MOTIVASI UNTUK DAPAT ISTIQOMAH DENGAN AL QURAN ( 2 )

Mendambakan Al-Qur’an Sebagai Kenikmatan Seperti Kita Mendambakan Harta
Taujih oleh : Ust. Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc, Al-Hafidz

“Tidak boleh iri kecuali dalam dua kenikmatan: seseorang yang diberi Al-Qur’an oleh Allah kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, dan orang yang diberi harta oleh Allah lalu ia membelanjakannya di jalan Allah sepanjang malam dan siang.” (Muttafaqun ‘alaih)

Melihat orang yang hartanya berlimpah tentu membuat kitapun mendambakannya. Hal itu lumrah dan fitrah sekaligus fitnah bagi manusia. Tetapi percayalah bahwa keimanan yang baik tidak saja menjadikan manusia memimpikan kepemilikan dunia tetapi juga memimpikan dan menginginkan akhirat. Dengan iman, ketika melihat orang lain yang memiliki kelebihan dalam urusan akhiratnya - misalnya sangat baik interaksinya dengan Al-Qur’an, hafalannya banyak, rajin beribadah, serta banyak kontribusinya dalam dakwah - maka kita pun sangat mendambakannya.


Itulah ghibthah, menginginkan kenikmatan orang lain tanpa membenci dan mengharapkan hilangnya nikmat dari orang tersebut.


Berikut ini beberapa perasaan yang harus menjadi pertanyaan dan perhatian kita:

1. Adakah perasaan iri (ghibthah) dalam diri kita ketika melihat saudara kita memiliki kemampuan berinteraksi dengan Al-Qur’an yang lebih baik? Ataukah hanya iri dan menginginkan sesuatu yang terkait dengan harta yang dimiliki saudara kita, tapi untuk Al-Qur’an hati kita adem ayem saja?

Jika demikian adanya, itulah bukti lemahnya syu’ur Qur’ani (perasaan ingin membangkitkan diri dengan Al-Qur’an). Para salafush shalih selalu berkompetisi dalam hal interaksi dengan Al-Qur’an dan hal ukhrawi. Telah menjadi tabiat manusia untuk berkompetisi, dan jika tidak diarahkan maka kompetisi tersebut akan cenderung ke hal-hal duniawi seperti harta, jabatan dan lawan jenis.

2. Rasulullah Saw menjanjikan bahwa setiap orang beriman yang bersahabat akrab dengan Al-Qur’an dijamin akan mendapat syafa’at dari Al-Qur’an: “Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat menjadi pemberi syafa’at bagi orang-orang yang bersahabat dengannya.” (HR. Muslim).

Tanyakan pada diri kita masing-masing, sudahkan kita menjadi sahabat akrab Al-Qur’an? Benarkah di akhirat nanti kita berharap akan mendapat syafa’at dari Al-Qur’an? Alangkah sengsaranya kita bila di akhirat tanpa syafa’at, karena “…Tidak ada yang dapat memberi syafa’at kecuali atas seizin Allah…” (QS Al-Baqarah [2]:255)

3. Kualitas iman kita diukur dengan sejauh mana kualitas dan kuantitas interaksi kita dengan Al-Qur’an. Apakah kita masa bodoh dan tidak merasa sedih jika dalam sebulan tidak khatam Al-Qur’an? Adakah perasaan sedih jika kita tidak punya hafalan ayat-ayat Al-Qur’an? Sedihkah kita karena awam dengan kandungan dan makna Al-Qur’an? Jika belum, dikhawatirkan bahwa kitalah yang disebut Rasulullah yang menjadikan Al-Qur’an sebagai mahjuran.

“Berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an itu sesuatu yang diabaikan.’ “ (QS Al-Furqan [25]:30)

4. Pernahkah kita menghitung tentang berapa banyak informasi tentang hal-hal yang bersifat duniawi yang ada di kepala kita dibandingkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan Al-Qur’an? Jika tentang Al-Qur’an lebih banyak maka bersyukurlah, jika tidak maka bertaubatlah kepada Allah Swt dan segera upayakan untuk kembali kepada Al-Qur’an agar tidak dikecam Allah Swt:

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang tentang (kehidupan) akhirat mereka lalai.”

5. Sabda Rasulullah Saw: “Barangsiapa yang belajar Al-Qur’an dan mengamalkannya akan diberikan kepada orang tuanya pada hari kiamat mahkota yang cahanya lebih indah daripada cahaya matahari. Kedua orang tua itu akan berkata, ‘Mengapa kami diberi ini?’ Maka dijawab, ‘Karena anakmu yang telah mempelajari Al-Qur’an’ “ (HR Abu Dawud, Ahmad dan Hakim)


Tidakkah hadits tersebut menggugah kita sebagai orang tua untuk memberi perhatian yang lebih pada anak dalam hal pendidikan Al-Qur’annya? Bagaimana mungkin seorang anak dapat mencintai Allah Swt kalau tidak dapat menikmati shalat dengan baik? Bagaimana mungkin dapat shalat dengan baik kalau kemampuannya dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, khususnya hafalan, lemah dan terbatas? Jangan sampai kita hanya kecewa bila anak tak mampu berbahasa Inggris atau menggunakan komputer tetapi santai saja dengan keterbatasannya dengan Al-Qur’an.

Isi Al-Qur’an sesungguhnya menjelaskan bagaimana semua urusan dunia itu bisa mengantarkan manusia kepada suksesnya urusan akhirat. Kita, memang tidak ingin menjadi orang yang dekat dengan Al-Qur’an hanya secara huruf-hurufnya saja tetapi jauh dari dari ruh Al-Qur’an itu sendiri, Insya Allah

MOTIVASI UNTUK DAPAT ISTIQOMAH DENGAN AL QURAN ( 1 )

Merayu Diri Agar Mencintai Al-Qur’an

Taujih oleh : Ust. Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc, Al-Hafidz...


“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku” (QS Al-Fajr [89]:27-30)

Ungkapan lembut tersebut adalah rayuan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang juga disertai ajakan yang provokatif. Bagaimana mungkin kita tidak tergiur dengan rayuan semacam itu?

Kita bisa bekerja dengan keras saat jiwa kita sedang asyik dengan Al-Qur’an. Tetapi di saat yang lain, kita mungkin mengalami kondisi keengganan yang besar, jangankan disuruh menghafal, sekedar melihat mushaf pun sangat tidak siap. Untuk kondisi seperti itu, kita perlu merayu diri sendiri, merenungi kehidupan diri kita sendiri sambil mencari bahasa apa yang dapat membangkitkan energi kita untuk kembali bekerja: meraih cita-cita hidup bersama Al-Qur’an.


Berbagai permasalahan umum pada diri kita saat berinteraksi dengan Al-Qur’an antara lain:

1. Kita sadar sepenuhnya bahwa tilawah setiap hari adalah keharusan, tetapi jiwa kita belum siap untuk komitmen secara rutin sehingga dalam sebulan, begitu banyak hari-hari yang terlewatkan tanpa tilawah Al-Qur’an.

2. Kita paham bahwa menghafal Al-Qur’an adalah kemuliaan yang besar manfaatnya, tetapi jiwa kita belum siap untuk meraihnya dengan mujahadah.

3. Kita sadar bahwa masih banyak ayat yang belum kita pahami, namun jiwa kita tidak siap untuk melakukan berbagai langkah standar minimal untuk dapat memahami isi Al-Qur’an.

4. Kita sadar bahwa mengajarkan Al-Qur’an sangat besar fadhillahnya, tetapi karena minimnya apresiasi dan penghargaan ummat terhadap para pengajar Al-Qur’an maka sangat sedikit yang siap menjadi pengajar Al-Qur’an.

5. Kita paham bahwa shalat yang baik - khususnya shalat malam - adalah shalat yang panjang dan sebenarnya kita mampu membaca sekian banyak ayat, namun jiwa kita kadang tidak tertarik terhadap besarnya fadhillah membaca Al-Qur’an di dalam shalat.

6. Kita sadar bahwa dakwah dijamin oleh nash Al-Qur’an dan Allah Swt akan memberikan kemenangan, namun jiwa kita tidak sabar dengan prosesnya yang panjang sehingga cenderung meninggalkan atau lari dari medan dakwah.

7. Kita paham betul bahwa banyak keutamaan di dunia dan akhirat bagi manusia yang berinteraksi dengan Al-Qur’an, tetapi fadhillah tersebut hanya menjadi pengetahuan, tidak mampu menghasilkan energi yang besar untuk beristiqamah dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.

8. Kita paham dengan sangat jelas bahwa semua tokoh Islam di atas bumi ini adalah orang-orang yang telah berhasil dengan ilmu Al-Qur’an dan merekapun menguasai kehidupan dunia, namun jiwa kita enggan mempersiapkan generasi mendatang yang hidupnya berada di bawah naungan Al-Qur’an.



Jangan pernah berhenti untuk merayu diri agar segera bangkit. Tanyakanlah pada diri kita:

1. Wahai diri, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Mengaku cinta kepada Allah Swt tetapi tidak merasa senang berinteraksi dengan Kalam-Nya. Bukankah ketika manusia cinta dengan manusia lain, ia menjadi senang membaca suratnya bahkan berulang-ulang? Mengapa kamu begitu berat dan enggap untuk hidup dengan wahyu Allah Swt? Adakah jaminan bahwa kamu mendapat pahala gratis tanpa beramal shalih? Dengan apa lagi kamu mampu meraih pahala Allah Swt? Infak cuma sedikit, jihad belum siap, kalau tidak dengan Al-Qur’an, dengan apa lagi?

2. Wahai jiwaku, siapa yang menjamin keamanan dirimu saat gentingnya suasana akhirat? Padahal Rasulullah Saw menjamin bahwa Allah Swt akan memberikan keamanan bagi manusia yang rajin berinteraksi dengan Al-Qur’an, mulai dari sakaratul maut hingga saat melewati shirat.

3. Wahai jiwaku, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Dengan nikmat-Nya yang demikian banyak, yang diminta maupun tidak, tidakkah kamu bersyukur kepada-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an?

4. Wahai jiwaku, sadarkah kamu ketika Allah Swt dan Rasulnya mengajak dirimu memperbanyak hidup bersama Al-Qur’an? Untuk siapakah manfaat amal tersebut? Apakah kamu mengira bahwa dengan banyak membaca Al-Qur’an maka kemuliaan Allah dan Rasul-Nya menjadi bertambah? Dan sebaliknya, jika kamu tidak membaca Al-Qur’an, kemuliaan itu berkurang? Sekali-kali tidak. Semua yang kita baca dan lakukan, kitalah yang paling banyak mendapatkan manfaatnya.

5. Wahai jiwa, tidakkah kamu merasa khawatir dengan dirimu sendiri? Selama ini hidup tanpa al-Qur’an, jatah usia makin sedikit, tabungan amal shalih masih sedikit, jaminan masuk surga tak ada di tangan. Sampai saat ini belum mampu tilawah rutin satu juz per hari, jangan-jangan Al-Qur’anlah yang tidak mau bersama dirimu karena begitu kotornya dirimu sehingga Al-Qur’an selalu menjauh dari dirimu.

6. Wahai jiwa, tidakkah engkau tergiur untuk mengikuti kehidupan Rasulullah Saw dan para sahabat serta tabiin yang menjadi kenangan sejarah sepanjang zaman dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an? Jika hari ini kamu masih enggan berinteraksi dengan Al-Qur’an apa yang akan dikenang oleh generasi yang akan datang tentang dirimu?
Ungkapan di atas adalah perenungan terhadap diri sendiri dalam urusan dunia dan akhirat, hal yang dianjurkan oleh Allah Swt agar hidup kita tidak berlalu begitu saja tanpa makna.


“….Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-nya kepadamu supaya kamu berpikir. Tentang dunia dan akhirat…” (QS Al-Baqarah [2]: 219-220)



Taujih oleh : Ust. Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc, Al-Hafidz

RAHASIA DIBALIK RAHASIA

Berapa lamakah kita shalat dalam sehari semalam? Jika setiap rakaat kita perkirakan dua menit, maka dalam sehari-semalam jumlahnya ada 34 menit. Artinya, dalam sehari hanya kita isi sebanyak 2,4 persen dari 1440 menit. Dalam satu minggu, berarti ada 238 menit atau 3,96 jam. Dalam satu bulan, lama shalat kita sebanyak 952 menit atau 15,86 jam. Dan setahun, ada 11.424 menit atau 190,4 jam, yang berarti setara dengan 7,93 hari.


Jika rata-rata usia hidup manusia selama 60 tahun, dan dikurangi dengan 10 tahun masa awal akil baligh (dewasa), maka hanya 50 tahun seseorang melaksanakan shalat dalam hidupnya. Itu berarti, sepanjang hidupnya ia melaksanakan shalat fardlu selama 571.200 menit atau sekitar 9.520 jam, atau 396,7 hari (1,1 tahun).


Bisa dibayangkan, selama hidup, kita hanya butuh waktu untuk shalat fardhu selama 1,1 tahun, atau dalam satu tahun hanya 7,93 hari, atau dalam satu hari hanya 34 menit. Dari sini terlihat betapa jauhnya perbandingan ketaatan kita kepada Allah SWT dengan nikmat yang diberikan-Nya kepada kita dengan nikmat usia.

Maka, sangat disayangkan apabila ada orang yang tidak melaksanakan shalat karena alasan tidak ada waktu atau sibuk. Padahal, jika kita jujur terhadap diri sendiri, kita mampu berlama-lama bertelepon, nongkrong di depan komputer, jalan-jalan, nonton TV, dan lain sebagainya.

Ingatlah, Abu Zubair menceritakan bahwa dia mendengar Jabir bin Abdullah berkata, ''Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran itu terdapat perbuatan meninggalkan shalat'." (HR Muslim).

Oleh karena itu, jangan pernah merasa puas dan berbangga diri dengan ibadah yang telah kita laksanakan. Sebab, bisa jadi ibadah kita, terutama shalat, tidak akan berarti apa-apa bila hal itu kita kerjakan dengan tidak ikhlas. Apalagi berharap surga. Allah menyindir orang yang demikian dengan pendusta agama. (QS Al-Maun [107]: 1-7).

Jadi, jangan hanya mengandalkan masuk surga dengan selembar tiket shalat fardhu. Silakan menjaring rahmat Allah dengan banyak beramal saleh. Berinfak, zakat, puasa, haji, akur dengan tetangga, menyambung silaturahim, mengurus keluarga, belajar, menyantuni anak yatim, tidak membuang sampah sembarangan, bahkan hanya tersenyum kepada teman pun termasuk amal shaleh. Wallahu a'lam

107. Al Maa'uun
[107:1] Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
[107:2] Itulah orang yang menghardik anak yatim,
[107:3] dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
[107:4] Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
[107:5] (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
[107:6] orang-orang yang berbuat riya {1604},
[107:7] dan enggan (menolong dengan) barang berguna {1605}.



Ust Azis Setiawan

KU INGIN SELALU MERINDU...


Dalam sepertiga malam ini kuterbangun

Hening menyergap jiwa dalam kesyahduan

Tetesan rindu membasahi qalbu menuju telaga kasih-sayang-Mu

Desah nafas cinta-Mu menghangatkan

Dengan pelukan kedamaian tiada tara

Kupanjatkan do’a: Alhamdulillahilladzi ahyana ba’da amatana wailaihinnsyur …

Segera kubasuhkan air wudlu

Sejuk menyucikan diri yang seperti debu, namun selalu ingin merindu-Mu

Kuhela nafas dan rasa cinta dalam tenggelamnya sujud

Kutulis di setiap relung qalbu kata dan kalimat rinduku

Kudamba belas kasih sayang-Mu dalam keagungan cinta-Mu

Peluklah hamba-Mu yang seringan debu ini dalam ampunan-Mu

Tiada ketentraman ... selain yang kualami dimalam-malam-Mu yang syahdu ini

Jadikanlah getaran hatiku dikala kulantunkan firman-Mu sebagai tanda Imanku

Golongkanlah aku ke dalam hamba-hamba-Mu yang tahu diri di depan-Mu




Salah satu ciri seorang yang beriman adalah ketika disebut nama Allah maka bergetarlah hatinya. Bergetar karena takut akan azab-Nya, Bergetar karena mengharap Ridho-Nya, Dan bergetar karena rindu ingin berjumpa dengan-Nya. Seseorang apabila nama yang dikasihi disebut didepannya, dan ia tak merasakan getaran maka dipertanyakan kecintaan dan kerinduannya, maka Allah menggambarkan dalam firman-Nya tuk hamba-hamba-Nya yang merindui-Nya:


"… dan apabila disebut nama Allah maka bergetarlah hatinya." (QS. Al-Anfal : 2).



Bayangkan…hanya dengan disebut nama-Nya maka bergetar hatinya… Bagaimana dengan hati ini? Cintakah kita dengan-Nya? Rindukah kita dengan-Nya?


Dalam Hadits Qudsi Allah berfirman :

"Sesungguhnya Aku sesuai dengan prasangka hamba-KU."Bila hati ini rindu kepada-Nya, maka Ia kan rindu,

Bila hati ini ingin berjumpa dengan-Nya, maka Ia kan mengharapkan berjumpa, Subhanallah, bahagia orang yang merasakan getaran ketika nama Allah disebut.



Jangan katakan kita cinta Rasul, kalau hati tidak bergetar ketika mendengar nama Rasul. Jangan katakan kita merindukan Rasul kalau hati tak bergejolak ketika nama Rasul disebut.


Begitu juga ketika seseorang merindui seseorang yang dikasihi, ingin hati berjumpa, mendengar dan bicara dengannya.Walaupun satu kata yang terlontar dari orang yang dirindui, Itu kan mengobati rasa rindu.


Subhanallah, Maha Suci Allah yang menciptakan rasa rindu, Setiap orang mempunyai rasa rindu, seorang lelaki rindu seorang istri sholehah, seorang wanita rindu seorang suami sholeh, seorang yang beriman rindu akan kebenaran, seorang yang bertakwa rindu berjumpa dengan Allah.


Ya Rabb, syukur aku telah kau anugerahkan dengan rindu.
Ya Rabb, jawablah rindu ini.
Ya Rabb, kumpulkan aku bersama orang yang merindui-Mu…Aamin.



SAAT KATA-KATA TAK LAGI MEMILIKI RUH



 ___________________________________

hati yang cemerlang menghantarkan kata-kata masuk dalam hati pendengarnya.
Jika kata-kata menemukan kekuatannya pada Sayyid Qutb, Hasan Al-Banna, dan banyak mujahid dakwah lainnya, mengapa pula banyak da’i yang kata-katanya tidak lagi memiliki ruh? Entah kata-kata secara lisan, atau berbentuk tulisan.

Kata-kata yang tak lagi memiliki ruh ini akan terlihat pada atsar-nya. Mulai dari ceramah dai yang hambar dan kosong makna.


Tulisan aktifis dakwah yang tidak berkesan dan terasa hampa. Sampai kata-kata murabbi (pendidik) yang tidak berpengaruh dan berbekas pada para mutarabbinya.

1. Hal pertama yang dapat dipahami adalah kata-kata takkan memiliki ruh jika keluar dari orang yang tidak meyakininya. Seperti orang yang memotivasi orang lain agar optimis menatap masa depan, namun sebenarnya ia sendiri ragu menghadapi hari-hari mendatang.

2. Kedua, ketika kata-kata yang dikeluarkan lisannya terlebih dulu telah dikhianati hati dan amalnya. Seperti orang yang mengajak qiyamullail dan menjanjikan kemenangan dakwah dengannya, sementara ia sendiri telah memutuskan “sami’na wa’ashaina”: aku mendengar ajakan ini, tetapi aku takkan melakukannya. Sebelum kata-kata itu sampai di telinga mad’u-nya (orang yang didakwahnya) , ruh-nya telah dicabut oleh sikap da’inya. Jadilah ia tidak lebih dari rangkaian huruf tanpa makna. Dua hal ini pembunuh utama ruh kata-kata, sebab ruh itu sesungguhnya dari Allah dan takkan mungkin dianugerahkan kepada orang yang dimurkai-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan. Sungguh besar kemurkaan di sisi Allah jika kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.” (QS. Ash-Shaf : 2-3)


3. Ketiga, kurang dekatnya hubungan dengan Allah SWT. Padahal kedekatan kepada Allah, terutama pada waktu malam dengan qiyamullail dan tilawah adalah standard kelayakan kata-kata memiliki ruh; menjadi berbobot (berat) atau qaulan tsaqiilaa (QS. Al-Muzammil : 5)

4. Keempat, menurunnya keimanan dan ketaqwaan. Padahal keduanya berbanding lurus dengan ruh kata-kata; menjadikan nasehat dan taujih (pesan) benar dan tepat sasaran atau qaulan sadiida (QS. Al-Ahzab : 70 - " Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar," ) 5. Kelima, kotornya hati akibat kemaksiatan dan dosa. Sebaliknya, tazkiyatun nafs dan taubat nasuha menjadikan hati cemerlang (qalbun mushoqqolun). Seperti cermin ketika bersih dari debu bisa memantulkan cahaya, hati yang cemerlang menghantarkan kata-kata masuk dalam hati pendengarnya. “Jika bertaubat dan beristighfar, maka cemerlanglah dan cemerlanglah hatinya.” (HR. Ibnu Majah)


http://muchlisin.blogspot.com/2010/04/saat-kata-kata-tak-lagi-memiliki-ruh.html

AGAR WAKTU TAK TERBUANG SIA-SIA

Waktu dua puluh empat jam sehari, terasa kurang karena banyaknya pekerjaan. Akibatnya tak jarang kita mengkambing hitamkan waktu. Padahal menyalahkan waktu termasuk sikap mencela masa (sabbud dahr) yang di benci Allah.


Rasulullah SAW pun pernah berpesan:

”Janganlah kalian menyalahkan waktu.”





Persoalan waktu sebenarnya bukan terletak pada jumlah yang tersedia, melainkan kualitasnya. Kualitas ini dapat di hasilkan lewat manajemen waktu yang menghasilkan disiplin dalam pemanfaatan waktu. Bukankah setiap waktu-waktu yang kita lewati dalam kehidupan ini akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah kelak? Bila kesadaran ini muncul, maka berbagai alasan dan keluhan yang mencerminkan sikap lari dari tanggung jawab tidak akan ada, atau minimal berkurang.



Berbagai alasan mengenai waktu habis tersita untuk bekerja, karir, kegiatan sosial, ekonomi, hingga tidak sempat mengurus serta memperhatikan anak, istri atau suami. Tidak sempat (mujahadah) yaumiyah, usbuiyah, syahriyah dan seterusnya, bahkan tidak sempat (maaf) shalat (naudzubillah), merupakan bukti kurang baiknya manajemen waktu.



Pengelolaan waktu yang baik haruslah dimulai dengan mengendalikan langkah harian. Manajemen waktu harian ini bisa berbentuk rencana harian. Setiap pagi saat bangun dari tidur, rencana harian kita sudah harus memenuhi kilasan waktu 24 jam.

Rasulullah SAW bersabda:

”Wahai anak Adam! Aku adalah hari yang baru dan aku datang untuk menyaksikan semua amal kamu, oleh sebab itu manfaatkanlah aku sebaik-baiknya karena aku tidak kembali lagi hingga Hari Pengadilan.”





Ada beberapa hal yang daoat kita jadikan panduan dalam manajemen waktu, yaitu: biasakan membuat skala prioritas, selalu berusaha lebih keras, jangan menunda-nunda pekerjaan, jangan memikirkan pekerjaan yang menumpuk, tetapi mulailah mengerjakanya satu persatu, dan jangan bilang ‘SAYA TIDAK PUNYA WAKTU’ untuk suatu hal yang baik.



Islam mengajarkan beberapa petunjuk dalam manajemen waktu agar seseorang tidak merugi:

* Pertama, selalu menggunakan waktu secara positif. Bila sikap mubadzir terhadap harta sangat tercela, maka, adakah harta yang lebih berharga dari kehidupan atau waktu?
”Beruntunglah orang-orang mukmin, yaitu mereka yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan sia-sia.” (QS. Al Mu’minun: 3)



* Kedua, menyadari hakekat dan nilai waktu agar tidak mudah menyia-nyiakanya dan selalu produktif mengisi kekosongan waktu (QS. Al Insyirah: 7-8). Nabi SAW juga bersabda:
”Jagalah lima perkara sebelum datang lima perkara:

1. Masa hidupmu sebelum datang kematianmu.

2. Masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu.

3. Waktu luangmu sebelum masa sempitmu.

4. Masa mudamu senbelum datang masa tuamu.

5. Masa kayamu sebelum datang masa miskinmu.” (HR. Hakim dan Baihaqi dalam bab Iman, dan Ahmad dalam bab Zuhud dari Ibnu Abbas RA.)



Begitupun hadits yang mengatakan:

”Barangsiapa yang hari ini seperti hari kemarin, ia adalah orang yang merugi dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin ia adalah orang yang tercela.”





* Ketiga, berlomba-lomba dalam meningkatkan efektivitas dan optimalisasi waktu. Rasa cinta, takut dan harapan kepada Allah membantu kita untuk memperbanyak amal. Nabi SAW sendiri setiap pagi dan sore selalu memanjatkan doa:
”Yaa Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kepedihan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan.”



Sikap malas adalah cirri khas orang munafik terutama dalam mengerjakan shalat (QS. An Nisa: 142, At Taubah: 54). Sementara semangat berkompetisi dengan waktu merupakan cirri orang yang beruntung di dunia dan bahagia di akhirat: (Al Maidah: 48, Al Imran: 133, Al Hadid: 21, Al Muthaffifin: 26, Al Anbiya’: 90, Ali Imran: 114)



* Keempat, belajar dari pengalaman masa lalu sambil menata masa depan. Untuk itu, perlu ditumbuhkan kemauan keras dan cita-cita luhur. Firman Allah SWT:
”Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al Hasyr: 18)



* Kelima, mengelola waktu secara baik; dengan memperhatikan ketepatan penggunaan waktu sesuai situasi dan kondisi secara proposional. Nabi SAW bersabda:
”Orang yang pintar selalu memiliki empat porsi waktu:

pertama, waktu untuk bermunajat kepada Rabbnya (perawatan rohani),

kedua, waktu untuk mengintropeksi dan evaluasi diri (pengembangan diri),

ketiga, waktu untuk memikirkan ciptaan Allah (pengembangan daya fikir dan sosialisasi lingkungan), dan yang

keempat, waktu untuk merawat jasmani.





Kesadaran pengendalian waktu sangat penting mengingat waktu sangat cepat berlalu (QS. An Nazi’at: 46, Yunus: 45, As Sajadah: 12) dan tidak dapat kembali lagi. Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam Kitab Shoidul Khoir hal. 20 berkata:

”Tatkala seorang menyadari betapa berharga dan pentingnya waktu, maka ia tidak akan menyia-nyiakan sesaatpun tanpa aktivitas yang aham dan anfa, tetap energik dan bersemangat melakukan kebaikan tanpa kenal lelah demi efesiensi waktu.”



Maka bagi kita, kapan saja dimana saja, jangan pernah mengabaikan waktu luang. Manfaatkanlah sebaik mungkin. Bila seluruh hidup ini kesempatan, maka sepanjang itu pula kita harus pandai-pandai memanfaatkan. Karena suatu kesempatan, belum tentu akan terulang lagi dalam waktu dekat, dalam situasi dan kondisi yang lebih baik, atau bahkan mungkin tidak aka nada kesempatan lagi. Hentikan kebiasaan menunda, hari ini juga. Segeralah membuat komitmen untuk mulai melaksanakan tugas dan pekerjaan yang telah dan sedang di tunda.



Hanya orang berakal dan mau berfikir, merenung dan menghayati, yang bisa merasakan, bahwa waktu-waktu dalam hidup ini harus memberi kesempatan untuk lahirnya sosok muslim yang berkualitas. Setiap kali kita melewati sepotong waktu, serentang masa, kita harus mengerti, bahwa itu adalah kesempatan yang sangat berharga. Itu adalah momentum yang bisa mengantarkan kita ke hamparan bahagia, atau himpitan sengsara. Semua terserah bagaimana kita menjalaninya. Setiap kali waktu datang, ia meminta haknya, saat itu juga. Sebab waktu tak bisa diputar ulang. Allahu a’lam



Ali Mukhtar Ghazali

HATI YANG IKHLAS



Bismillahirrahmannirahim,

Sahabat yang dicintai Allah,



Dalam hidup, ada kalanya syaitan menggangu hati dengan adanya rasa ingin dipuji atau dihargai atas segala perbuatan yang kita lakukan.


Sejatinya apa yang kita perbuat .., yang kita katakan .., adalah atas KEHENDAK ALLAH semata. Jadi, bagaimana kita bisa mengklaim bahwa semua perbuatan itu berasal dari kita.
Kita harus yakin bahwa ALLAH penyebab dari segala sesuatu ..




Sahabat ,
Bila rasa itu kita alami. Hendaknya bersegera mengevaluasi diri akan arti KEIKHLASAN. Makna dari " KEIKHLASAN" harus dipahami dan diamalkan. Karena pasti rugi bila kita terjerat oleh rasa " bahwa apa yang kita lakukan, berasal dari kita, dan karenanya layak mendapatkan balasan. Yakni pujian ataupun penghargaan dari orang lain.




Kita hanyalah jalan dari setiap tindakan yang dilakukan. Saat kita bersedekah kepada orang lain, hakikatnya bukan kita yang memberi orang tersebut. Tetapi ALLAH yang berada dibalik semua perbuatan , yang syariatnya melalui uluran tangan kita sedekah bisa sampai kepada yang berhak.




Begitu juga saat berbicara akan suatu ilmu, ALLAH yang membuka PEMAHAMAN kita. Amat keliru bila kita berangggapan bahwa pengajar atau guru yang menjadi sebab orang mengerti. Sebab harus dipahami, setiap perbuatan baik yang kita lakukan pada orang lain, hanya jalan dari ALLAH.
ALLAH pulalah yang memberi karunia pemahaman, hidayah dan kemampuan atas ilmu tersebut. Jadi jelaslah , kita bukanlah sumber dari setiap perbuatan. Akan tetapi , ALLAH yang menjadi sumbernya.




Jadi, buanglah jauh-jauh rasa ingin dilihat, dipuji atau dihargai, saat kita beramal. Saat kita melakukan amal perbuatan, segera lupakan. Janganlah ada keinginan mendapat balasan dari makhluk, bahkan menunggu ucapan terima kasih sekalipun ..


Kembalikan segala pujian kepada Allah, Yang Berhak atas segala Pujian ...Karena bila kita tidak berhati-hati, akan mengotori keikhlasan hati kita ..




Dengan senantiasa menjaga hati agar selalu meyerahkan semuanya pada ALLAH, Senantiasa sadar bahwa yang kita lakukan hanyalah mengharap RIDHA ALLAH, Insya Allah , akan kita rasakan lezatnya iman, sebagai buah dari keikhlasan yang kita tegakkan.


Semoga Allah membimbing dan memampukan selalu ...


Aamiin ya Robbal alamin.