:: PENGGALAN MUNAJAT IBNU ATHAILAH .. ::



Ilahi,
dengan sifat-sifat-Mu yang lembut
dengan halusnya kasih sayang
Engkau pun tahu aku begitu lemah
tiadalah Engkau menolak
dengan sifat lembut dan welas-Mu
dari kelemahan diriku


Ilahi,
bagaimana aku menjaga amanat -Mu
untuk mengurus diriku
padahal Engkau penjamin bagiku
betapa aku akan terhina
padahal Engkau Sang Penolong
bagaimana mungkin aku kecewa
padahal Engkau Maha Pengasih


Ilahi,
betapa diriku mendapat lembut kehalusan-Mu
yang Maha Agung
padahal aku bodoh dalam kejahilanku
besar nian rahmat-Mu
karena begitu buruk perilaku diriku


Ilahi,
begitu Engkau dekat dariku
begitu jauhnya aku dari-Mu


Ilahi,
dosa telah menutup pandanganku
kemurahan-Mu membisikkan padaku
ketika putus asa menggerogoti jiwaku
aku menemukan rahmat-Mu
karena aku insan rendahan
karunia-Mu juga yang membukakan harapan


Ilahi,
aku tertatih berjalan di alam ini
karena begitu jauh jalan hidup ini
dekatkan aku pada jarak Mu
oleh rahmat yang segera aku datang di hadapan-Mu


Ilahi,
tiada kehinaan yang tidak nampak oleh-Mu
perihalku yang tiada tersembunyi bagi-Mu
aku berharap dari pancaran Nur-Mu
agar tiba di depan-Mu
dan peroleh hidayah-Mu
kokohkan jiwaku
agar sungguh pengabdianku pada-Mu


Ilahi,
mestikah aku kecewa,
padahal Engkau harapanku
betapa aku bisa terhina
padahal kepadamu saja aku berserah.


Wahai Dzat yang bernaung di dalam tembok kemuliaan
sehingga tiada tercapai pandangan penglihatan
Wahai Dzat yang menjelmakan keindahan penuh kesempurnaan
terbuktilah itu dalam hati dan perasaan
Engkau tampak jelas walau dalam persembunyian
Engkau Maha gaib tetapi memberi pengawasan
Engkau Taufiqur Rahman
tempat kami mengajukan pertolongan...
Allahu ya Jabbar, ya Ghofurrurahim ..


Aamiin ya Robbal alamin,



*****
Sebuah penggalan munajat , Ibnu Athailah
semoga Allah merahmati ..

::: HADIST -HADIST KEUTAMAAN SALAM :::


Allah Ta'ala berfirman :

Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah pengormatan itu dengan lebih baik daripadanya. Atau balaslah penghormatan itu (dengan yg serupa). Sesungguhnya Allah selalu membuat perhitungan atas segala sesuatu ( QS An Nisaa' : 86)


Salam penghormatan kepada mereka (orang2 mukmin itu) pada hari mereka menemui Nya ialah : " Salam sejahtera dari segala bencana " , dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka ( QS Ahzaab : 44)



Ucapan salam sudah ada sebelum Nabi Adam as diturunkan ke dunia
-----------------------------------------------------------------------
Dari Abu Hurairah ra , Rasulullah SAW bersabda : Allah telah menciptakan Nabi Adam as dengan bentuk yang panjang (tingginya) nya 60 dziro (+/- 30 m). Tatkala Nabi Adam as sudah tercipta, Allah berfirman :

"Pergilah dan berilah ucapan salam kepada para malaikat yang duduk , dan perhatikan penghormatan apa yang mereka berikan kepadamu. Karena itu merupakan penghormatan kepadamu dan kepada anak cucumu (kelak).

Lalu Nabi Adam as mengucapkan : "Assalamualaikum". dan para malaikat pun menjawab : "Assalamu'alaika wa rahmatullah". Kata warahmatullah yg ditambahkan para malaikat berarti : "Semoga Allah memberi rahmat kepadamu" (Muttafaqun 'Alaih)



Dari Ibnu Mas'ud ra, Rasulullah SAW bersabda :
"As Salam termasuk salah satu asma Allah Ta'ala yang diletakkan Allah dibumi, maka sebarkanlah. "Karena apabila orang muslim melewati sekelompok orang, lalu ia memberi salam kepada mereka, maka ia memiliki kelebihan satu derajat diatas mereka dengan mengingatkan salam kepada mereka. Jika mereka tidak menjawabnya, maka ia dijawab oleh yang lebih baik dari mereka (yakni para malaikat) (HR Al Bazzar dan Baihaqi)



Dari Abdullah bin Salam ra, Rasullah SAW berkata :
"Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makan, sambunglah tali silaturahmi, dan shalatlah ketika orang-orang sedang tertidur nyenyak, niscaya kalian akan masuk surga dengan damai " (HR Tirmidzi)


Semakin lengkap (sempurna) ucapan salam , semakin baik (besar pahalanya)
---------------------------------------------------------------------

Imran bin Hushain ra mengisahkan, ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW dengan mengucapkan " Assalamualaikum" Setelah itu beliau berkata : " Sepuluh"

Kemudian ada yang datang lagi lainnya mengucapkan : " Assalamualaikum warahmatullahi " . Dan beliau berkata : " Dua puluh"

Selang beberapa waktu kemudian ada yang datang lagi dengan mengucapkan : " Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh".
Dan Rasulullah berkata : " Tiga puluh" ( HR Daud dan Tirmidzi)


Orang yang sebaiknya mendahului memberikan salam
---------------------------------------------------------------

Abu Hurairah ra mengatakan , Rasulullah SAW bersabda :
" Orang yang naik kendaraan memberikan salam kepada orang yang berjalan kaki, sedangkan orang yang berjalan memberikan salam kepada orang yang duduk , dan yang sedikit jumlahnya memberikan salam kepada yang lebih banyak" ( Muttafaqun 'Alaih)



Wallahu a'lam
Barakallahufikum ....
--------------------------

MENGGAPAI CINTA ALLAH TA'ALA



Berikut adalah nasehat Imam Syafi'i , yang semoga kita bisa mengambil manfaatnya , amin.


Imam Syafi'i adalah seorang yang sangat zuhud , Pernah sekembalinya beliau dari Yaman dan membawa uang sebanyak sepuluh ribu dirham, sebelumnya memasuki kota Makkah uang tersebut telah dibagi-bagikan nya kepada orang yang memerlukannya.


Pernah juga terjadi, beliau memberi nasehat kepada seorang pemuda yang mengambil wudhu kurang sempurna.

"Wahai anak, Jika engkau mengambil wudhu', lakukanlah dengan baik supaya Allah mengaruniakan kepadamu dunia dan akhirat "


Anak muda itu mengikuti nasihat Imam Syafi'i, setelah itu ia mengejar Imam Syafi dari belakang dan ingin mengetahui siapakah orang yang menasihatinya itu.


Imam itu menoleh kepadanya sambil bertanya, "ada apa gerangan anakku "?


Anak itu menyatakan kepada Imam Syafi'i keinginannya untuk belajar lebih lanjut kepada beliau .

Imam Syafi'i mengingatkan sang pemuda dengan kata-kata nasihat
selanjutnya:

"Barangsiapa mengenal Allah ia akan tinggi derajatnya. Barang siapa memuliakan agama-Nya ia akan selamat dari kehinaaan dan bahaya, barang siapa zuhud di dunia pasti ia akan melihat balasan Allah yang mulia."


Lalu imam Syafi'i bertanya lagi kepada pemuda itu apakah ia masih memerlukan tambahan pelajaran, anak muda itu menjawab tolong tambah lagi pengajaran beliau, maka Imam Syafi'i melanjutkan:

"Barangsiapa selalu mengerjakan tiga pekerjaan ini, maka akan sempurna imannya yaitu:

1."Barangsiapa yang menyuruh orang lain berbuat baik dan dia sendiri juga berbuat baik.

2. Barang siapa mencegah orang berbuat jahat, dan dia sendiri menjauhkan dirinya dari kejahatan dan

3. Barangsiapa yang menjaga batas-batas hukum Allah."



Imam Syafi'i bertanya lagi kepada pemuda itu, apa masih perlu ditambah lagi?

Anak muda itu menjawab, "ya".


Imam Syafi'i meneruskan:

"Hendaklah engkau zuhud didunia, dan hendaklah engkau suka kepada amalan akhirat. Hendaklah engkau berlaku jujur dalam menjalankan segala perintah Allah, niscaya engkau termasuk orang-orang yang agung derajatnya".


Kemudian anak muda itu bertanya, siapakah Tuan Guru yang yang sangat bermurah hati itu yang telah sudi mengajarnya meskipun di dalam perjalanan.


Lalu orang disekitarnya mengatakan yang dihadapinya itu adalah Imam Syafi'i.
Imam Syafi'i adalah seorang Imam yang bersedia mencurahkan Ilmunya kepada
siapa saja yang memerlukannya, yang semua itu dilakukannya karena Allah, semata-mata, (semoga Allah merahmatinya. amin.)

----------------------------

Ya Allah , yang Maha membukakan hati,
Karuniakan kepada kami kemampuan untuk dapat istiqomah , senantiasa memperbaiki diri ..

dan beribadah terbaik untuk Mu ...

Aamin yaa Rabbal alamin.






Wallahu'alam
Barakallahufikum ...

—

::: BANYAKNYA JALAN KEBAIKAN :::







Bismillahirrahmannirahim,

Sahabat fillah,

Begitu banyak jalan kebaikan yang Allah bentangkan bagi kita , yang semuanya membukakan karunia Nya . Yuk kita simak dibawah ini beberapa diantaranya , Semoga Allah karuniakan rahmat dan kemampuan bagi kita semua. amin.


1. Dari Abu Dzar ra, Rasulullah SAW bersabda :

Diperlihatkan kepadaku amalan-amalan umatku yang baik dan yang buruk. Maka aku mendapat dalam deretan amalan baik umatku mengilangkan gangguan dari tengah jalan. Dan aku dapati dalam kelompok amalan buruk umatku adalah ingus yang ada di mesjid tidak dipendam (HR Muslim)


2. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda :

Barangsiapa berangkat menuju mesjid diwaktu pagi / senja, maka Allah akan mempersiapkan untuknya hidangan di surga tiap pagi / senja (HR Bukhari - Muslim )


3. Dari Abu Dzar , Rasulullah SAW bersabda :

Tiap pagi ada kewajiban bersedekah untuk tiap-tiap persendian (ruas). Maka tiap ucapan tasbih adalah sedekah, tiap ucapan tahmid adalah sedekah, tiap ucapan tahlil adalah sedekah , tiap ucapan takbir adalah sedekah, amar ma'ruf adalah sedekah dan melarang yang mungkar adalah sedekah . Dan mencukupi dari semua itu 2 rakaat yang kamu lakukan pada waktu dhuha ( HR Muslim)


4. Dari Abu Dzar, diriwayatkan ketika sekelompok orang berkata :
" Ya Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong semua pahala, mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa dan mereka bersedekah sebagaimana kami sedekah. Maka Rasulullah saw menjawab :

"Bukankan Allah telah menjadikan untukmu sesuatu yang kamu bisa bersedekah dengannya ? Sesungguhnya setiap TASBIH adalah sedekah, setiap TAKBIR adalah sedekah, setiap TAHMID adalah sedekah, setiap TAHLIL adalah sedekah, memerintah yang ma'ruf dan mencegah yang mungkar adalah sedekah. Bahkan senggama dengan istri/suami adalah sedekah (berpahala) ((HR Muslim)


5. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda :

Tatkala seseorang dalam perjalanan mendadak ia merasa sangat haus. Dia menemukan sebuah sumur lalu ia turun untuk minum. Kemudian ada seekor anjing yang menjulurkan lidahnya , dan memakan tanah karena hausnya. Orang tersebut kemudian turun kembali ke dalam sumur lalu memenuhi sepatunya dengan air dan menggigitnya hingga naik ke atas. Kemudian diberinya anjing itu minuman dan bersyukur kepada Allah , (atas perbuatan mulianya tersebut) maka Allah mengampuninya "

Para sahabat bertanya : Ya Rasulullah , apakah kami mendapatkan pahala dalam menolong binatang ? , maka beliau menjawab :
"Dalam (menolong) setiap makhluk hidup ada pahalanya " (HR Bukhari - Muslim)

Dalam satu riwayat milik Bukhari : " Maka Allah memuji perbuatannya , mengampuninya dan memasukkannya ke dalam surga. Seperti halnya kisah seorang pelacur yang menolong seekor anjing yang hampir mati (Bukhari - Muslim)


6. Dari Jabir ra, Rasulullah SAW bersabda :

Tidak ada seorang muslimpun yang menanam tanaman melainkan apa yang dimakan darinya adalah sedekah baginya , Bila ada manusia atau hewan atau burung yang turut memakan , melainkan baginya adalah sedekah baginya sampai hari kiamat. (HR Muslim)


7. Dari Abu Hurairah , Rasulullah bersabda :

Sungguh aku telah melihat seseorang bergelimang nikmat di dalam surga, karena ia telah memotong satu batang pohon dari tengah jalan yang tadinya mengganggu kaum muslimin ( HR Muslim)


8. Dari Abu hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda :

Maukah aku tunjukkan kepadamu hal-hal yang dengannya Allah menghapus dosa dan mengangkat derajat ?
Mereka menjawab : Tentu ya Rasulullah ,
Yakni menyempurnakan wudhu di masa -masa sulit dan banyak melangkah menuju mesjid ( HR Muslim)


9. Apabila seorang hamba itu sakit / musafir , maka ditulis baginya amal perbuatan yang biasa ia lakukan pada waktu ia mukim (tidak bepergian) dan sehat (HR Bukhari)


10. Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda :

" Barangsiapa berangkat menuju mesjid diwaktu pagi atau senja, maka Allah Ta'ala mempersiapkan untuknya hidangan di surga tiap pagi atau senja " (HR Bukhari - Muslim)


11. Dari Abu Hurairah , Rasulullah saw bersabda tentang berbuat baik kepada tetangga :
" Wahai wanita muslimah, janganlah seorang tetangga merasa rendah (atau merendahkan tetangga yang lain ) saat memberi/diberi hadiah tetangganya, meskipun sekedar kikil kambing ( HR Bukari - Musim)


12. Apabila seorang muslim atau mukmin berwudhu , lalu ia membasuh mukanya, maka keluar dari wajahnya semua dosa yang terlihat oleh pandangan matanya bersama tetesan air. Apabila ia membasuh kedua tangannya , maka keluar semua dosa-dosa yang dikrjakan oleh kedua tangannya bersama siraman air. Dan apabila dia membasuh kedua kakinya , maka keluarlah dosa-dosa yang dikerjakan kedua kakinya bersama tetesan terakhir hingga bersih dari dosa. (HR Muslim)

Shalat 5 waktu, Jum'at ke Jum'at dan Ramadhan ke ramadhan adalah penebus dosa-dosa yang terjadi diantara semua , apabila dosa-dosa besar tidak dilakukan ( HR Muslim)


13. Sesungguhnya Allah meridhai seorang hamba apabila ia makan satu makanan dia memuji Nya dan apabila ia minum satu minuman lalu ia memujiNya (HR Mulim)


14. Tatkala ada seorang sahabat ingin pindah rumah dekat mesjid,
Rasulullah SAW berkata :

"Bani Salimah, tetaplah engkau di kampungmu, niscaya tercatat bagimu langkah-langkah kakimu. Sesunguuhnya pada setiap langkah ada peningkatan satu derajat ( HR Muslim)

Dan ketika ada sahabat yang lain lagi berkata : Ya Rasul, saya tidak suka rumah saya disamping mesjid. Sesungguhnya saya ingin perjalanan saya ke mesjid (pulang-pergi) ditulis pahala untukku. Maka Rasul menjawab : Allah telah menggabungkan semua itu untukmu ( HR Muslim). "Sesungguhnya bagimu adalah apa yang kamu cari " (dalam riwayat yg lain)


Subhanallah, Begitu besar kasih sayang Allah bagi hamba-hamba Nya... Lalu , ni'mat Allah manalagikah yang hendak kita dustakan (QS Ar Rahman) ..



Wallahu a'lam bishawab,

Sumber : Kitab Riyadhus Shalihin

ALLAH MEMBERIKAN KEKAYAAN DAN REZEKI SESUAI DENGAN KEADILANNYA


Bismillahirahmanirrahim ..


Sahabat yang dicintai Allah ...

Berikut adalah tafsir surat Asy Syuraa ayat 27 tentang keadilan Allah dalam memberikan rizki dan kekayaan. Semoga bermanfaat...


Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. Asy Syuraa: 27)


Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan,

"Seandainya Allah memberi hamba tersebut rizki lebih dari yang mereka butuh , tentu mereka akan melampaui batas, berlaku berlebih-lebihan satu dan lainnya, serta akan bertingkah sombong.”


Selanjutnya Ibnu Katsir menjelaskan,

“Akan tetapi Allah memberi rizki pada mereka sesuai dengan pilihan-Nya dan Allah selalu melihat manakah yang maslahat untuk mereka. Allah tentu yang lebih mengetahui manakah yang terbaik untuk mereka. Allah-lah yang memberikan kekayaan bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya. Dan Allah-lah yang memberikan kefakiran bagi mereka yang Dia nilai pantas menerimanya.”[1]



Dalam sebuah hadits disebutkan,

إن من عبادى من لا يصلح إيمانه إلا بالغنى ولو أفقرته لكفر، وإن من عبادى من لا يصلح إيمانه إلا الفقر ولو أغنيته لكفر

“Sesungguhnya di antara hamba-Ku, keimanan barulah menjadi baik jika Allah memberikan kekayaan padanya. Seandainya Allah membuat ia miskin, tentu ia akan kufur. Dan di antara hamba-Ku, keimanan barulah baik jika Allah memberikan kemiskinan padanya. Seandainya Allah membuat ia kaya, tentu ia akan kufur”.[2] Hadits ini dinilai dho’if (lemah), namun maknanya adalah shahih karena memiliki dasar shahih dari surat Asy Syuraa ayat 27.



Ada yang Diberi Kekayaan, Namun Bukan Karena Kemuliaan Mereka

Boleh jadi Allah memberikan kekayaan dalam rangka istidroj, yaitu agar semakin membuat seseorang terlena dalam maksiat dan kekufuran. Artinya disebabkan maksiat atau kesyirikan yang ia perbuat, Allah beri ia kekayaan, akhirnya ia pun semakin larut dalam kekayaan tersebut dan membuat ia semakin kufur pada Allah. Ia memang pantas diberi kekayaan, namun karena ia adalah orang yang durhaka. Kekayaan ini diberikan hanya untuk membuat ia semakin terlena dan bukan karena dirinya mulia.



Jadi pemberian kekayaan bukanlah menunjukkan kemuliaan seseorang, namun boleh jadi adalah sebagai istidroj (yaitu untuk semakin menjerumuskannya dalam maksiat). Sebagaimana dapat kita lihat dalam kisah musyrikin Mekkah dalam surat Al Qolam.



Allah subhanahu wa ta’ala mengisahkan,

إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ (17) وَلَا يَسْتَثْنُونَ (18) فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِنْ رَبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ (19)

“Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari. dan mereka tidak menyisihkan (hak fakir miskin), lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur.” (QS. Al Qolam: 17-19), silakan lihat sampai akhir kisah dalam surat tersebut.


Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di menjelaskan,

“Orang-orang yang berdusta ini diuji dengan kebaikan dan harta yang melimpah untuk mereka. Mereka diberikan harta yang begitu banyak, juga diberikan keturunan, umur yang panjang, dan semacamnya yang sesuai dengan kemauan mereka. Dan pemberian ini bukanlah diberikan karena kemuliaan mereka di sisi Allah. Akan tetapi ini adalah istidroj (untuk membuat mereka semakin terlena dalam kekufuran) tanpa mereka sadari.”[3]



Kesimpulan

Allah memberi kekayaan sesuai dengan keadilan Allah, Dan ia pun tahu kondisi terbaik untuk seorang hamba. Namun perlu diketahui, seseorang diberi kekayaan ada dua kemungkinan:

Pertama: Itulah yang Allah takdirkan karena itulah yang pantas untuknya. Jika diberi kefakiran, malah ia akan kufur pada Allah.

Kedua: Boleh jadi juga karena istidroj yaitu membuat seorang hamba semakin terlena dalam maksiat dan kekufuran.



Karena Allah berfirman,

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), maka Allah terus akan memalingkan hati mereka.” (QS. Ash Shof: 5). Kita harusnya mewaspadai kemungkinan yang kedua ini. Jangan-jangan kekayaan yang Allah beri, malah dalam rangka membuat kita semakin larut dalam maksiat, syirik dan kekufuran.


Sehingga jika sudah kita mengerti hal ini, maka kita tidak mesti iri pada orang yang memiliki kekayaan lebih dari kita. Itu memang pantas untuknya, mengapa kita mesti iri? Begitu pula dari penjelasan ini seharusnya semakin membuat kita bersyukur pada Allah atas nikmat harta yang Allah beri. Mensyukurinya adalah dengan memanfaatkannya dalam kebaikan, menjauhi sikap berlebih-lebihan (bermewah-mewahan) dan banyak bersedekah untuk kemaslahatan umat.



Semoga Allah beri taufik dan hidayah.
Sungguh terasa nikmat jika kita dapat terus mengkaji Al Qur’an walaupun sesaat.




Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal


[1] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 12/278, Muassasah Qurthubah.
[2] As Silsilah Adh Dho’ifah no. 1774. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if.
[3] Taisir Al Karimir Rahman, Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, hal. 880, Muassasah Ar Risalah, cetakan pertama tahun 1423 H.




Wallahualam
Barakallahufikum ...

—

HATI , IBARAT MATAHARI DALAM KEHIDUPAN


Rasulullah bersabda :

“Sesungguhnya di dalam diri manusia ada segumpal darah (hati), apabila hati itu baik maka baik pula seluruh diri dan amal perbutan manusia dan apabila hati itu rusak maka rusaklah seluruh diri (amal perbuatan manusia tersebut). Ingatlah,ia adalah hati”.

(Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dari Nu’man IbnBasyir ra).


Hati adalah ibarat cermin, setitik embun pun bisa membuatnya kusam, apalagi debu, kotoran dan air bernoda hitam. Hati yang kotor tidak mampu menangkap cahaya kebenaran. Namun cermin yang jernih, tak hanya berfungsi untuk mengenali diri sendiri, namun juga membimbing pada ruh-ruh kebaikan .


”Hati adalah sumber kedamaian. Hati adalah nikmat Ilahi yang harus dirawat tak ubahnya bayi dalam buaian.


Hati adalah karunia yang harus kita pupuk menjadi sejumput bibit kemenangan. Hati adalah anugerah. Gunjingan, hasad, dendam, kebencian dan permusuhan, seluruhnya adalah menjadikan kotoran.


Hati nan jernih adalah hati yang teduh dan pasrah, hati yang selalu basah oleh dzikir dan kalimat-kalimat pengagungan nan indah.


Hati adalah matahari kehidupan. Mungkin bukan sekedar lentera yang hanya menerangi ruang terbatas, bukan sekedar lilin yang menebar cahaya sementara, untuk kemudian cahaya itu padam tak berbekas.”


Hati ini tak ubahnya istana halimun; sebuah keindahan yang tak tampak, sebuah keagungan yang tak terlihat, namun bisa dirasakan.
Akan tetapi bila hati sudah ternoda dosa, gelembung pahitnya tercicipi setiap kalangan, ibarat santapan di sebuah pesta hidangan.



Hati adalah tempat persinggahan petunjuk Allah yang dipahami melalui ajaran Al-Qur’an.

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (QS 91 : 9-10)


“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya”. (QS Az Zumar : 22-23)



Dengan hati yang bersih , niscaya Hidayah akan semakin bertambah ..

“Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): "Apakah yang dikatakannya tadi?" Mereka itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka. Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya”. (QS Muhammad : 16-17)



Dan Allah mencintai mereka yang bertakwa dan berhati bersih yaitu hati yang selamat (qalbun salim)... seperti di firmankan Allah dalam Al Qur'an surat Al-Fajr 27-30, yang artinya :

"Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku".




Semoga kita tetap istiqomah dan dalam menjaga kebeningan hati ...

LEZATNYA BERDZIKIR


... Ingatlah Allah, niscaya Rabb pun akan Mengingatmu ...


Dzikir itu tak hanya terbatas kepada tasbih (ucapan Subhanallah), tahlil (ucapan la ilaha illallah), tahmid (ucapan alhamdulillah) dan takbir (ucapan Allahu akbar) saja..

Sebagaimana dipaparkan oleh Imam an-Nawawi rahimahullah di kitabnya al-Adzkar, bahwa pengertian dzikir itu luas, mencakup berbagai bentuk ketaatan kepada Allah. Bukan hanya bacaan dzikir atau wirid yang biasa kita kenal… Membaca al-Qur’an, menunaikan sholat, menunaikan perintah dan menjauhi larangan Allah, itu semua tercakup dalam pengertian dzikir…

 

Di dalam Syarah Riyadhus Shalihin Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan, dzikir itu terbagi menjadi 3; 
1. dzikir dengan hati, 
2. dzikir dengan lisan, dan 
3. dzikir dengan anggota badan. 

Yang termasuk dalam dzikir dengan hati seperti dengan merenungkan keagungan nama-nama dan sifat-sifat Allah, menyelami kesempurnaan hukum-hukum dan kebesaran ayat-ayat-Nya. Adapun dzikir dengan lisan sudah sangat kita kenal; semisal membaca tasbih, tahlil, takbir, adzan, membaca al-Qur’an, amar ma’ruf nahi mungkar, membaca hadits, membaca kitab para ulama dan lain-lain.

Lalu, apa yang dimaksud dengan dzikir menggunakan anggota badan? Syaikh Utsaimin menerangkan, maksudnya adalah segala perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah; seperti mendirikan sholat, ruku’, sujud, dan lain sebagainya. Walaupun, memang kebiasaan orang kalau mendengar istilah dzikir maka yang tergambar di benak mereka adalah ucapan tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan yang semacamnya (silahkan buka Syarh Riyadhus Shalihin [3/444])








 

... Ingatlah Allah, niscaya Rabb pun akan Mengingatmu ...


Di antara buah dzikir yang sangat menyenangkan adalah tatkala seorang hamba senantiasa mengingat Allah, maka Allah pun memberikan balasan serupa. Yaitu Allah akan senantiasa mengingat dirinya, membantunya di kala dia membutuhkan bantuan. Allah akan mengampuni dan merahmatinya.


Adakah sesuatu yang lebih menyenangkan dan membahagiakan seorang hamba melebihi curahan ampunan, rahmat, dan pertolongan Allah ta’ala kepada dirinya? Bukankah setiap kali sholat kita terus mengikrarkan, “Hanya kepada-Mu -ya Allah- kami beribadah, dan hanya kepada-Mu, kami meminta pertolongan…”


Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka ingatlah kepada-Ku niscaya Aku pun akan mengingatmu.” (QS. al-Baqarah: 152)


Di dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, dari Said bin Jubair, beliau menafsirkan bahwa maksud ayat ini adalah, “Ingatlah kepada-Ku dengan taat kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat kalian dengan ampunan-Ku.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Dengan rahmat-Ku.”



Muadz bin Jabal pun menandaskan, “Tidaklah anak Adam mengerjakan suatu amalan yang lebih menyelamatkan dirinya dari siksa Allah daripada dzikir kepada Allah.” (lihat: islamweb.net).


Oleh sebab itu dzikir kepada Allah dan menjalani ketaatan merupakan sumber kebahagiaan hakiki. Sebagaimana perkataan Syaikh Abdurrazzaq al-Badr yang masih terngiang-ngiang di telinga kita, bahwa as-sa’aadah bi yadillaah, wa laa tunaalu illa bi thaa’atillah… “Kebahagiaan itu di tangan Allah, dan tak akan bisa diraih kecuali dengan taat kepada Allah.” Betapa indahnya hidup seorang hamba jika hati, lisan dan anggota badannya senantiasa dihiasi dengan dzikir kepada Allah ta’ala…



Allah ta’ala berfirman (yang artinya),
“Barangsiapa yang berpaling dari mengingat-Ku, maka dia akan mendapatkan penghidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkan dia kelak di hari kiamat dalam kondisi buta. Dia berkata, ‘Wahai Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku bisa melihat.’ Allah menjawab, ‘Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami akan tetapi kamu justru melupakannya, maka pada hari ini kamu pula dilupakan.”
(QS. Thaha: 124-126)


‘Balasan serupa dengan amalan‘, itu kata para ulama… Kalau kita ingat Allah, Allah pun akan mengingat kita. Akan tetapi kalau kita justru melupakan-Nya, jangan kaget kalau ternyata di saat-saat kita membutuhkan-Nya –padahal setiap detik kita sangat membutuhkan-Nya– maka Allah pun melupakan kita… Inilah bencana dan musibah terbesar yang akan menghancurkan dunia dan akhirat kita.. (semoga Allah melindungi kita dari segala keburukan .. aamin.)


Betapa ulama bijak berkata, “Dzikir bagi hati, laksana air bagi ikan. Lantas, bagaimana yang terjadi seandainya ikan dikeluarkan dari air?”
 
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan telah bersabda,
“Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak pernah mengingat Rabbnya adalah seperti perbandingan antara orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.” (HR. Bukhari)


___________

Pada hari kiamat nanti, tatkala matahari didekatkan sejarak 1 mil, dan manusia bersimbah peluh, ada di antara mereka yang ditenggelamkan oleh keringatnya sampai lututnya, ada yang sampai pinggangnya, ada yang sampai lehernya, bahkan ada pula yang seluruh tubuhnya ditenggelamkan oleh keringat… karena saking panasnya hari itu… kira-kira siapakah yang bisa memayungi kita selain Allah ta’ala?



Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada saat tiada naungan kecuali naungan-Nya…” Di antaranya, “Seorang hamba yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian, lantas berlinanglah kedua matanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Dzikir merupakan bagian pokok dari syukur. Dzikir yang paling utama adalah yang bersesuaian antara yang diucapkan oleh lisan dengan apa yang ada di dalam hati. Itulah jenis dzikir yang menumbuhkan ma’rifatullah, mahabbah/cinta kepada-Nya dan curahan pahala yang melimpah ruah dari-Nya (lihat Tafsir as-Sa’di, hal. 74)



Ya Allah, wahai Dzat yang menggenggam jiwa kami
Teguhkanlah keimanan kami,
Bantulah kami dalam mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan membaguskan ibadah untuk-Mu … Aamiin Allahu ya Mujib ..


Laa haula wa laa quwwata illa billaah…





Alhamdulillah ala ni'matil islam wal iman
Wallahu a'lam ,

—