetapi melarang orang yang berpuasa berlebihan ketika ber-istinsyaq.
Rasulullah bersabda : “… Bersungguh-sungguhlah dalam beristinsyaq kecuali dalam keadaan puasa”. (HR. Tirmidzi 3/146).

 

4. Bercengkrama dan mencium isteri.

Aisyah -Radhiyallahu ‘anha- berkata: “Adalah Rasulullah pernah mencium dalam keadaan berpuasa dan bercengkrama dalam keadaan puasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling bisa menahan diri” [HR. Bukhari 4/131, Muslim 1106].

Namun hal ini dimakruhkan bagi pasangan suami istri yang berusia muda dan tidak mengapa bagi pasangan suami istri yang telah tua.
Sebagaimana hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu Anhu, dia bercerita : “Kami pernah bersama Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam, tiba-tiba ada seorang pemuda mendatangi beliau seraya berucap : ‘Wahai Rasulullah ! , bolehkan aku mencium (istriku) sedang aku dalam keadaan berpuasa? Beliau (Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam) menjawab : Tidak .!’ Kemudian ada orang tua seraya bertanya : ‘Apakah aku boleh mencium (istriku) sedang aku dalam keadaan berpuasa ?’ Beliau menjawab : ‘Boleh.!!’(selanjutnya) ‘Abdullah bercerita, “lalu sebagian kami saling berpandangan".
Kemudian Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : “Sesungguhnya orang yang sudah tua itu bisa menahan nafsunya.” Hadits ini diriwayatkanoleh imam Ahmad melalui jalan Ibnu Luhai’ah dari Yazid bin Abi Habib, dari Qaishar at-Tujaibi darinya.

Dan ketahuilah, berdasarkan keterangan yang ada,Sanad hadits ini adalah Dhoif, dikarenakan kedhoifan Ibnu Luhai’ah. Tetapi hadits ini mempunyai syahid atau penguat, yang diriwayatkan oleh at-Thabrani sehingga hadits ini menjadi Hasan. Demikian penjelasan yang kami kuitip darishifatu Shaumin Nabi fii Ramadhaan karya Syaikh Abu Usamah salim bin ‘Ied al Hilalai dan Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali Abdul hamid al-halabi.

 

5. Mengeluarkan darah, transfusi darah dan suntikan yang tidak mengandung makanan.

Selama kondisi kita baik-baik saja, dan tak membawa mudhorot bagi diri kita, setelah kita donor darah, maka diperbolehkan donor darah saat berpuasa. Selain itu jika kita disuntik namun suntikan yang tidak dimaksudkan sebagai makanan.maka hal ini juga diperbolehkan bagi orang yang berpuasa.

 

6. Berbekam.

Bekam atau hijamah adalah teknik pengobatan dengan jalan membuang darah kotor (racun yang berbahaya) dari dalam tubuh melalui permukaan kulit. Perkataan Al Hijamah berasal dari istilah bahasa arab : Hijama (حجامة) yang berarti pelepasan darah kotor. Sedangkan dalam bahasa Inggris disebut dengan cupping, dan dalam bahasa melayu dikenal dengan istilah Bekam. Di Indonesia dikenal pula dengan istilah kop atau cantuk.

Dahulu berbekam merupakan salah satu pembatal puasa, namun kemudian dihapus dan telah ada hadits shahih dari Nabi, bahwa beliau berbekam ketika puasa. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbasd :“Sesungguhnya Nabi berbekam, padahal beliau sedang berpuasa” [HR. Bukhari 4/155].

 

7. Mencicipi makanan.

Hal ini dibatasi, yaitu selama tidak sampai di tenggorokan berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas : “Tidak mengapa mencicipi sayur atau sesuatu yang lain dalam keadaan puasa, selama tidak sampai ke tenggorokan” [HR. Bukhari secara mu'allaq 4/154]

 

8. Bercelak, memakai tetes mata dan lainnya yang masuk ke mata.

Semua hal tersebut tidaklah membatalkan puasa, baik barang tersebut terasa oleh kita maupun tidak. DanUntuk lebih jelasnya, dapat merujuk kepada kitab Zaadul Ma’aad karya al-Alamah Ibnu Qayyim al-Jauziyah (semoga Allah merahmatinya).

 

9. Mengguyurkan air ke atas kepala dan mandi.

Imam Bukhari menyatakan dalam kitab Shahihnya “Bab : Mandinya orang yang puasa”, Umar membasahi pakaiannya (dengan air untuk mendinginkan badannya karena haus ketika puasa) kemudian beliau memakainya ketika dalam keadaan puasa. As-Sya’bi masuk kamar mandi dalam keadaan puasa. Al-Hasan berkata : “Tidak mengapa berkumur-kumur dan memakai air dingin dalam keadaan puasa”.
Rasulullah mengguyurkan air ke kepalanya dalam keadaan puasa karena haus atau kepanasan. [HR. Abu Daud 2365, Ahmad 5/376 sanadnya shahih].

Wallahu a'lam bishshowab.
Selamat memasuki bulan Ramadhan dan selamat beribadah..

O.F.A.