HATI YANG KERAS PUNCA HILANGNYA خُشُوْعُ (KHUSYU’)

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, agar tunduk hati mereka untuk mengingat Allah dan tunduk pada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya yang telah diturunkan Al Kitab kepadanya, setelah berlalu masa yang panjang lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.“(al Hadid :16)

خُشُوْعُ berarti tenang, tunduk, merendahkan hati, lunak dan rasa takut. Fiil madhinya khasya’a dan mudhari’nya yakhsya’u.

خُشُوْعُ adalah sifat dan suasana hati dimana ia memiliki pengaruh yang kuat terhadap gerak gerik seluruh anggota badannya, karena itu خُشُوْعُ -nya hati akan nampak pada perilaku dan ucapan lisan. Al Hakim meriwayatkan hadith dari Abu Hurairah dari Nabi وسلم علي ﷲ صلى, beliau bersabda: “andaikata hati ini خُشُوْعُ, maka akan خُشُوْعُ -lah seluruh anggota tubuhnya.” (Jami’s Shaghir 130)

Hati menjadi tempat dimana Allah memandang dan menilai seseorang, karena bukan pakaian, bentuk tubuh, atau warna kulit yang dipandangNya, tetapi Allah memandang suasana hatinya, apakah خُشُوْعُ atau tidak. Walaupun seorang muslim secara syariat sudah melaksanakan solat tapi bila tidak terdukung dengan خُشُوْعُ nya hati, akan mengurangi nilai ibadahnya.

Imam Muslim dan Ibnu Majah meriwayatkan hadith dari Abu Hurairah dengan sanad sahih bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak melihat bentuk tubuhmu dan harta bendamu tetapi sungguh Dia melihat pada hati dan amal perbuatan kalian.” (Jami’us Shaghir 74)

خُشُوْعُ berada di kedalaman hati, dan hati berada dalam dada, karena ia berada jauh di tempat yang dalam dan tak terlihat, sering kali manusia kurang peduli terhadap suasana hatinya, apakah خُشُوْعُ atau tidak, kebanyakan mengamalkan secara lahiriyyah tetapi tidak melibatkan suasana hati yang خُشُوْعُ, padahal nilai dari apa yang terlahir itu bergantung kepada apa yang ada dalam hatinya, walaupun antara lahir dan batin itu juga harus sinkron (Eng: synchronise, BM: selari).

خُشُوْعُ memiliki sifat bertambah atau berkurang, bertambahnya kekhusyu’kan disebabkan oleh amal soleh yang selalu dijaga dan berpaling dari segala bentuk kemaksiyatan. Sebaliknya bila mencampur aduk antara ketaatan dan kemungkaran akan mengurangi bahkan menghilangkan kekhusyu’kan.

خُشُوْعُ mengandung rasa takut kepada Allah سبحانا وتعاﱃ, yang mendorong seorang mukmin untuk serius (mujahadah) mengendalikan hawa nafsunya, rasa takut kepada Allah juga menjadi modal untuk menjauhi perbuatan dosa yang menjadi sumber murka Allah. Bila rasa takut kepada Allah telah benar maka akan hilanglah ketakutan pada mahluk lainnya. Bila rasa takut dari kebanyakan manusia ini kita bandingkan dengan rasa takut kepada Allah yang dimiliki alam semesta tentu sangat berbeda.

Gunung yang gagah menjulang tinggi kelangit memiliki rasa takut yang hebat kepada Allah سبحانا وتعاﱃ sedangkan kebanyakan manusia takut miskin, takut kehilangan jabatan, takut merugi tetapi tidak takut pada murka Allah. Bagaimana takutnya gunung kepada Allah digambarkan dalam ayat berikut:

“Kalau sekiranya kami turunkan Al-Quran Ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah.” (al Hasyr: 21)

Pada akhir zaman ini menjaga خُشُوْعُ bagi kebanyakan orang muslim termasuk urusan yang sulit, karena banyaknya fitnah akhir zaman yang dihadapi hingga mempengaruhi pemikiran dan emosi yang terbawa pada palaksanaan ritual ibadah. Kerana itu bersabda:



Abu Darda’ meriwayatkan Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,

أَوَّلُ شَيْئٍ يُرْفَعُ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ الْخُشُوْعُ حَتَّى لاَ تَرَى فِيْهَا خَاشِعًا

“Hal pertama yang diangkat dari ummat ini adalah khusyu’sampai-sampai kamu tidak menemukan seorang pun yang khusyu’.” (Thabrani dengan sanad baik dan dinilai shahih oleh Albani).

Pengertian خُشُوْعُ yang terkandung dalam surat Al Hadid ayat 16 tersebut juga berarti lunak atau lembutnya hati, artinya hati yang خُشُوْعُ adalah hati yang lembut/lunak, sebaliknya hati yang tidak خُشُوْعُ adalah hati yang keras membatu yang mengarah pada bentuk fasik, yang merusak iman seorang mukmin.

Hati yang خُشُوْعُ dapat dicapai dengan beberapa amalan pendukung seperti memperbanyak solat berjamaah di masjid, mengamalkan solat lail (solat sepertiga akhir malam), berpuasa sunat memperbanyak dzikir kepada Allah Ta’ala hal ini ditegaskan Allah dengan firmanNya :

“… gemetar kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, Kemudian menjadi lunak kulit dan hati mereka lantaran Dzikrullah” (az Zumar: 23)

Ketika Abu Dzar ditanya Nabi صلى الله عليه وسلم tentang apa yang disukainya dari kehidupan dunia ini Abu Dzar menjawab: saya suka lapar (artinya ia suka puasa sunat) karena dengan lapar itu hatiku akan menjadi lembut. Salah satu dari kekhusyu’kan adalah lunak atau lembutnya hati.

Dengan hati yang lembut ini dapat kita rasakan betapa banyaknya kesalahan dan dosa yang dilakukan, kemudian mengalirlah air mata penyesalan.

Tetesan air mata bukan tangisan karena tidak mampu membayar hutang, atau karena urusan duniawi,tetapi tangisan karena ingat kepada Allah سبحانا وتعاﱃ maka tetesan air mata yang tidak ada nilainya dihadapan manusia, tetapi dihadapan Allah akan dapat menyelamatkan dari lautan api neraka, dan ini adalah salah satu tanda hati yang خُشُوْعُ. Allah berfirman :

“Dan muka mereka menyungkur bersujud sambil menangis yang menambah خُشُوْعُ mereka.”” (al Isra : 109)




SOLAT DAN خُشُوْعُ


Allah berfirman :
“Jadikanlah sabar dan صلاة sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Al-Baqarah: 45-46)

خُشُوْعُ dapat dipantau dari perasaan hati, bila kita melaksanakan solat terasa ringan kemudian sesudahnya kita rasakan kedamaian dan ketenteraman hati ini adalah kesan dari خُشُوْعُ -nya hati.

Sebaliknya bila melaksanakan solat terasa berat, tergesa-gesa dan bergerak-gerak selain gerakan solat, kemudian sesudahnya tidak merasakan dampak ketenteraman dan kedamaian ini pertanda hilangnya ke خُشُوْعُ kan.


Shared by bicara Hidayah

RABB , KU INGIN SELALU BERSAMAMU

Ya Allah,
Jadikan kami di antara orang-orang yang dambaannya
adalah mencintai dan merindukan-MU
yang mampu merintih dan menangisi dosa-dosa diri ..
yang memiliki dahi-dahi yang bersujud karena kebesaranMU
yang memiliku mata-mata terjaga dalam mengabdi kepadaMU
yang air matanya mengalir karena takut padaMU
yang hatinya terikat pada cintaMU



Ya Rahman ,
Jadikan...
Engkau lebih kami cintai dari pada selainMU
Jadikan cinta kami padaMU membimbing kami pada RidhaMU
Jadikan kerinduan kami padaMU
mencegah dari maksiat atasMU
Anugerahkan pada kami nikmat indah memandangMU
Tataplah diri kami dengan tatapan kasih dan sayang
Jangan palingkan wajahMU dari kami
Jadikan kami termasuk penerima anugerah dan karuniaMU


Wahai Allah kekasih hati ..
Peliharalah nikmat iman di dada
Jangan biarkan sedikit saja
kami lalai dalam mengingatMU
Penuhilah qalbu kami
nikmat dengan asma KeagunganMU


Ya Rabbi,
Hanya Engkau pemberi ijabah
Pembuka mata hati, karunia, Rahmat dan Nikmat
Allahu ya Arhamar Raahimin ...
Amin ya Mujib, Ya Rahman Ya Rahim
ya Robbal alamin ...


Puti Melati
23.01.11

LA TAHZAN, JANGANLAH BERSEDIH SAHABATKU

LA TAHZAN

Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (darjatnya) jika kamu orang-orang yang beriman. [Surah Ali Imran : Ayat 139]

:::: Asbabul(n) Nuzul ::::

Allah berfirman kepada hamba-hambaNya yang mu’min tatkala mereka mendapat musibah dalam perang Uhud dan gugur tujuh puluh orang di antara mereka sebagai syuhada’, bahawa hal yang serupa telah terjadi pada umat-umat yang sebelum mereka. Para pengikut nabi-nabi yang akhirnya mereka yang beruntung dan orang-orang kafirlah yang binasa. Kerananya Allah memerintahkan hamba-hambaNya mengadakan perjalanan untuk melihat dan menyaksikan bagaimana akibat yang dideritai oleh umat-umat yang mendustakan nabi-nabiNya.

Allah berfirman bahawa di dalam Al-Quran terdapat keterangan sejelas-jelasnya bagi umat manusia,juga mengenai umat-umat yang dahulu. Di samping itu, ia adalah petunjuk dan pencegah dari segala perbuatan dosa dan ma’siat.

Allah سبحانا وتعاﱃ melarang hamba-hambaNya janganlah menjadi lemah dan sedih hati kerana apa yang mereka derita dalam perang Uhud. Sebab kemenangan terakhir adalah bagi orang yang mu’min. Dan jika mereka telah mendapat luka-luka dan banyak yang gugur dalam perang Uhud, maka hal yang serupa telah dialami pula oleh musuh-musuh mereka dalam perang Badar. Dan memang demikianlah sunnah Allah yang menggilirkan kehancuran dan kejayaan di antara manusia.


KAFFARAH DOSA DAN PENINGKAT DARJAT

Allah berfirman bahawa dengan penderita yang dialami dalam perang Uhud, Allah hendak membersihkan orang-orang yang beriman dari dosa-dosa mereka dan atau mengangkat darjat mereka sesuai dengan penderitaannya. Sedang orang-orang kafir akan dibinasakan, walaupun untuk sementara mereka memperolehi kemenangan.

Allah سبحانا وتعاﱃ berfirman: "Adakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga sebelum kamu dicuba (uji) dengan berjihad di jalan Allah dan bersabar menghadapi musuh?"

Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 214 yang maksudnya:

"Apakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cubaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cubaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat."

Dan ayat:

“Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang yang dusta.” (Al-Ankabut, ayat 2-3)

Sumber: Tafsir Ibnu Kathir

::::

KEHIDUPAN ini adalah permainan dalam pelbagai acara yang mencabar dan penuh ujian Allah, bertujuan menguji kesabaran dan tahap keimanan seseorang. Ada kalanya kita berupaya melepasi ujian itu, namun ada juga yang tidak berupaya menghadapinya lantas merungut dengan apa yang berlaku.

Harus diakui ada ketika kita tidak mampu mengelak daripada menghadapi tekanan dalam menjalani kehidupan. Pelbagai tekanan dihadapi menyebabkan kita hilang semangat disebabkan cabaran dan dugaan yang datang silih berganti dan setengahnya pula secara bertimpa-timpa. Ujian yang akan dihadapi oleh manusia di dunia ini adalah dalam dua bentuk iaitu ujian kesusahan dan ujian kesenangan. Kedua-dua ujian itu benar-benar menguji kita sebagai hambanya. Ingatlah bahawa kehidupan di dunia yang meliputi kemewahan dengan segala pangkat kebesaran hanya kesenangan bagi mereka yang terpedaya kalau kita hanyut dengannya.

Firman Allah yang bermaksud:

“Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya rugilah orang yang mengotorinya.” (Asy-Syams, ayat 8-10)

Dalam menghadapi kedua-dua ujian itu, elemen spiritual dalam diri individu hendaklah diperkasakan bagi membantu seseorang menghadapi apa saja dalam kehidupannya, sama ada kesusahan dan kesenangan. Justeru, apa pun bentuk ujian yang melanda, perkara pokoknya adalah kita sentiasa reda dan bersyukur kepada Allah.

Sebenarnya, ujian yang kita tempuhi dapat melatih kita untuk memperoleh sifat terpuji. Sabar, reda, tawakal, baik sangka, mengakui diri sebagai hamba yang lemah, mendekatkan diri dengan Allah di samping mengharapkan pertolonganNya, merasai dunia hanya nikmat sementara dan sebagainya.

Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم bersabda yang bermaksud:

“Allah pasti akan menguji salah seorang dari kamu dengan sesuatu kesusahan, seperti halnya salah seorang dari kamu menguji emasnya dengan api. Sebahagian dari mereka ada yang berjaya keluar dari cubaan Allah seperti emas murni dan sebahagian yang lain ada yang keluar seperti emas yang hitam.” (Riwayat Tabrani)

Berasa diri berdosa adalah juga sifat terpuji. Sebab itu bagi orang yang sudah banyak melakukan dosa atau lalai daripada mengingati Allah, maka Allah datangkan ujian kesusahan kepadanya.

Rasulullah صلیﷲ علیﻪ و سلم pernah membayangkan melalui sabda Baginda bahawa:

“Akan datang suatu zaman atas umatku, bahawa mereka sangat sukakan lima perkara dan melupakan lima perkara yang berlainan dengannya. Mereka sukakan penghidupan lalu melupakan mati, mereka sukakan dunia dan melupakan akhirat, mereka sukakan harta kekayaan dan melupakan hari perhitungan, mereka sukakan rumah besar dan melupakan kubur, mereka sukakan manusia dan melupakan Tuhan Penciptanya.” (Riwayat Bukhari)

Sesungguhnya pilihan itu terletak di tangan kita. Adakah dugaan dan ujian yang tidak berupaya untuk kita menghadapinya. Adakah kita berterusan untuk mengakui kegagalan dan menjadikan alasan itu untuk terus putus asa. Akhirnya kita menjauhkan diri kita daripada Allah atau adakah ujian dan dugaan itu akan kita hadapi melalui jiwa besar lagi perkasa.

Kita laluinya dengan rasa reda dan tunduk kepada Allah. Suatu rumusan daripada ramuan kehidupan yang akhirnya berupaya mengangkat martabat keimanan kita. Bagi orang yang dikasihi Allah, kehidupan di dunia sarat dengan ujian yang didatangkan-Nya seperti kesusahan, penderitaan, kesakitan, kemiskinan, kehilangan pengaruh dan sebagainya.

Sekiranya kita boleh bersabar dan reda, maka itulah ganjaran pahala untuk kita. Firman Allah bermaksud:

“Apakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga, pada hal belum nyata bagi Allah orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata orang yang bersabar.” (Ali Imran , ayat 142)


LA TAHZAN, JANGANLAH BERSEDIH SAHABATKU

La Takhaf Wa La Tahzan. Innallaha Ma’ana

“Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati. Sesungguhnya Allah ada bersama kita”

Inilah kata-kata Nabi Muhammad صلیﷲ علیﻪ و سلم kepada Saidina Abu Bakar r.a ketika mereka bersembunyi di dalam gua tsur. Kata-kata inilah yang menjadi semangat dan penenang hati Abu Bakar r.a di dalam kegusaran diburui musuh.

Innallaha ma’ana.
Allah itu ada bersama kita. InsyaAllah.



Shared by Bicara Hidayah

KHUSYUK DAHULU, BARU MUDAH SABAR DAN SHOLAT

Jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu.
Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat,
kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.
(QS: Al Baqarah 2: 45)

Saya selalu mengingatkan sahabat-sahabat saya bahawa miliki dahulu khusyuk itu di luar solat (di dalam setiap aktiviti kita), maka dengan mudah khusyuk itu akan diperolehi dalam apa jua keadaan termasuk ketika solat.

Khusyuk itu maknanya MENYEDARI (tidak sekadar tahu dan ingat) bahawa Allah سبحانا وتعاﱃ itu dekat dengan kita dan MENYEDARI bahawa Allah سبحانا وتعاﱃ sentiasa melihat setiap apa yang kita lakukan. Kita sentiasa berada di dalam sedar hal yang dikatakan Ihsan ini.

Ayat Al-Baqarah 2:45 tersebut selalu disalah ertikan di mana kita selalu MENCARI KHUSYUK DI DALAM SOLAT. Sedangkan jelas Allah سبحانا وتعاﱃ berfirman bahawa sabar dan solat itu mudah dilakukan bagi mereka yang khusyuk.

Bermakna khusyuk dahulu, sedar Allah itu dekat, sedar Allah sedang melihat diri kita dalam apa jua keadaan kita, di dalam setiap aktiviti yang kita lakukan, SEDAR KEHIDUPAN KITA INI ADALAH KETENTUAN ALLAH سبحانا وتعاﱃ dan barulah kita mampu mencapai sabar dan mendirikan solat dengan penuh ikhlas.

Bagi orang yang khusyuk, sabar dan solat merupakan penolongnya. Maka orang yang TIDAK KHUSYUK di dalam kehidupannya, MANA MUNGKIN AKAN SABAR DAN TIDAK AKAN MENJADIKAN SOLAT ITU SEBAGAI PENOLONGNYA.

Menjadi kesulitan kita apabila kita ingin mencari khusyuk di dalam solat. Kita belajar cara-cara solat yang khusyuk. Kita tidak mencari bagaimana untuk khusyuk di dalam kehidupan kita. Maka sebab itu apabila kita mendirikan solat, kita terasa penat, letih dan makin tertekan kerana kita cuba mendapatkan khusyuk itu di dalam solat.

Orang yang sentiasa khusyuk dalam setiap aktiviti kehidupannya, tidak akan gelisah, sentiasa tenang, bersemangat, jiwanya positif dan segala kebaikan mudah dicapai. Orang yang khusyuk di dalam setiap aktivitinya akan sentiasa sabar walau apa pun menimpa. Sentiasa bersemangat dan tertunggu-tunggu waktu solat. Solat dirasakan ringan dan asyik kerana itulah saat kemuncak mikraj kepada Allah سبحانا وتعاﱃ .

Orang yang khusyuk di dalam setiap aktivitinya akan lebih pasrah, redha dan berserah kerana jiwanya sudah terkunci dengan kesedaran yang tertinggi bahawa setiap apa yang dilakukan adalah kehendak Allah سبحانا وتعاﱃ . Setiap kehendak Allah سبحانا وتعاﱃ pasti yang terbaik untuk dirinya walaupun jika mengikut akal fikiran mungkin tidak baik bagi dirinya.


[Fuad Latip]

Shared by Bicara Hidayah

UNTUKMU YANG BERJIWA HANIF

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (wahai Muhammad): Hendaklah engkau menurut ugama Nabi Ibrahim, yang berdiri teguh di atas jalan yang benar; dan tiadalah ia dari orang-orang musyrik. [An-Nahl:123]


[Then We revealed to you, [O Muhammad], to follow the religion of Abraham, inclining toward truth; and he was not of those who associate with Allah. ]

SUNGGUH HIDAYAH menuju Islam yang hakiki itu merupakan kenikmatan yang terbesar dalam kehidupan manusia, karena ia adalah kebahagiaan abadi di dunia dan akhirat. Orang-orang terdahulu telah mengorbankan semua yang ada pada diri mereka untuk meraihnya. Jalan itu pula kiranya yang ditempuh oleh para Nabi dan Rasul dalam mendakwahkan kalimat tauhid untuk mengesakan Allah SWT



TUJUAN HIDUP


Setiap manusia sepakat dengan tujuan hidup, yaitu mencari dan menggapai kebahagian. Semua manusia ingin hidup bahagia, hanya saja kebanyakan manusia salah dalam mencari jalan kebahagiaan, banyak yang memilih sebuah jalan hidup yang ia sangka disana ada pantai kebahagian, padahal ia adalah jurang kebinasaan.

Banyak orang menyangka kebahagian itu ada pada harta, karenanya ia berletih-letih dan berpeluh mencari sumber-sumber harta. Setelah ia memperoleh harta tersebut, hatinya tetap gundah dan perasaan selalu gelisah, dalam harta yang banyak itu terdapat jiwa yang rapuh.

Banyak pula yang menyangka bahwa pangkat dan kekuasaan itu adalah kebahagian, tetapi setelah pangkat dan kekuasaan diperoleh kebahagiaan semakin jauh darinya, yang terdengar hanya keluh kesahnya.

Jadi apa kebahagiaan yang sesungguhnya? Apa kebahagian sejati yang harus dicari oleh manusia? Siapa sebenarnya orang yang bahagia? Apa sarana untuk mencapainya?

Manusia diciptakan oleh Allah SWT  Tentu yang paling mengenal tentang seluk-beluk manusia, termasuk tentang sebab bahagia atau sengsara adalah Allah SWT  bukan manusia. Allah SWT  berfirman:

"Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan atau rahasiakan)? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui." (Al-Muluk: 14)

Ketika Al-Quran ditadaburi dan syariat Islam dikaji, maka kebahagiaan yang hakiki adalah mengaplikasikan pengHAMBAan diri kepada Allah SWT. Orang yang bahagia adalah orang yang telah berhasil menjadi HAMBA Allah SWT.

Sarana kebahagiaan adalah semua sarana yang telah disediakan oleh-Nya dalam meniti jalan pengHAMBAan diri kepada Allah SWT . Karena pengHAMBAan diri inilah sebab diciptakannya manusia dan jin. Allah SWT berfirman:

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada Ku." (Adz-Dzaaryiat: 56)

Orang yang berpaling dari pengHAMBAan diri, dialah orang yang sengsara, Allah SWT berfirman:

"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Thaha: 124)

Allah SWT telah menentukan taqdir semua makhluk dan tidak ada yang dapat merubah taqdir selain-Nya. Manusia yang berakal tentu akan bernaung kepada Dzat yang mampu mentaqdirkan segala sesuatu, ia akan merasakan ketenangan dan kebahagiaan dalam menyandarkan diri dan kepasrahan kepada-Nya.



BEBAN AMANAH

Allah SWT menciptakan manusia untuk sebuah tujuan yang mulia, yang akan memikul amanah yang sangat berat. Pantas saja tidak ada yang mau memikul amanah tersebut dari langit yang tinggi, gunung yang menjulang atau bumi yang terbentang, semuanya menyatakan enggan kecuali manusia. Allah menceritakan tentang perihal tersebut,

"Sesungguhnya telah kami sampaikan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh." (Al-Ahzab: 72)

Apa gerangan amanah yang telah diikrarkan itu? Amanah itu adalah Islam dan peraturannya, yaitu janji kepatuhan kepada Allah SWT




AHSANU ‘AMALA


Al-Quran menyebutkan bahwa penciptaan alam, hidup dan mati untuk menguji manusia, siapa yang lebih baik amalnya. Itulah yang disebut dengan "Ahsanu ‘amala". Allah SWT berfirman:

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (Al-Mulk: 2)

"Sesungguhnya kami menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah yang terbaik perbuatannya." (Al-Kahfi: 7)

Fudhail bin ‘Iyadh radhiyallahu ‘anhu berkata "Ahsanu ‘amala, adalah amalan yang paling ikhlas dan yang paling benar".



Jadi pengHAMBAan diri yang paling sempurna dengan 2 syarat, yaitu hendaklah ‘ubudiyah kepada Allah SWT dengan penuh keikhlasan kepada-Nya dan sesuai dengan syari'at.





FITRAH BEKAL KEBENARAN


Setiap jiwa manusia diberi fitrah sebagai bekal untuk mencari kebenaran. Karena Allah SWT tahu manusia itu lemah dan membutuhkan Khaliq-nya. Fitrah itu adalah Islam, yaitu penyerahan diri kepada Dzat Yang Maha Kuasa, perasaan kerinduan terhadap kebenaran dan keinginan yang SWT berfirman :

"(Berpegang teguhlah dengan) fitrah Allah SWT  yang telah dirakit (Eng: assemble) manusia dengannya, tidak ada perubahan pada penciptaan Allah SWT. Itulah agama yang lurus" (Ar-Rum: 30)



MUARA KEBENARAN


Semua aktivitas badan yang lahir, perbuatan baik dan buruk, dikuasai oleh satu komando, yaitu HATI. Ia bagaikan raja yang berkuasa mutlak terhadap bala tentaranya, semua tindakan harus dibawah perintah dan larangannya, ia pergunakan sekehendaknya dan ia suruh semaunya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Ketahuilah, bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baik pula seluruh tubuh, jika ia rusak maka rusak pula seluruh tubuh, ketahuilah dia adalah hati.” (HR Bukhari 1/126 no.52, Muslim 11/57 no. 1599 dari Nu'man bin Basyir)


HATI yang bisa meraih HIDAYAH Allah SWT adalah HATI yang masih dalam kategori hidup dan HATI yang masih memiliki cahaya sekalipun redup.



TUNJUKI AKU JALAN YANG LURUS

"Ihdinashshirotholmustaqim, Shirotholladzina an'amta'alaihim .... " tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat ... Begitu pentingnya Hidayah, sehingga seorang HAMBA memohon minimal tujuh belas kali dalam sehari semalam. Ketika Hidayah jauh dari seorang, berarti kebinasaan dan kesengsaraanlah yang akan segera menimpanya. Hajat seorang HAMBA kepada Hidayah seperti hajat badan terhadap udara, ia sangat membutuhkan sejumlah HIDAYAH-nafas yang keluar masuk tubuhnya. Sebagaimana tubuh membutuhkan makan dan minum, hati juga membutuhkan HIDAYAH sebagai makanan dan minumannya.


Imam Ahmad rahimahullah berkata,

"Kebutuhan seorang hamba pada hidayah, melebihi kebutuhannya dari makan dan minum, kalau makan dan minum hanya dibutuhkan satu dua kali saja, sedangkan hidayah dibutuhkan sejumlah nafas." (Miftah Darus sa'adah, 1/61)



JADILAH LENTERA


Orang yang merasakan manisnya HIDAYAH dan lazatnya iman dialah orang yang punya motivasi dalam hidup dan bertabiat tidak pernah puas pada sesuatu, ia tidak puas kalau dirinya saja yang merengkuh kenikmatan dan merasakan kebahagiaan. Ia bagaikan lentera (BM: lampu, pelita) yang menerang dirinya sebagaimana ia menerangi yang lainnya. Allah SWT berfirman:

"Dan apakah orang yang telah mati (hatinya) kemudian Kami hidupkan kembali dan Kami anugerahkan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah manusia, serupa dengan orang yang keadaannya dalam gelap gulita yang sekali-kali ia tidak dapat keluar darinya ..." (Al-An'am: 122)

Setelah seseorang dihantarkan oleh Allah SWT ke gerbang HIDAYAH, yaitu "Islam" yakni keinginan untuk mencari kebenaran melalui ilmu dan iman serta usaha dan amal, berarti ia telah mendapatkan setengah kebahagiaan. Akan tetapi, tidak cukup sampai disana, ia menghendaki HIDAYAH kedua dari Allah SWT  . yaitu, taufiq Allah SWT dalam kebenaran pada semua tindakannya. Itulah yang disebut Allah  SWT dalam Al-Quran:

"Dan orang yang berjuang di jalan kami, akan kami beri kepada mereka hidayah jalan-jalan kami ..." (Al-Ankabut : 69)

Para ulama berkata, "kami beri mereka taufiq untuk mendapatkan sarana yang benar menuju jalan yang lurus, jalan itu yang menghantarkan mereka kepada redha Allah  SWT." (Tafsir Baghawi, 404)



Untuk menggapai (BM: mencapai) HIDAYAH yang kedua ini seorang muslim harus memiliki sifat:


BERJIWA HANIF


Orang yang berjiwa Hanif yaitu orang yang condong kepada kebenaran, berkepribadian yang lurus dan istiqamah. Agama Hanif yaitu agama yang jauh dari kesyirikan dan penyembahan berhala, dengan berkhitan dan melakukan manasik haji. (Qamus Muhith, 2/370)


Allah SWT berfirman;

"Tidaklah Ibrahim itu seorang Yahudi atau Nasrani, akan tetapi ia adalah seorang yang hanif lagi muslim, dan dia bukan dari orang musyrik.” (Ali ‘Imran : 67)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

“ ... jauh dari syirik dan
condong kepada iman ... " (Tafsir Ibnu Katsir, 2/58)




BERSERAH DIRI


Penyerahan diri dalam syari'at adalah "Islam", atau " taslim", yaitu tunduk, patuh dan menyerahkan diri kepada Allah SWT, serta tidak ada perlawanan, penolakan dan keraguan dalam melaksanakan perintah-Nya.



MEMILIKI MOTIVASI

Seorang yang memperoleh HIDAYAH mempunyai kemauan yang kuat dan motivasi yang tinggi, karena yang dicarinya adalah syurga yang luasnya seluas langit dan bumi. Jika orang yang mencari dunia memerlukan semangat dan motivasi, maka selayaknya orang yang mencari akhirat akan memiliki semangat dan motivasi yang lebih besar untuk meraihnya.


SABAR DAN YAKIN


Sabar dan yakin sebagai syarat kebahagiaan HAMBA di dunia dan di akhirat, ketika dua hal ini telah diperoleh HAMBA, berarti ia telah menjadi INSAN KAMIL.



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:

"Dengan sabar dan yakin akan diperoleh kepemimpinan dalam Din"





Mahyudin Ibnu Rusli
Shared By Bicara Hidayah


إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat (memuji dan berdoa) ke atas Nabi. Wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu ke atasnya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan. “[Al-Ahzab: 56]

MENJAGA KEIKHLASAN

RAMAI yang bertanya kepada saya bagaimana nak jaga keikhlasan hati ketika beramal atau melakukan kebaikan?

Ada satu perkara yang perlu kita fahami iaitu IKHLAS ini adalah buah atau natijah dari keimanan  dan ketaatan kepada Allah SWT . Ikhlas tidak dibina diatas dasar yang tidak jelas atau diawang-awangan. Apabila kita benar-benar merasai hakikat kebesaran dan keagungan Allah disamping menyakini segala janji-janji dan ancaman-ancamanNya serta meyakini hari pertemuan denganNya maka ketika itu pohon keimanan yang ada pada jiwa kita mula mengeluarkan buahnya untuk kita petik dan menikmati kemanisannya.



IMAN TIDAK TIMBUL SECARA AUTOMATIS
Ya, buah Ikhlas itu manis dan harum. Namun tak semua pohon Iman itu mengeluarkan buah atau hasil. Tidak semua pula yang tahu memetik buahnya untuk menikmati anugerah Allah yang agung ini. Mungkin kita perlu tanya: Adakah benihnya baik, ada tanahnya telah kita gemburkan dan bajai dengan baik, adakah air yang kita sirami cukup dan sebagainya?

Iman tidak akan tumbuh secara mukjizat (Bicara Hidayah; automatis). Kita perlu tanamkan benih yang asli dan baik; kita perlu bangunkan iman itu diatas asas keimanan dan kesedaran yang betul, bukan kerana keturunan atau warisan tetapi kita perlu melalui proses.

Jangan jadikan diri kita seperti 'umang-umang'. Mungkin ada yang tak kenal umang-umang. Lihatlah ditepi pantai, kadang-kadang kita akan temui siput yang berjalan laju. Bukankah berjalan laju itu bukan sifatnya. Kalau kita angkat dan tengok betul-betul rupanya ada ketam yang menumpang kulit siput yang kosong itu.

Mungkinkah iman kita begitu? Kita beriman kerana ibu ayah kita beriman atau orang disekeliling kita beriman. Adakah keimanan kita itu asli dan benar? Apakah proses yang telah kita lalui hingga kita yakin bahawa iman kita itu betul?



IMAN YANG HIDUP

Dr 'Ali Hasyimi dalam bukunya Syakhsiyah Islamiyyah menyebutkan tentang Iman yang celik (Eng: awaked). Katanya iman yang celik atau iman yang hidup adalah iman yang tumbuh diatas dasar makrifatullah atau mengenali Allah dengan sebenar-benarnya kefahaman tentang nama-namaNya, sifat-sifatNya dan sebagainya yang berkaitan dengan Allah.

Kefahaman ini ditingkatkan hingga melahirkan as- syu'ur ma'iyatullah (rasa sentiasa bersama Allah atau mampu menghadirkan Allah dalam diri kita) hingga kita tidak merasakan sesuatu apapun yang tidak diketahui oleh Allah SWT . Kita merasakan dengan seluruh jiwa kita akan pemerhatian Allah, Maha mendengarnya Allah, Maha mengetahuinya Allah dan sebagainya.

Syu'ur atau perasaan ini terus ditingkatkan hingga jiwa kita sentiasa beinteraksi (mukholatah) dengan Allah SWT  . Setiap keluhan kita, setiap aduan dan permohonan kita pertama-tama sekali kita hadapkan kepada Allah, tidak pada selainNya.

Inilah tiga tahap penanaman iman hingga Iman itu tumbuh dan berbuah; Makrifah, Syu'ur dan Mukholatah. Ketiga-tiga unsur ini akan kita tingkatkan melalui ketekunan kita mentaati Allah SWT  . Bagaimana seorang yang tidak melakukan apa-apa mampu berdoa dengan penuh yakin? Adakah sama doa orang yang begitu berbanding seorang yang bekerja bertungkus lumus hingga pecah-pecah kulit tapak tangannya dan diapun menjaga batas-batas yang ditentukan Allah lalu berdoa menadah tangan mengharapkan Rahmat dan PertolonganNya? Semua ini akan menjadikan hati kita lebih peka dan merasai hubungan dengan Allah (Bicara HIdayah: Khusyu').



KEISTIMEWAAN IKHLAS

Bagaimana pula kita nak ikhlas sekiranya kita tidak merasakan pemerhatian Allah SWT bahkan segala bisikan hati kita semuanya dalam ilmu Allah SWT  . Jadi kita tidak akan mampu untuk ikhlas hanya dengan keinginan untuk ikhlas atau dengan memaksa hati kita untuk ikhlas.



Tahukah kita apa yang paling istimewa dari keikhlasan yang benar?



Ya, setiapkali kita berdoa Allah mendengar dan memenuhi permintaan kita, setiap kesempitan hidup Allah lapangkan jiwa kita, setiap kesukaran dan kepayahan Allah akan kuatkan jiwa kita untuk mengharungi, setiap kesedihan Allah akan bahagiakan kita dengan janji-janjiNya, setiap kelalaian kita akan ditegur Allah dengan penuh kebijaksanaan kerana kita adalah hambaNya yang dikasihiNya.


Boleh anda senaraikan perkara yang lebih anda hajati dari semua ini?





Oleh: Azmi Bahari
Shared by Bicara Hidayah

MENGINGATI MATI CARA TERBAIK MANUSIA MENASIHATI DIRI SENDIRI

Mati membuktikan kepada manusia bahawa sebenarnya ia tidak pernah memiliki sesuatu pun.

KEMEWAHAN hidup di dunia
akan tergugat dengan datangnya Izrail yang mencabut roh dari jasad dan berakhirlah segala kenangan mengenai si polan yang dikasihi. Mati membuktikan kepada manusia bahawa sebenarnya ia tidak pernah memiliki sesuatu pun. Mati juga membangunkan kita daripada angan-angan yang panjang mengenai nikmat hidup yang tak bererti tanpa sifat berkekalan. Dunia adalah permainan dan kehidupan sebenarnya bermula di akhirat, konsep percaya kepada alam barzakh iaitu hari kebangkitan yang mampu menyedarkan manusia untuk bertanggungjawab dalam menjalani kehidupan.

Mustahil bagi manusia mengetahui empat hal ghaib, kelahiran dan kematian; rezeki; amal dan kesudahan hidupnya sama ada celaka atau bahagia yang terpatri di luh mahfuz. Empat rahsia itu tersimpan di bank data ciptaan Allah Yang Maha Mengetahui dengan pengetahuan yang tidak terjangkau oleh akal fikiran manusia biasa kerana manusia dicipta dengan akal fikiran yang terbatas.


KETAKUTAN DAN PENGHARAPAN

Penerokaan akalnya tak akan dapat menjawab persoalan bilakah kelahiran dan kematian berlaku, supaya ketakutan dan pengharapan kepada Allah sentiasa hadir pada nalurinya yang paling tajam. Supaya kekuatan iradah menerusi elemen akal, jasmani dan rohani terus bergejolak menyahut seruan Yang Maha Mencipta memandangkan adalah dunia tempat bermujahadah untuk memenangi akhirat.

Ini semua bagi menghasilkan kesedaran bahawa kita semua akan mati sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ bermaksud:

"Perbanyakkanlah olehmu mengingat perosak kelazatan, iaitu mati." (Hadis riwayat al-Tirmizi)

Kemampuan untuk mengingati mati adalah sebaik-baik kecerdasan dan kebijaksanaan seseorang. Apabila kegembiraan mencurah-curah dari hati, bolehkah kita selitkan peringatan mengenai mati, apabila cita-cita tercapai, kemewahan dikecapi, kebahagiaan tak sudah-sudah, adakah kita ingat esok kita mati dan semua akan musnah? Berhasilkah kita menasihati diri sendiri pada saat kelalaian dan lupa daratan?


MENUNDA TAUBAT

Sungguh susah kerana kita cenderung kepada tarikan cinta dunia dan takut mati. Takut mati yang diamalkan oleh kebanyakan manusia akhir zaman ialah tidak bersedia menghadapi kematian dengan persediaan amal salih, leka dengan dosa dan kekotoran yang terpalit pada diri.

Menunda taubat dan menyangka masih banyak kesempatan untuk peluang terakhir padahal setiap hari berlalu tanah di perkuburan memanggil, bahkan mengancam manusia yang degil. Rasulullah ﷺ bersabda:

"Bahawasanya tidak berlalu satu hari ke atas kubur melainkan kubur berkata (kepada manusia): Akulah rumah pengasingan, akulah rumah persendirian, akulah rumah tanah, akulah rumah yang penuh dengan ulat. Dan apabila dikuburkan orang yang bermaksiat dan orang yang kafir maka kubur berkata kepadanya: Tidak ada ucapan selamat datang bagimu, sesungguhnya engkau adalah orang yang paling kubenci yang berjalan di atasku. Pada hari ini segala urusanmu telah diserahkan kepadaku maka engkau akan lihat betapa aku akan membalas perbuatanmu. Lalu kubur itu menghimpitnya sehingga berselisih tulang-tulang rusuknya." (Hadis Riwayat al-Tirmizi)

Saat itu penilaian terhadap diri bermula tetapi penyesalan tak merubah apapun, hanya kesedaran betapa ruginya meremehkan nilai sesuatu amal hatta bersedekah dengan sepotong kurma yang boleh menyelamatkan dari api neraka. Pada masa itu akan terkenang kita peluang yang tak direbut, saat leka dengan hiburan, kemalasan dan menunda ibadat yang menjadi kebiasaan.


MENANGISLAH

Maka menangislah mata-mata yang tak pernah menangis (kerana takut pada Allah) dan ketakutan hati-hati yang tak pernah takut. Menggigil sekujur badan yang akan menanggung salah lakunya sendiri. Tidak pernah dalam satu hari pun kecuali pada hari itu ia berasa begitu menyesal dan berputus asa dengan keadaannya, malangnya peluang kedua sudah tiada lagi.

Sebelum kedatangan maut, adakah kita mempunyai impian pada saat akhir kehidupan seperti merancang untuk menikmati kemationan dengan tenteram, meninggalkan orang tersayang dengan reda dan paling penting kerinduan untuk bertemu Allah.


Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barang siapa yang tidak suka bertemu dengan Allah, sesungguhnya Allah pun tidak suka bertemu dengannya." (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Pertemuan itu adalah pertemuan paling istimewa dengan panggilan istimewa nafs muthmainnah (jiwa yang tenang)dan ajakan yang mulia (kembalilah kepada Rabbmu) bahkan pelawaan yang amat berharga (masuklah ke dalam syurga-Ku). (Surah al-Fajr)

Itulah impian hamba Allah mengenai kematian kerana bagi mereka bahagia bukan hanya ketika masih hidup bahkan di saat akhir pun mesti dilalui dengan perasaan bahagia dan reda. Betapa ruginya mereka yang terperosok masuk ke dalam lubang yang digali syaitan padahal perjalanan panjang yang dilalui sebelum ini dapat dengan mudah dilaluinya tetapi di penghujung jalan mereka terperangkap.

Rasulullah ﷺ bersabda bermaksud:
"Maka demi Allah yang tiada Tuhan selain-Nya. Sesungguhnya salah seorang kamu mengerjakan amal ahli syurga sehingga tidak ada jarak antaranya dengan syurga melainkan sehasta, kemudian terdahulu ketentuan yang tertulis lalu ia mengerjakan amalan ahli neraka maka masuklah ia ke dalamnya." (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Bahwasanya manusia yg cerdas adalah yg selalu mengingat akan kematian dan mempersiapkan diri sebaik2 hambanya untuk pulang, khusnul khatimah dan ALLAH RIDHA kepada kita .. amin ya robbal alamin ..



Dr Juanda Jaya

Shared By Bicara Hidayah

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat (memuji dan berdoa) ke atas Nabi (Muhammad s.a.w). Wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu ke atasnya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan. [Al-Ahzab: 56]