:: JANGANLAH KITA MENCACI MAKI MASA (WAKTU), ANGIN SERTA SEGALA YANG TELAH DIATUR OLEH ALLAH


Bismillahirrahmannirrahim,

Saudaraku, sebagai seorang muslim kita wajib beriman kepada segala hal yang telah diatur oleh Allah. Allah lah yang berkehendak menurunkan hujan/menghentikannya, meniupkan angin /menghentikannya, menumbuhkan tanaman yang dengannya kita dapat mengambil manfaat serta menghentikannya. Serta segala hal disekitar kita yang telah diatur sesuai kehendak Nya.

Dalam Qs.Al-Jatsiyah (45) : 24, Alloh SWT berfirman :

“Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”{Qs. Al-Jaatsiyah (45) : 24}.

Kita juga harus meyakini bahwa Alloh-lah yang mengatur masa (waktu) ini. Oleh karena itu, apapun yang terjadi pada diri kita, baik itu kesenangan ataupun kesedihan / kesusahan. bahwa itu merupakan suatu taqdir / kehendak dari Alloh (qodarulloh) sehingga kita siap menerima apa yang telah diberikan oleh Alloh Ta’ala kepada hamba-Nya.

Diriwayatkan dalam shahih Bukhori dan Muslim dari Abu Huroiroh, bahwa Nabi saw bersabda, “Alloh Ta’ala berfirman, ‘Manusia telah menyakiti Aku. Dia mencaci maki masa, padahal Aku adalah Pemilik dan Pe-ngatur masa. Aku-lah yang mengatur (memutar) malam dan siang menjadi silih berganti’.” Diriwayat lain, “di TanganKu-lah siang dan malam” .


Saudaraku,… pada saat tertimpa musibah, kita dilarang mencaci maki masa (waktu) yaitu menisbatkan musibah dan petaka yang menimpa mereka kepada masa. Atau dengan mengatakan bahwa bahaya masa menimpa mereka dan masa telah membinasakan mereka. Jika mereka telah menyandarkan bahaya yang menimpa mereka kepada masa, berarti mereka mencaci pelakunya. Dengan demikian cacian mereka berujung kepada Alloh Azza wa Jalla, karena Dia adalah pelaku yang sebenarnya. Maka dari itu, mereka dilarang mencaci masa.

Imam Syafi’i, Abu Ubaid dan imam-imam lainnya berkata, “Janganlah kamu mencaci masa, karena Alloh adalah Pemilik dan Pe-ngatur masa.”

Diriwayatkan pula dalam tafsir al-Baghawi,

“Janganlah seorang anak Adam me-ngatakan, aduh celakalah masa, sesungguhnya Aku adalah Pemilik dan Pengatur masa, Aku mengutus malam dan siang. Maka jika Aku berkehendak, Aku dapat menggenggam keduanya.”


~ Mencaci maki Angin / Hujan

Begitu pula dengan pelarangan mencaci maki angin, sebagai seorang muslim, kita dilarang mencaci maki angin.

Diriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab ra bahwa Rosululloh saw bersabda,

“Janganlah kamu mencaci-maki angin. Apabila kamu melihat sesuatu yang tidak menyenangkan, maka berdo’a-lah, ‘Ya Alloh, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dari kebaikan angin ini, kebaikan apa yang terkandung di dalamnya dan kebaikan apa yang diperintahkan kepadanya; dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan apa yang terkandung di dalamnya dan keburukan apa yang diperintahkan kepadanya’.” (Tirmidzi mengatakan: “Shahih”).

Demikian jika turun hujan kita berdoa untuk kebaikan kita :

Ya Allah, (jadikan hujan ini) hujan yang membawa manfaat.


Saudaraku, karena bertiupnya angin disebabkan oleh perintah Alloh Ta’ala dan ia merupakan ciptaanNya. Dia-lah yang menciptakan dan memerintahkan, maka mencacinya sama saja mencaci Alloh swt, Penggerak dan Penciptanya, sebagaimana telah diterangkan dalam larangan mencaci masa (waktu).

Dengan demikian, do’a ini merupakan ibadah kepada Alloh dan merupakan bentuk dari ketaatan kepadaNya dan kepada Rosul-Nya, juga permohonan penolakan dari keburukan yang datang kepadanya dan harapan kepada karunia dan nikmatNya.

Saudaraku, apa yang terjadi yang berupa kebaikan dan keburukan adalah dengan kehendak Alloh dan kekuasaan-Nya, dengan ilmu dan hikmahNya, selain-Nya tidak ada yang ikut andil dalam urusan itu. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki pasti tidak terjadi. Maka yang wajib dalam hal itu adalah memuji-Nya dalam dua keadaan, berbaik sangka kepada-Nya swt serta kembali kepadaNya dengan bertaubat dan berendah diri.

Sebagaimana Alloh Ta’ala berfirman :

“... dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). {Qs. Al-A’raaf (7) : 168}.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ (٣٥)

“ Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami lah kamu dikembalikan.” {Qs. Al-Anbiyaa’(21) : 35}.


Wallahu a'lam bishawab
Referensi :
(Tafsir Ibnu Katsir , Tafsir al-Baghawi, Kitab at-Tauhid, Fathul Majid, Syaikh Abdurrahman Hasan Alu Syaikh, Pustaka Azzam.)

:: KISAH SEORANG ANAK YANG MENGERASKAN SUARANYA DI MESJID

Bismillahirrahmannirrahim,

Seorang imam masjid mengisahkan ...

Ada seorang anak kecil yang umurnya belum mencapai 10 tahun. Dia selalu menjalankan shalat berjamaah di masjid, dan selalunya berusaha menempati shaf paling depan. Anak itu biasa mengeraskan suara saat shalat, terutama tatkala saya selesai membaca al-fatihah, si anak membaca “aamiin” dengan suara sangat keras.

Suatu kali, saya ingin menasihati anak ini agar merubah kebiasaannya. Akan tetapi setiap kali saya selesai shalat dan berdzikir anak itu telah pergi, saya tidak sempat berbicara dengannya.

Hingga suatu kali, setelah selesai shalat saya langsung memegang tangan anak itu sebelum ia pergi. Lalu saya bertanya, “Nak, mengapa engkau sering berteriak keras sewaktu shalat?”

Anak itu menjawab : Rumah saya dekat dengan masjid, tapi ayah tidak pernah ke masjid sama sekali. Saya mengeraskan suara agar ayah mendengar suaraku melalui loudspeaker masjid. Dengan begitu ayah tahu bahwa saya shalat di masjid. Saya berharap ayah segera menyusul ke masjid setelah mendengar suara saya.

Imam tersebut melanjutkan ceritanya, “ Betapa merinding bulu kuduk saya ketika mendengar jawaban anak ini. Maka saya bersepakat dengan sebagian jamaah untuk mengunjungi ayah dari anak tersebut untuk memberikan nasihat dan menceritakan apa yang dilakukan anaknya di masjid.

Hingga akhirnya alhamdulillah Allah membukakan hati sang ayah , sehingga kini sang ayah tak lepas shalat berjamaah di masjid,

Allahu akbar walillahilhamd

[Ust. Abu Umar Abdillah]

:: TEGARLAH WAHAI DIRI DAN TERSENYUMLAH



Bismillah..

Sesungguhnya Dia yang mengujimu dengan sedikit masalah adalah Dia yang selama ini membanjirimu dengan lautan nikmat…Berbaik sangkalah padaNya..

Jika saat ini beban yang di pikul begitu memberatkan punggungmu…Maka berbahagialah..karena Dia telah percaya punggungmu akan kuat memikulnya…

Jika saat ini harapanmu belum terwujud…Maka berbahagialah Karena Dia telah percaya kamu tak akan lelah berjuang dan berpasrah padaNya

Satu hal yang harus diyakini…Dia tidak akan pernah memberikan ujian yang tak mampu kita lalui…

Jadi apapun yang kita hadapi saat ini, itu semata karena kita mampu menjalaninya…

Tetap kuat dan semangat…..!!!!

Ingatlah dalam bahagia Allah menyisipkan duka agar kita tau bahwa ada hikmah dibalik sekaan air mata.

Dalam harap Allah menyelipkan resah agar kita sadar untuk mengiringinya do’a dengan segenap pasrah.

Dalam juangpun Allah meletakan lelah agar kita ingat betapa mahalnya harga istiqomah.

Memang Allah tidak menjanjikan bahwa langit itu tidak selalu biru, bunga tidak selalu mekar dan matahari tidak selalu bersinar.

Tapi ketahuilah bahwa Allaah selalu memberi pelangi disetiap badai, senyum disetiap air mata,berkah disetiap cobaan dan jawaban disetiap do’a.

:: KETELADANAN ..



Bismillahirrahmannirrahim,
 

Ibnu Umar RA pernah datang kepada Aisyah RA dan berkata, “Izinkan kami di sini sejenak dan ceritakanlah kepada kami perkara paling mempesona dari semua yang pernah engkau saksikan pada diri Nabi”.

Aisyah menarik nafas panjang, kemudian tersenyum. Sejurus kemudian ia terisak menahan tangis, lalu berkata dengan suara lirih, “Kaana kullu amrihi ajaba” (Yah, semua perilakunya sangat menakjubkan bagiku).

Kalau Aisyah, istri Rosulullah berkata, “Semua perilaku suamiku menakjubkan bagiku”, kira-kira apa yang akan diucapkan oleh istri kita jika sebagai suaminya ditakdirkan meninggal lebih dulu? Kita juga tidak tahu apa yang akan diucapkan oleh anak-anak kita tentang kita sebagai ayah.

Semua terpulang apakah kita mau mencoba menjadi Ayah dan suami yang mampu menyejukkan hati meski harus gagal berkali-kali, atau, merasa cukup mulia dengan perhatian kita yang tak seberapa selama ini.

Tidak sedikit para Ayah enggan mengusapkan tangan ke pipi anak yang sedang meneteskan airmata, jarang menyempatkan diri membaringkan tubuh anak yang letih hanya karena kita merasa telah banyak berjasa mencari uang yang tak seberapa itu.

Ingin dihormati oleh anak-anak tetapi menciptakan jarak sehingga anak tak pernah sanggup mencurahkan isi hatinya kepada Ayahnya sendiri, ingin menjadi Ayah yang disegani tetapi dengan cara membangkitkan ketakutan. Rasulullah Saw sering mencium putrinya, Fathimatuz Zahra bahkan ketika putrinya telah beranjak dewasa.

@@@@@

Dari Aisyah RA:

Ada seorang Arab dusun datang kepada Nabi Saw sambil berkata, “Engkau mencium anak-anak, sedangkan kami tidak pernah mencium mereka”.

Nabi Saw menjawab, “Apa dayaku apabila Allah telah mencabut kasih-sayang dari hatimu” (HR. Bukhari).

Nabi Saw mencontohkan bagaimana menyayangi anak. Pernah Rasulullah Saw. menggendong cucunya, Umamah binti Abi Al-Ash, ketika sedang shalat. Jika rukuk, Umamah diletakkan dan ketika bangun dari rukuk, maka Umamah diangkat kembali. (Muttafaq alaih)

Pernah juga Rasulullah Saw bermain kuda-kudaan dengan cucunya yang lain, Hasan dan Husain. Ketika Rasulullah Saw merangkak di atas tanah, sementara kedua cucunya berada di punggungnya. Ketika itu Umar RA datang lalu berkata, “Hai Anak, alangkah indah tungganganmu”. Rasulullah Saw menjawab, “Alangkah indahnya para penunggangnya!”

Tak jarang Rasulullah Saw menghadapi anak-anak dengan sikap melucu. Bila mendatangi anak-anak kecil, Rasulullah Saw jongkok di hadapan mereka, memberi pengertian kepada mereka, juga mendoakan mereka. Begitu hadis riwayat Ath-Thusi menceritakan.

Sementara itu Usamah bin Zaid memberi kesaksian, (Sewaktu aku masih kecil ) Rasulullah Saw pernah mengambil aku untuk didudukkan pada pahanya, sedangkan Hasan didudukkan pada paha beliau yang satunya, kemudian kami berdua didekapnya, seraya berdoa, “Ya Allah, kasihanilah keduanya, karena aku telah mengasihi keduanya” (HR. Bukhari).

Abu Hurairah RA pernah menceritakan:

“Rasulullah saw pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan Al-Hasan bin Ali ra. Iapun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju beliau dengan riang gembira”.

Kisah Rasulullah Saw bersama anak adalah kisah tentang kasih-sayang. Beliau memendekkan shalatnya ketika mendengar tangis anak. Karena anak pula, Rasulullah Saw pernah bersujud sangat lama, begitu lamanya bersujud sampai-sampai para sahabat mengira Rasulullah Saw sedang menerima wahyu dari Allah Azza wa Jalla. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah, ada cucu Beliau yang menaiki punggungnya.

Tentang mencintai anak, Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Cintailah anak-anak dan sayangilah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka, tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui hanya kamulah yang memberi mereka rezeki” (HR. Ath-Thahawi).

Air mata Nabi Muhammad saw menetes disebabkan kematian putra beliau bernama Ibrahim. Ketika itu Abdurrahman bin Auf RA bertanya:

“Apakah Anda juga menangis wahai Rasulullah?” Rasulullah saw menjawab: “Wahai Ibnu Auf, ini adalah ungkapan kasih sayang yang diiringi dengan tetesan air mata. Sesungguhnya air mata ini menetes, hati ini bersedih, namun kami tidak mengucapkan kecuali yang diridhai Allah Taala. Sungguh, kami sangat berduka cita berpisah denganmu, wahai Ibrahim” (HR. Bukhari).

Meskipun anak-anak biasa merengek dan mengeluh serta banyak tingkah, namun Nabi Muhammad Saw tidaklah marah, memukul, membentak, dan menghardik mereka. Beliau tetap berlaku lemah lembut dan tetap bersikap tenang dalam menghadapi mereka.

Keteladanan sekarang ini menjadi barang yang mewah dan mahal didapat. Padahal Umat Islam punya sosok teladan yang wajib dianut. Hari ini, ketika mengaku sebagai ummat Muhammad, apakah yang sudah kita lakukan pada anak-anak kita? Sudahkah mengusap kepala anak-anak kita sebagaimana Rasulullah Saw melakukan? Apakah kita juga telah mengecup kening anak-anak kita yang rindu kasih-sayang bapaknya?
Ataukah kita seperti Aqra bin Habis At-Tamimi yang tak pernah mencium anaknya, sehingga Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa saja yang tidak punya rasa kasih sayang, dia tidak akan disayangi” (HR. Bukhari).

Bagaimana mungkin ingin disayangi anak-anak ketika telah tua dan renta, tetapi tidak pernah menanamkan cinta dan kasih-sayang. Bagaimana mungkin dirindukan anak-anak, tetapi tak pernah punya waktu untuk tertawa bersama mereka. Banyak yang merasa bahwa ia telah bekerja seharian dan merasa telah cukup membeli semua itu. Ia juga tidak mengetahui urusan anak di rumah kecuali istrinya. Bahkan lebih tragis, istri tak tahu sama sekali tentang anak-anaknya, sebab telah ada pembantu yang menggantikan semuanya.

Astaghfirullahal adzim. Alangkah sering kita merasa begitu sangat berjasa dalam keluarga, tetapi sudah seberapa banyak perilaku Nabi Saw kepada anak atau istri yang sanggup kita contoh?

Salam alaika, Ya Rosulullah ..

:: MUNAJAT CINTA

Ya Rabb
bila cinta itu seperti angin,jadikanlah ia angin yang menyejukkan
Yang dengan nya Engkau tiupkan belaian kasih MU
Yang dengannya Engkau izinkan hambaMU
bercengkrama dalam sejuknya Cinta MU

Bila Cinta itu seperti matahari, jangan biarkan dia membakar bumi
Jadikanlah kehangatannya memberikan kehidupan,
Sehingga kami tidak terbakar didalamnya , kehangatan yang Engkau janjikan
Pada hati-hati yang bercinta kasih karena MU ,
hangatnya Kasih Ilahi

Ya Rabb
Bila cinta itu cahaya jangan jadikan ia seperti lilin
Yang memberi cahaya pada sekitarnya
sementara dirinya sendiri hancur , meleleh dan terbakar
Tapi .... Rabb...
jadikanlah ia bagai lentera, dua lentera jiwa
Yang menerangi sekitarnya,
juga dirinya dan menerangi alam semesta

Ilahi...
Bila cinta itu indah,
jangan sampai ternoda oleh nafsu yang Engkau tidak ridhai
Jadikanlah Dia indah, semata karena ada RidhaMU mengiringi

Rabb
bila cinta itu airmata,
Lihatlah airmata yang mengalir disana,
Lihatlah kerinduan yang tak tertahankan
Jadikanlah kerinduan itu ,kerinduan yang memabukkan
karena mengharap Cinta kasih MU,
bukan yang melenakan sehingga kami kelak menyesali diri



BK

:: KISAH NYATA : SAAT KONDISI KOMA SEORANG PEMUDA MASIH MELANTUNKAN AL QUR'AN .. SUBHANALLAH

Bismillahirrahmannirrahim,


Tiada tuhan selain Allah, sungguh pada kematian itu terdapat sakaratul maut (HR.Bukhari)

Begitu dahsyat menjelang kematian, sampai Rasulullah Sallallahu álaihi wasallam sang panutan dan tauladan kita, pun merasakannya. Sebagaimana yang telah Rasulullah Sallallahu álaihi wasallam informasikan, “Sungguh, pada kematian itu ada sakaratul maut’’.

Sekelumit kisah nyata dari negeri seberang. Kisah nyata yang belum genap setahun ini, terjadi di Yordania terhadap seorang pemuda yang berusia 35 tahun itu, sebagai imam masjid di Yordania.

Pemuda tersebut dengan nama Syaikh Nidhal yang berprofesi sebagai imam masjid, mendapatkan musibah. Yang kemudian dilarikan ke rumah sakit kerajaan al Basheer di Yordania. Kondisinya yang cukup parah karena cedera, mengharuskannya untuk dibedah.

Ditengah kondisinya yang kritis (koma), keadaannya yang tak sadarkan diri itu dia terbaring di ranjang rumah sakit . Subhanallah, sesaat pemuda tersebut melantunkan ayat suci al Qur’an dari surat al Hasyr ayat 18. Sehingga orang yang disekitarnya menyangka pemuda tersebut sudah berangsur membaik, kemudian dipanggilnya “Nidhal, Alhamdulillah engkau dalam keadaan baik sekarang”.

Sesaat kemudian pemuda tersebut melanjutkan lanjutan ayat berikutnya, ayat 19-21. Terdengar dari lantunannya, seakan pemuda tersebut menghayati, merenungi, dan mentadabburi ... lantunannya tidak seperti lantunan atau gumaman orang tak sadarkan diri pada umumnya. Lantunannya seakan ia sadar dalam kondisi terjaga.

Tapi ternyata tidak. Kondisinya yang tak sadarkan diri dan dalam kondisi kritis tersebut , atas seizin Allah Ta’ala dia mampu menggerakan kedua bibirnya untuk melantunkan Al-Quran.


... Benarlah bahwa sesungguhnya amalan itu tergantung di akhir penghujung usianya ... Tercermin dan terbias dari aktifitas shalehnya dikala hidup, amalan baiknya dapat menjadi sebab baik di penguhujung usianya. Allahu Ta’ala A’lam.

SEMOGA KISAH NYATA di atas dapat menjadikan pelajaran yang bermanfaat bagi kita semua, aamiin ....

http://www.youtube.com/watch?v=Umcpn-dR5UQ

:: SYAIKH AMMAR BUGIS, PENAKLUK KEMUSTAHILAN



Syeikh Ammar yang kelahiran Amerika Serikat sejak lahir sudah dalam keadaan cacat. Tidak ada anggota tubuh yang bisa digerakkan kecuali mulut dan mata. Dokter Amerika sendiri ketika kelahiran beliau bahkan menyampaikan bahwa paling sang bayi (beliau) bisa hidup hingga usia 8 tahun saja. Namun atas Qudratullah jua lah, hingga tua seperti sekarang beliau masih hidup bahkan lebih unggul hidupnya dari kita yang tidak cacat secara fisik.

Cacat tidak menghalangi beliau untuk menuntut ilmu dan bersekolah hingga kuliah dan mencapai predikat Professor. Sejak usia 11 tahun sudah mulai menghafal Quran dan ketika menginjak 13 tahun sudah hafal Quran 30 Juz. Selain itu, ketika Universitas mampu meraih nilai tertinggi (cumlaude) pada jurusan penyiaran dan komunikasi. Beliau juga sebagai dosen di universitas yang ada di AS dan Dubai. Yang menarik juga adalah bahwa beliau telah mempunyai anak yang sekarang sudah 14 tahun usianya. Subhanallah! Sungguh mulia wanita yang mau dan ridha bersuamikan beliau.

Sungguh keadaan Syaikh Ammar yang cacat dapat menjadi pelajaran bagi kita yang sempurna secara fisik. Beliau yang cacat saja mampu berprestasi, lalu bagaimana dengan kita? Sehingga menurut beliau bahwa cacat yang sesungguhnya adalah orang yang cacat berpikir, cacat kemauan, cacat perjuangan dan sejenisnya. Dan beliau pun menyampaikan bahwa Allah subhanahu wa ta'ala akan menanya kalian (jamaah yang hadir), yang cacat saja mampu menghafal, sedang kalian yang bisa bergerak?

Bagi bangsa Indonesia, ihwal Syaikh Ammar ini pun dapat menjadi pelajaran berharga. Biasanya di negeri kita orang cacat sering ditemui sebagai pengemis. Ini bisa ditemui di kota besar. Orang buta di negeri kita sering diarahkan kepada pengamen atau menjadi penyanyi, bisa jadi artis hanya beberapa. Jarang sekali yang diarahkan pada prestasi, terlebih pada keunggulan agama, semisal menjadi ulama ataupun menjadi hafizh Al-Quran.

Diantara pesan yang disampaikan Syaikh Ammar untuk jamaah adalah agar menunaikan rukun Islam yang lima: Bersaksi tiada tuhan selain Allah subhanahu wa ta'ala dan Muhammad rasul-Nya, Sholat 5 waktu, puasa dan zakat serta naik haji ke baitullah bagi yang mampu.

Banyak musuh Allah subhanahu wa ta'ala yang menghina Rasulullah (baru-baru ini), maka pesan beliau bela lah Rasulullah dengan cara melaksanakan Sunnah Rasulullah dalam kehidupan rumah tangga, masyarakat, sekolah, kantor, pabrik dan sebagainya. Bukan dengan jalan teriak-teriak (demonstrasi) dan kekerasan. Juga gunakan lah pula teknologi dalam membela Rasulullah, melalui internet, twiter, facebook dan sejenisnya. Ceritakan keagungan pribadi Rasulullah melalui kisah-kisah dan sebagainya.

Pada kaum wanita, beliau berpesan agar senantiasa menggunakan hijab yang sesuai syariat. Karena wanita ibarat mutiara yang nilainya tinggi. Jika ia mudah dilihat dan dipegang semua orang di jalan-jalan, niscaya murahlah nilainya. Pada jamaah laki-laki beliau berpesan agar berbuat baik pada para istri, jangan pernah mencaci, memukul atau menghinakan istri. Satu yang juga beliau tekankan adalah jangan sampai jamaah pergi ke tukang sihir atau dukun. Juga agar senantiasa beryukur atas nikmat Allah subhanahu wa ta'ala yang agung (kesehatan).


Syaikh Ammar Bugis Sampaikan Ceramah di LIPIA

Bagi seorang muslim, dunia adalah tempat ujian dan ladang pahala. Cobaan yang diberikan oleh Allah kepada para hamba-Nya bermacam-macam bentuknya, salah satunya dengan ketidak sempurnaan fisik.
Sebagai seorang Muslim, cobaan tersebut hendaknya disikapi dengan hati yang sabar dan ikhlas. Sebab di balik kekurangan, Allah pasti memberikan kelebihan yang tidak dimiliki orang lain.

Adalah Syaikh Ammar Bugis, pria lumpuh berdarah Makassar yang lahir di Amerika Serikat, 22 Oktober 1986. Nama Bugis diambil dari nama kakek buyutnya yang berasal dari Sulawesi, Syeikh Abdul Muthalib Bugis. Beliau hijrah dari Sulawesi ke Mekkah dan mengajar Tafsir di Masjidil Haram.

Syaikh Ammar lumpuh total sejak usia 2 bulan, hanya mata dan mulutnya yang masih berfungsi, walau nada bicaranya agak tidak jelas. Itu semua tak mengurangi semangatnya untuk hidup dan berarti.

Luar biasa, ditengah keadaan yang serba mustahil, Ammar sudah hafal 30 juz Qur'an sejak usia 11 tahun dalam waktu 2 tahun saja. Tentunya ini adalah kelebihan yang sangat jarang dimiliki oleh anak-anak zaman sekarang.

Mengawalai nasihatnya dihadapan para dosen dan mahasiswa LIPIA Jakarta, Syaikh Ammar mengomentari sebuah pepatah yang mengatakan bahwa akal yang selamat hanyalah terdapat pada badan yang sehat, menurutnya hal ini kurang tepat.

“Selama ini kita mendengar pepatah bahwa akal yang selamat itu terdapat pada badan yang sehat, padahal semestinya adalah akal yang selamat hanyalah terdapat pada hati yang sehat,”kata Ammar mengawali nasihatnya.

Hal ini, kata Ammar, terdapat didalam hadits “Jika sepotong daging itu baik, maka baiklah seluruhnya. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.

Saat beliau menceritakan kesabaran dan ketelatenan ibunya dalam mengurus dan menjaganya sehingga ia saat ini menjadi seorang hafidz Al Quran, para mahasiswa yang hadir menangis tersedu-sedu, bahkan ada beberapa dosen yang bertakbir keras sambil menangis menjerit.

Beliaupun menyayangkan banyak kaum muslimin yang memiliki fisik sempurna tapi hatinya tidak sesempurna fisiknya.“Banyak diantara kita yang memiliki fisik sempurna, tapi hatinya tidak sesuai dengan fisiknya, “katanya.

Beliaupun menyarankan kepada para Mahasiswa agar giat menghafal Al Quran dan jangan mudah putus asa. “Hafalkan Al Quran, lakukan dengan ayat-ayat yang pendek terlebih dahulu, sayapun dulu melakukannya demikian, sampai waktu itu saya bisa menghafal satu juz dalam sehari,” ujarnya.

Setelah kurang lebih satu jam, ceramah di tutup, tiba-tiba seorang dosen dan pakar Ushul Fiqih asal mesir, DR. Azazi menemuinya dan mencium keningnya.

Ahmad Aris, seorang mahasiswa Fakultas Syari’ah yang mendengarkan ceramah beliau, menangis terharu dan merasa termotivasi oleh nasihat Syaikh Ammar.
“Alhamdulillah, ini motivasi yang sangat luar biasa, saya merasa malu terhadap beliau, kondisi saya yang sempurna fisik ini masih belum bisa apa-apa,”

Subhanallah, alhamdulillah , Allahu Akbar ..